aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 761 x

Khotbah
Jumat, 3 April 2026
Yohanes 10:14-16
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Gagasan tentang Allah yang mengasihi manusia dan diwujudkan dalam karya penebusan Yesus Kristus adalah gagasan tentang Dia yang dari tahta kemuliaan turun memasuki lorong hina manusia yang berdosa (Filipi 2:8). Kemuliaan-Nya ditanggalkan sehingga menjadi sama dengan manusia. Ia selalu bergerak ‘dari atas’ ke ‘bawah’ untuk menjelskan bahwa hadir-Nya adalah hadir dalam pengosongan diri. Teks bacaan ini perlu mendapat perhatian yang utuh sebab frasa Akulah gembala yang baik (ayat 14) merupakan ungkapan yang melawan arus sebab dalam konteks Yahudi saat itu status sebagai gembala adalah hina. Akulah Gembala yang baik dengan segera berbenturan dengan arus pemikiran yang selama ini berlaku yaitu tidak ada gembala yang baik. Kontras pemahaman ini menjelaskan bahwa pernyataan Yesus sebagai Gembala yang baik adalah Ia bergerak turun dari atas supaya manusia memiliki hidup yang berlimpah-limpah (ayat 10b). Hidup yang berlimpah bukanlah hidup yang hanya berorientasi pada ‘mengumpulkan’ dan menempatkan diri sebagai pusat segala sesuatu tetapi hidup yang bermakna bagi sesama. Yesus yang mengajar bahwa Dia adalah pintu (ayat 9), gembala (ayat 11). Pengajaran ini menggelisahkan sebab dengan serta merta menunjukkan bahwa ada perbedaan yang mendasar antara gembala yang baik dengan yang tidak baik. Perbedaan tersebut adalah kesediaan-Nya untuk mengosongkan diri dan kesediaan-Nya memberikan nyawa-Nya.

Dengan garis pembatas yang tegas inilah Yesus menunjukkan bahwa kematian di salib bukan saja menggenapi istilah ‘gembala yang baik’ tetapi sekaligus kematian-Nya di salib menjelaskan bahwa adanya kehidupan yang baru. Relasi antara sang Gembala yang baik dan domba-domba demikian erat sehingga suara sang gembala disambut dengan sukacita. Suara sang gembala adalah suara yang menghidupkan, suara sang gembala adalah suara yang mengubah arah kehidupan. dalam perspektif inilah mendengar dan mengenal saling mengikat. Mendengar dan mengenal bukan lagi ungkapan verbal tetapi tindakan yang nyata. Mendengar dan mengenal adalah relasi yang dilandasi ketaatan dan kesetiaan. Pengajaran yang dikemukakan Yesus memperlihatkan beberapa pesan penting:

1. Yang baik selalu bergerak ke bawah (ayat 14)
Gagasan tentang bergerak ke bawah yang dilakukan Allah adalah gagasan yang menunjukkan bahwa kualitas kehidupan terpenuhi dalam sikap menunduk. Hal berbeda dengan manusia yag selalu bergerak ke atas. Segala sesuatu ke atas sehingga kehadiran manusia yang ke atas adalah kehadiran yang sombong rohani. Manusia yang melayani jika ada keuntungan yang didapat, apakah nama, kedudukan atau materi. Manusia yang berdosa dengan semua sifat yang mematikan kini menjumpai kematian di salib. Jumat Agung menunjukkan bahwa yang mati termasuk sifat-sifat manusia. Ke-aku-an manusia yang disalibkan sehingga peristiwa Jumat Agung menjadi peristiwa yang membawa pembaruan hidup yakni hidup yang tidak lagi ‘mati untuk Tuhan’ tetapi ‘hidup untuk Tuhan’. Jumat Agung bukan saja kisah kematian tetapi kisah keberpihakan Allah pada kehidupan. Yesus yang di salib adalah Yesus melawan tindakan manusia yang suka ‘mematikan’ manusia lain. Manusia yang gemar melakukan penindasan atas dasar pemahaman bahwa diri sendiri adalah manusia suci.
Yang baik selalu bergerak ke bawah untuk menjelaskan bahwa kesediaan untuk ke bawah adalah kesediaan untuk hidup yang bermakna kepada setiap orang. Jumat Agung lalu menjadi bermakna ketika suami-istri dalam gerak yang ‘ke bawah’ dan tidak merasa diri paling hebat dalam keluarga. Keduanya berada dalam relasi yang saling mengetahui dan mengenal. Mengenal bukan saja mengenal secara fisik tetapi keduanya mengenal secara rohani yang ditampilkan dalam kesediaan untuk merendah satu kepada lain. Perjamuan Kudus menjadi peristiwa penting yang menjelaskan bahwa tanpa pertobatan roti dan anggur hanya hiasan/asesoris rohani. Jadi jika kita merasa bahwa kita adalah manusia berdosa maka perjamuan kudus ini sungguh bernilai. Perjamuan kudus ini tidak untuk manusia yang mau bergerak ke atas mengejar popularitas atau posisi atau kuasa. Perjamuan kudus ini untuk setiap manusia yang mengakui bahwa dosanya yang merah akan menjadi putih oleh pengampunan.

2. Gembala yang baik merengkuh setiap domba (ayat 16)
Dewasa ini gagasan tentang dosa tidak lagi menakutkan sebab berbuat dosa menjadi hal yang biasa. Dosa yang berujung pada maut telah menjadi sahabat setiap hari sehingga tak lagi nampak rasa takut. Tindakan berdosa bisa terlihat tetapi yang paling mematikan adalah dosa yang disembunyikan dalam hati. Salah satunya adalah dosa pembatasan. Aku adalah orang suci dan lainnya adalah pendosa. Ini adalah gaya hidup yang membuat batasan kuat tetapi Gembala baik selalu melampaui batasan. Ada domba di sini tetapi ada juga domba yang lain. Semuanya dituntun untuk menjadi satu kawanan yang utuh dengan satu Gembala. Inilah tipikal gembala yang tegas terhadap dosa namun mengasihi orang berdosa. Gembala seperti ini adalah gembala yang tidak populis-memakai semua cara untuk kelihatan terhormat. Gembala yang pelayanannya menjadi suatu keisitimewaan. Jumat Ahung sebagai persitiwa yang menjelaskan bahwa batas itu dilampaui oleh Allah. Yesus Kristus yang tersalib adalah Dia meniadakan jurang pemisah. Gembala yang baik itu menunjukkan bahwa sifat membeda-bedakan manusia adalah sifat yang ditentang oleh peristiwa salib. Semua yang duduk di meja perjamuan tidak dalam perbedaan dan itulah tandanya bahwa setiap orang yang diselamatkan oleh peristiwa Yesus yang tersalib adalah satu kawanan. Kita tidak dalam posisi membeda-bedakan sesama sebab sesama adalah sama di hadapan mata Tuhan.

Sahabt-sahabat terkasih
Dengan demikian kita mensyukuri bahwa Jumat Agung menunjukkan kita semua yang berbeda dipersatukan oleh kematian-Nya. Jumat Agung lalu menunjukkan bahwa hidup bagi Kristus adalah hidup yang bernilai. Maka perjamuan kudus disambut dengan kebersihan hati. Maju terus bersama Tuhan yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Minggu 11 Januari 2026
GIDEON: RELASI ALLAH DAN UMAT

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518