aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 641 x

Khotbah
Minggu 15 Februari 2026
2 Korintus 8:1-7)
SPIRITUALITAS MEMBERI

SPIRITUALITAS MEMBERI
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Keistimewaan yang dimiliki oleh manusia ialah ia menyadari bahwa dirinya adalah manusia dan mampu bertindak sesuai dengan kesadaran tersebut. Binatang tidak sadar bahwa dia binatang dan hanya bergerak berdasarkan insting. Beda dengan manusia yang mampu berpikir tajam tentang dirinya sendiri. Manusia yang menyadari bahwa dirinya adalah manusia dan bertindak sebagai manusia disebut sebagai manusia reflektif. Manusia yang reflektif adalah manusia yang memikirkan apa tindakan selanjutnya setelah pra-reflektif. Misalnya manusia melihat awan gelap di langit (pra reflektif) maka manusia mengambil payung (reflektif). Dalam konteks inilah maka surat 2 Korintus adalah surat yang dikirimkan Paulus dengan harapan menggugah kembali keasadaran jemaat di Korintus untuk membantu jemaat di Yerusalem. Paulus menjelaskan bahwa jemaat di Korintus perlu tahu tentang jemaat di Makedonia. Jemaat Makedonia dalam Alkitab adalah kelompok gereja mula-mula di provinsi Romawi Makedonia (seperti Filipi, Tesalonika, dan Berea) yang didirikan Paulus pada perjalanan misi keduanya. Mereka dikenal karena kemurahan hati luar biasa meskipun dalam kemiskinan dan penderitaan, bahkan memberi melampaui kemampuan untuk mendukung pelayanan Paulus. Ketika manusia mampu untuk bersikap reflektif maka di titik itu ia menempatkan manusia lainnya sebagai subyek dan bukan obyek. Kekacauan dalam kehidupan dewasa ini sering diakibatkan oleh kekacauan berpikir yang tidak runut. Artinya ketika manusia menyadari bahwa hidupnya menjadi bernilai dalam posisi subyek-subyek dengan manusia lainnya dan bukan subyek-obyek sebab subyek-obyek sebab dapat memperlakukan obyek dengan sesuka hati, janji yang tidak ditepati, bersikap impulsive dan destruktif. Subyek-obyek membuat manusia seolah dapat menentukan obyek di luar dirinya sebagai pemenuhan subyektifitasnya. Inilah cara berpikir yang tidak didasarkan pada kesadaran bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang istimewa dan keistimewaan manusia bukan bersumber dari dirinya sendiri tetapi bersumber dari anugerah Allah (grace). Jemaat di Makedonia adalah contoh yang ditampilkan oleh Paulus untuk memunculkan kesadaran reflektif jemaat di Korintus. Paulus menyatakan bahwa jemaat di Makedonia mampu menampilkan kualitas kehadiran mereka yang merdeka dalam hal keuangan. Jemaat di Makedonia memahami betul kondisi mereka dan mereka tidak bergerak dengan insting tetapi sebagai hasil berpikir reflektif.
Jika demikian apakah yang dapat kita pelajari dari kisah ini?

