aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 783 x

Khotbah
Minggu, 19 April 2026
Kejadian 37:1-11
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

IRI HATI MEMADAMKAN KASIH
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Salah satu dosa diantara 7 dosa yang mematikan adalah IRI HATI. ‘the seven deadly sins’ adalah dosa-dosa yang menjadi inang, induk dari dosa-dosa yang lain. Dosa sebagai pemberontakan kepada Allah adalah aktifitas yang nampak ‘diluar’ sementara 7 dosa mematikan ini bergerak dari dalam hati. Misalnya pengajaran Yesus di Bukit Matius 5: 27-28 yang menunjukkan bahwa Yesus membongkar hal yang lebih mendasar yakni dihati. Iri hati yang muncul dengan ciri khas ‘komparasi’ dan ‘kompetisi’ merupakan hal buruk yang dapat merusak diri dan relasi. Iri hati menjadi dosa yang tersembunyi dalam hati dan berakar kuat untuk pada waktunya muncul dalam tindakan mematikan (seperti kisah Kain-Habel). Jadi iri hati merupakan dosa yang memungkinkan dosa lainnya muncul sebagai tindakan, dan hari ini bacaan kita memberi pengajaran mengenai hal tersebut. Salah satu sasaran iri hati adalah dengan orang terdekat yakni anggota keluarga dan inilah yang terjadi dalam keluarga Yakub. Sikap Yakub kepada Yusuf telah menumbuhkan iri hati saudara-saudara yang lain. Yakub telah hadir dengan pola membeda-bedakan perhatian kepada anak-anak. Pada titik inilah benih-benih iri hati yang ditabur dapat tumbuh dengan subur dalam kehidupan anak-anak. Semakin didiamkan semakin suburlah iri hati (perhatikan ayat 11) dan menghadirkan kawan dekatnya yakni tindakan jahat.(ayat 18). Jadi jangan bermain-main dengan iri hati yang seolah hal sederhana namun sangat merusak. Melalui pembacaan hari ini kita belajar bahwa:

1. Iri hati, pembandingan yang keliru (ayat 1-4)
Relasi dalam keluarga Yakub mengalami perubahan ketika Yakub memberi jubah terbaik kepada Yusuf. Tindakan ini telah memunculkan kebencian yang bersumber dari iri hati sebab melihat bahwa Yusuf mendapat berkat sementara mereka tidak. Pembandingan ini menunjukkan bahwa menghitung berkat orang lain menjadi perhatian utama. Dengan memperhatikan berkat orang lain muncul kebencian yang tidak diketahui orang lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa benih iri hati tumbuh subur karena ‘ilmu membandingkan yang salah’.
Rasa iri karena melihat keadaan orang lain yang lebih baik dan membandingkannya dengan keadaan sendiri adalah pemicunya. Menurut Reza Wattimena (Filsuf Indonesia): Selain amarah dan takut, iri hati juga mengandung kesedihan, begitu kata Rofl Haubl, peneliti dari Universitas Frankfurt. Orang merasa sedih, karena orang lain lebih berhasil daripada dirinya. Jadi rasa iri yang dimulai dari wilayah keluarga ‘a small town sins’ kata Soren Kierkegaard. Rasa iri dengan pembandingan yang keliru bertumpu pada 2 hal penting yakni: hilangnya rasa cukup dan hilangnya rasa syukur. Rasa iri kemudian hadir dan membinasakan dan karena itu bertentangan dengan kasih yang menghidupkan. Hidup tanpa kasih adalah hidup yang tidak bermakna dan iri hati dapat menjadi penyakit yang mengakar kedalam diri dan merusak.
Maka pembelajaran penting yang harus diperhatikan ialah menyadari bahwa iri hati dapat menjangkiti semua orang tanpa kecuali. Iri hati sesaat bisa muncul dan harus disadari agar dapat disingkirkan dari hati. Untuk itulah diperlukan hati yang selalu bersyukur atas setiap pengalaman dengan karya Allah di dalam Yesus Kristus. Sikap yang tepat untuk mengatasi iri hati adalah rasa cukup dan bersyukur. Inilah yang membentuk benteng tangguh untuk menata kehidupan yang lebih baik. Menghitung keberhasilan orang lain dan iri terhadap apa yang dimiliki orang lain sementara orang lain tidak tahu bahwa dia adalah sasaran iri hati maka dapat dikemukakan betapa jahatnya cara kerja iri hati.

Waspadai hal ini dengan selalu bersyukur mencermati beragam keadaan. Jikalau saat ini ada dalam persoalan maka arahkan seluruh hidup kepada Dia yang sudah bangkit sehingga sekalipun lorong persoalan terasa gelap namun selalu hadir Cahaya pengharapan yang tidak mengecewakan (Roma 5:5)

2. Kompetisi yang merusak (ayat 5-11)
Dengan menceritakan mimpinya Yusus sedang membangun kompetisi yang merusak dengan saudaranya. Menceritakan mimpi sekaligus menjelaskan betapa sombongnya Yusuf terhadap saudara dan orangtuanya. Sebuah model kebenaran yang tidak bijaksana dikemukakan sehingga menimbulkan kompetisi yang tidak sehat. Yusuf yang menceritakan mimpinya adalah Yusuf yang tidak mempertimbangkan akibat dari kisah mimpi tersebut. Mimpi itu memang adalah berkat bagi Yusuf dan keluarga Yakub namun ketika diceritakan tanpa hikmat akan menimbulkan kompetisi yang merusak. Saya lebih diberkati dari yang lain dan ini menjurus pada kesombongan. Dalam kompetisi yang merusak hidup tidak lagi penuh kasih tetapi penuh kisah yang memilukan. "Tidak ada yang menajamkan penglihatan seperti iri hati." - Thomas Fuller sebab penglihatan yang tajam diarahkan kepada orang lain dan tumpul melihat diri sendiri. Kompetisi ini merusak terutama jika orang yang diiri semakin hari semakin baik hidupnya. Semakin baik keadaannya.
Maka pengajaran penting yang perlu terus dijaga adalah hidup dalam kewajaran, kisah keberhasilan dan berkat yang dialami hendaknya dengan bijak diceritakan. Keberhasilan adalah bahasa yang jauh lebih keras daripada kata-kata. Tetaplah diam sebab dalam diam kita diarahkan untuk terus belajar dari mendengar. Yesus yang bangkit adalah Yesus yang menyuruh murid-murid-Nya ke Galilea. Sebuah gerak kembali titik NOL sebuah gerak yang menunjukkan betapa pentingnya kehidupan yang diwarnai KASIH. Sebab kasih selalu punya tujuan, punya arah dan itulah kehidupan.

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Jika yang pertama iri hati mengarah keluar maka yang kedua adalah iri hati karena tidak arif. Marilah kita mewarisi kesediaan untuk tetap bersyukur sebab dengan bersyukur kita mengendalikan iri hati yang mungkin muncul dalam hati. Maju bterus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan Tuhan jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Minggu 11 Januari 2026
GIDEON: RELASI ALLAH DAN UMAT

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518