Dibaca : 24497 x
KhotbahSabtu, 15 September 2012 2 Tawarikh 1 : 1 - 6 PELAYAN TUHAN SEBAGAI PEMIMPIN UMAT
Khotbah Minggu 16 September 2012.
PELAYAN TUHAN SEBAGAI PEMIMPIN UMAT
( mewujudkan kuasa dan hikmat )
2 Tawarikh 1 : 1 - 6.
--------------------------------------------------
Jemaat yang terkasih dalam Yesus Kristus,
Menjadi pemimpin bukanlah hal sederhana bahkan saat ini kepada kita diperlihatkan para pemimpin yang mengecewakan. Para pemimpin yang tampil dan memiliki jarak yang jauh dengan rakyat. Pemimpin yang hanya mempergunakan rakyat sebagai sarana untuk mencapai kepentingan pribadinya dan bukan kepentingan rakyat. Mereka yang seharusnya hadir menjadi pengayom bagi rakyat justru tampil perkasa sebagai penguasa yang serakah. Rakyat yang hanya dilihat sebagai "angka-angka" konstituen .
Pemimpin dan kuasa adalah 2 hal yang berjalan sejajar dan kuasa yang seharusnya membuat rakyat sejahtera hanya untuk membuat diri pemimpin, keluarga, sahabat dan kerabat menjadi sangat sejahtera. Rakyat sekali lagi berada di posisi yang sisihkan, hanya remah-remah dari meja sang tuan yang didapat. Soal kuasa, menurut Nouwen selalu diperhadapkan dengan 3 godaan yang besar yakni : overuse of power, underuse of power dan paling celaka adalah abuse of power. Ketika godaan ini tidak diantisipasi oleh seorang pemimpin maka sang pemimpin bukan melayani yang dipimpin sebaliknya menjadi dictator, menjadi permisif dan menjadi korup.
Dalam perikop hari ini kepada kita diperlihatkan keberadaan raja Salomo yang semakin kuat pemerintahannya oleh karena campur tangan Allah (ayat 1). Hal ini menjadi awal pemahaman kita bahwa seorang pemimpin sekaliber Salomo tidak terlepas dari keterlibatan Allah. Allah sendirilah yang memberi ruang bagi Salomo untuk hadir sebagai pemimpin bagi umat-Nya. Kesadaran ini penting untuk menghayati bahwa kehadiran sebagai seorang pemimpin memerlukan kerendahan hati untuk mengakui keterlibatan Allah dan sekaligus menyadari tanggung jawab yang diamanatkan oleh Allah. Pemimpin dengan reputasi seperti ini adalah pemimpin yang selalu menjaga keberadaannya sebagai pribadi yang dipimpin oleh Allah sendiri. Dalam konteks demikian kedekatan dengan Allah adalah kedekatan dengan umat yang menuntun umat memahami karya dan keterlibatan Allah secara utuh.
Ayat 1 bacaan ini menunjukkan bahwa Allah mengasihi keluarganya, Allah mengasihi dirinya, Allah memberkatinya dengan HIKMAT dan Allah mendengarkan doanya. Semua ini mengerucut pada diri Salomo dan menunjukkan betapa besar kuasa dan tanggung jawab yang dipercayakan Allah kepadanya.
Dengan kekuasaan yang demikian besar maka yang dilakukan oleh Salomo pertamakali adalah ibadah di Gibeon. Ibadah yang berlangsung dengan megah (seribu korban bakaran) sekaligus menjadi penghubung antara Musa dan Salomo. Melalui ibadah akbar ini Salomo menegaskan kembali kepada umat bahwa ia berada dijalur yang tidak berbeda dengan Musa dan Daud - ayahnya.
Ibadah dan Kuasa.
Dalam peristiwa di Gibeon, Salomo memeprlihatkan kekuasaannya yan juga besar. Persembahan yang diberikan (ayat 6) hendak melegitimasi kekuasaan yang kini dimilikinya. Kuasa yang demikian bukanlah kuasa yang hadir begitu saja secara inhren dalam dirinya tetapi kuasa itu adalah kuasa yang dianugerahkan oleh Allah sendiri.