1. Memberi Sebagai Hasil Reflektif (ayat 1-5)
Rasul Paulus menunjukkan bahwa jemaat di Makedonia merenungkan dengan serius anugerah Allah. Anugerah Allah tidak dipahami hanya sebagai informasi tetapi anugerah Allah dihayati sebagai tindakan Allah yang mendorong umat untuk bertindak dalam pemahaman ‘melanjutkan anugerah Allah’. Artinya dengan menunjukkan keteladanan di Makedonia, Paulus menjelaskan bahwa memberi bukan soal pertimbangan untung-rugi tetapi memberi sebagai hasil merenungkan anugerah Allah yang sudah meresap dalam kehidupan. Dengan memahami anugerah Allah yang menyelamatkan mereka maka jemaat di Makedonia tidak berdiam diri ketika mendengar kesusahan jemaat di Yerusalem, mereka mendesak Paulus untuk bisa terlibat. Jemaat Makedonia menunjukkan apa artinya kemurahan hati (generosity). Kemurahan hati yang bersumber dari pengetahuan dan penghayatan anugerah Allah sehingga memberi tidak dalam semangat subyek-obyek tetapi subyek-subyek inilah pemberian yang muncul dari sikap reflektif. Manusia yang menyadari besarnya kasih karunia yang dialami adalah manusia yang menyatakan kehidupan yang membuat dirinya dapat berdiri dan bermegah (Roma5:2).
Paulus menjelaskan bahwa dalam kasih karunia yang melimpah itulah jemaat di Makedonia mampu bersyukur, bersukacita dan rendah hati. Demikianlah hendaknya jemaat Korintus juga demikian. Hal ini diwujudkan melalui kesadaran reflektif, kesadaran sebagai hasil renungan dalam berujung pada melihat sesama sebagai subyek dan bukan obyek. Mempelakukan sesama sebagai obyek adalah merendahkan kemanusiaan sesama sebab kemanusiaan hanya dihitung dengan uang. Diakonia bukan subyek-obyek, pelayanan bukan subyek-obyek, termasuk persembahan uang bukan soal subyek-obyek. Sebab apakah yang bisa kita berikan kepada Allah yang punya segala sesuatu? Jadi memberi bukanlah dalam pikiran akan berkurang tetapi memberi bertolak kesadaran bahwa ‘…malah berkelebihan dalam pelbagai kebajikan (2 Kor. 9:8b) Pikirkan itu dan bacalah Amsal 11:24.
Bagi kita dewasa ini hendak dikemukakan bahwa kita harus merdeka dalam memanfatkan uang sehingga hati kita tidak melekat pada uang. “Apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya” – Mazmur 62:10. Semakin bertambah harta kita semakin reflektif bahwa semua adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Maka memiliki kesadaran reflektif tentang uang menolong kita untuk memahami bahwa: uang bisa dipakai sebagai sarana pelayanan kepada sesama, uang bukanlah jerat tetapi cinta uang (Ài qián) adalah jerat yang berbahaya.

2. Kaya Dalam Pelayanan Kasih (ayat 6-7)
Paulus hendak menunjukkan kepada jemaat di Korintus yang memang adalah jemaat yang kaya (pengetahuan, uang dan kesungguhan untuk membantu) namun harus bermuara pada pelayanan kasih. Prinsip dalam pelayanan kasih adalah melakukan tindakan pelayanan kasih dengan sukarela, sukacita, murah hati, dengan antusias, dan penuh pengorbanan. Pelayanan kasih bukan karena seseorang mampu melakukannya tetapi seseorang yang reflektif dalam menanggapi tindakan Allah. Paulus tidak memberi tahu jemaat Korintus BERAPA BANYAK yang harus mereka berikan. Ia mengatakan dalam ayat 3 bahwa mereka memberi dengan sukarela. Mereka tidak dipaksa, mereka tidak memberi untuk mendapatkan sesuatu. Mereka tidak memberi karena rasa bersalah. Mereka tidak memberi karena penginjil televisi mengatakan mereka akan menjadi kaya dengan melakukannya. Mereka memberi dengan sukarela.
Dengan pemahaman demikian maka jemaat di Korintus perlu untuk melihat keberadaan diri mereka bahwa apapun yang mereka miliki hendaknya bermanfaat untuk sesama. Jemaat di Korintus menjadi jemaat yang menghayati bahwa sekalipun mereka kaya mereka bisa saja miskin dalam pelayanan kasih. Mereka perlu memahami bahwa pelayanan kasih mereka bukan akan membuat mereka semakin kaya tetapi membuat jemaat Korintus semakin berkualitas sebab tidak terikat pada harta yang mereka miliki tetapi sepenuhnya terikat kepada Yesus. Orang bisa saja memberi uang bagi pelayanan tetapi hanya mereka yang terikat pada Yesus akan memberi sambil mengakui bahwa Ia sungguh tak ternilai.
Maka bagi kita saat ini hendak dikemukakan bahwa pelayanan kasih adalah pelayanan yang dilakukan dengan spirit merdeka oleh anugerah Allah. Pelayanan kasih menjadi tindakan yang bertolak dari sikap reflektif bahwa peduli bagi sesama yang membutuhkan adalah kepedulian yang bersumber dari anugerah Allah. Maka marilah kita semakin kaya dalam kebajikan sebab kebajikan tidak ditentukan oleh seberapa besar kekayaan kita tetapi kebajikan dapat membuat segala yang kita miliki menjadi bernilai.

Sahabat-sahabat yang terkasih
Demikianlah tindakn reflektif kita akan memunculkan kebajikan (generous) yang berujung pada pelayanan kasih akan membuat kita semakin kaya dalam segala hal. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 11 Januari 2026
GIDEON: RELASI ALLAH DAN UMAT

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518