Dibaca : 15716 x
KhotbahRabu 31 Desember 2025 Mazmur 126:1-6 ZIARAH PENGAKUAN UMAT TENTANG CINTA DAN AIR MATA
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Nyanyian ziarah umat adalah nyanyian iman yang bertolak dari pengalaman yang kongkrit bahwa pergumulan dialami oleh umat dan karya Allah yang membebaskan. Nyanyian ziarah bukan saja penting bagi umat untuk mempertajam memory kolektif mereka sebab umat bisa saja dengan mudah melupakan karya Allah. Pengalaman umat di pembuangan Babel menghadirkan pertanyaan mendasar mengapa sebagai umat Allah mereka tercerabut dari tanah perjanjian. Mereka bukan umat ‘biasa’ sebab mereka meyakini diri sebagai umat Allah dan kapasitas sebagai umat Allah tentu tidak boleh mengalami kesulitan, tentu harus selalu ada dalam kondisi yang baik. Bukankah ini gagasan yang berlaku umum? Namun ketika realitas berkata lain dan kenyataan memunculkan pertanyaan di tengah kegelisahan pada saat itulah beriman kepada Allah merupakan perjuangan tersendiri. Allah seolah berdiri jauh dari keadaan sulit yang dialami oleh umat. Pada titik inilah Mazmur 126 memberi sebuah pengajaran yang fundamental bahwa Allah juga hadir di tengah-tengah gelapnya persoalan dan pergumulan sebagaimana dikemukakan oleh Pierre Teilhard de Chardin (filsuf Perancis dari ordo Jesuit) ‘kita bukanlah manusia yang memiliki pengalaman spiritual, kita adalah mahluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia’.
Pernyataan ini dengan jelas menunjukkan bahwa sikap umat yang gelisah dengan pertanyaan yang prinsipil adalah umat yang jujur dengan dirinya sendiri dan jujur di hadapan Allah. Sebagai umat yang mengemukakan pergumulan mereka di hadapan Allah maka mereka tiba pada pengakuan bahwa Allah terlibat dalam pemulihan. Bertolak dari Mazmur 126:1-6 kita dapat belajar bahwa:
1. Allah adalah Allah yang berdaulat atas kehidupan umat-Nya (ayat 1-4)
Kata pemulihan dalam ayat 1 dan 4 dipararelkan dengan perbuatan besar di ayat 2 dan 3 untuk menunjukkan bahwa pemulihan adalah perbuatan Allah yang besar dan sebaliknya perbuatan Allah yang besar adalah memulihkan.
Pengakuan pada pemulihan artinya mengakui perbuatan besar dan sebaliknya. Maka umat yang berziarah adalah umat yang mengingat, umat yang berziarah adalah umat yang mempertajam hidup spiritualitas mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Allah yang memulihkan bukan saja berkaitan dengan ritual peribadahan namun berkaitan dengan spiritualitas setiap hari. Pengalaman pemulihan yang dilami oleh umat seperti orang yang bermimpi (ayat 1) apakah juga menjadi pengalaman kita saat ini? Bisa saja kita belum mengalami pemulihan apapun. Keluarga kita masih bergumul dengan beragam persoalan, atau masalah ekonomi masih menjadi persoalan setiap hari sampai hari ini. Atau hidup masih diperhadapkan pada kebencian yang terus dirawat. Mungkin dari kita sudah ada yang mengalami pemulihan dalam keluarga, tetapi mungkin juga pemulihan belum terjadi.
Maka firman Tuhan ini menolong kita untuk memahami bahwa segala yang kita alami bukan berarti Allah meninggalkan kita tetapi Allah kita adalah Allah yang tetap setia menyertai kita di segala keadaan. Dengan melihat pada Yesus kita dapat mengerti bahwa Allah bukan Allah baik kalau kita kalau kita dalam keadaan baik sebab Ia tetap Allah yang baik sekalipun keadaan kita tidak baik. Dengan mengarahkan pandangan kepada Yesus kita dapat tiba pada ungkapan syukur (ayat 2). Jangan pernah ragukan penyertaan Allah dalam kehidupan kita sebab Ia berdaulat penuh, Ia menjumpai kita dan menjadi sahabat kita hingga kini. Hal itu berarti urusan Allah dengan kita belum selesai sebab Ia terus mencari kita bagaikan air yang selalu mencari celah untuk mengalir (band. Ayat 4 כעפיקאים- kaapiqim-stream-aliran sungai kecil). Maka hari ini kita diundang untuk kembali menyatakan kesaksian bahwa Allah sudah menyertai sampai sekarang dan seterusnya sehingga kita tidak akan melupakan Allah dalam kehidupan kita.
2. Allah adalah Allah yang turut menangis bersama umat-Nya (ayat 5-6)
Spiritualitas airmata adalah gagasan yang bertentangan dengan budaya yang mengagungkan keperkasaan. Khalil Gibran bahkan mengemukakan bahwa cinta yang dibasuh air mata akan tetap murni dan indah senantiasa. Cinta yang ditaburi air mata akan menjadi cinta yang bersih dan terlepas dari lekatan debu congkak, iri, cemburu. Semua debu yang menempel pada relasi unik Allah dan umat-Nya dibasuh oleh air mata cinta sehingga tetap agung. Gagasan tentang cinta dan air mata inilah yang mewarnai pengalaman hidup umat sebab keadaan sulit yang dialami bukanlah karena berkurangnya kadar cinta Allah sebab kualitas cinta Allah tidak berkurang hanya karena kesulitan yang kita alami. Allah tahu persis bagaimana masa depan kita sehingga hasil akhir yang penuh sukacita sesungguhnya tidak terlepas dari cinta Allah yang mendalam. Ketika Yesus menangis (Yoh.11:35) pada saat itulah Allah menangis. Jadi kalau kita saat ini menangis ingatlah bahwa air mata kita bukan tanda pupusnya harapan, sebaliknya itulah tanda hubungan yang semakin erat dengan Tuhan. Bahkan di Mazmur 56:9 dikatakan Tuhan menampung air mata kita ketika sengsara menghampiri. Dalam konteks bacaan kita saat ini air mata itu bukan tanda kelemahan tetapi tanda kekuatan untuk terus berjuang. Kekuatan untuk terus mewujudkan panggilan dan pengutusan sekalipun ada kelelahan namun kelelahan bukan tanda putus asa. Dalam pengajaran inilah kita bisa belajar tentang cinta Allah yang mendalam. Kalau cinta itu dibuatkan puisi kira-kira begini:Wahai manusia dimanakah kau simpan cintaku, siapakah yang begitu kuat merenggutmu dariku. Lupakah engkau pada deritaku yang mencitaimu tanpa batas?
Sahabat-sahabat terkasih
Maka kita tutup tahun 2025 dengan mengakui bahwa cinta Allah yang besar telah menolong kita selama ini. Cinta-Nya tidak berkurang sekalipun kita mengalami derita, letakkan cinta-Nya dalam hati kita dan air mata akan selalu membuat kita bersyukur bahwa Allah dan umat-Nya selalu ada dalam ikatan cinta.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tahun 2025 tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|