Dalam konteks ini maka seorang pemimpin dengan kuasa yang besar adalah seorang pemimpin yang beribadah. Pemimpin yang selalu mengakui kedaulatan Allah dalam dirinya. Melalui pemahaman yang demikian maka kehadiran Salomo sekaligus menghadirkan kuasa Allah. Kebesaran kuasa itu tidak menukik pada dirinya sendiri tetapi mengarah pada kepentingan public. Inilah ibadah dan kuasa yang menyatu sebagai karya monumental melalui hadirnya Bait Allah.
Maka pemilihan diaken dan penatua dalam konteks ini merupakan peristiwa gerejawi yang didalamnya perlu dihayati bahwa Allah adalah Allah yang memberi kuasa untuk melayani. Kuasa dan ibadah menjadi 2 hal yang berlangsung sejajar dalam rentang waktu yang dipercayakan oleh Tuhan.
Contoh di Ul. 34 : 11-12 yang menunjukkan bahwa Musa dapat melakukan banyak perbuatan dahsyat atas kehendak Tuhan. Hadirnya para diaken dan pentua dalam konteks ini adalah mereka yang dengan kerendahan hati mengakui kekuasaan Allah didalam Yesus Kristus dan memakai kuasa itu untuk menghantar umat dalam hidup yang berbibadah kepada-Nya.
Pada suasana yang demikian maka kekuasaaan yang dimiliki tidak overuse,underuse apalagi abuse, tetapi kuasa yang menghubungkan keberpihakan Allah kepada setiap orang yang merindukan damai sejahtera. Hadirnya para presbiter sebagai pemimpin umat adalah presbiter yang mendemonstrasikan karya Allah.
Kuasa dan hikmat.
Hikmat bukanlah sebuah intuisi yang bersumber dari tafsiran atas bulan dan bintang. Hikmat adalah ketajaman seseorang dalam memperhatikan masalah dan bagaimana mengatasinya. Hikmat dalam posisi yang demikian adalah hikat yang mengarah kepada public. Hikmat yang bersumber dari takut akan Tuhan dan mengarah kepada banyak pihak. Hikmat bukanlah sesuatu yang hanya mengkristal bagi diri sendiri, tetapi ungkapan hikmat senantiasa berhubungan dengan banyak orang.
Ayat 5 dengan meminta petunjuk Tuhan di Gibeon, maka Salomo dan umat Israel hendak menyatakan bahwa perjalanan hidup kedepan perlu senantiasa diarahkan dan dibimbing oleh Tuhan. Sebagai seorang pemimpin yang memiliki kuasa maka keberadaan Hikmat menjadi penting sebagai pagar untuk menjaga kuasa diberlakukan dengan baik. Hikmat lalu diposisikan sebagai pengarah yang membuat setiap kuasa yang dimiliki menjadi semakin berarti, bermartabat dan berujung pada reputasi yang baik.
Pertanyaan mendasar dalam kapasitas diaken-penatua adalah bagaimanakah hikmat dapat dihayati dan diberlakukan dalam aktifitas pelayanan ? setiap diaken - penatua perlu memiliki hikmat dalam pelayanan yang berawal dari hidup pelayanan yang meminta petunjuk Tuhan. Pelayanan bukan dilaksanakan dengan kehendak sendiri tetapi dalam penagarahan Tuhan. Bagaimanakah hal ini diwujudkan ? dengan cara pelayanan yang selalu terarah kepada public dan bukan melayani diri sendiri. Pelayanan yang selalu berujung kepada memohon petunjuk Tuhan adalah pelayanan yang dipastikan menghadirkan hikmat bag kepentingan jemaat.
Maka hidup kita sebagai pemimpin adalah hidup yang melayani agar seluruh eksistensi pelayanan selalu bermuara kepada kepentingan public dan bukan kepentingan pribadi. Kepentingan Allah dan bukan kepentingan manusia. Inilah pemimpin yang berjiwa melayani. Bongkar kebiasaan lama dalam memimpin dan bangunlah kepemimpinan yang selalu memiliki 2 hal penting yakni pemimpin yang berbibadah dan pemimpin yang memiliki hikmat maka seluruh kehadiran kita selaku pemimpin adalah kehadiran yang selalu melayani.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|