Dibaca : 15928 x
KhotbahMinggu 26 Oktober 2025 Markus 1:1-8 PELAYAN BUKAN SUKARELAWAN
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Dunia dengan paham kapitalisme-produktif adalah dunia yang mengutamakan fungsi. Keutamaan fungsi selalu berkaitan dengan hasil berkaitan dengan profit dan berkaitan dengan keuntungan material. Dunia yang menekankan fungsi adalah dunia yang tidak lagi mengedepankan NILAI. Akibatnya nilai menjadi berarti kalau fungsi berhasil. Inilah pendekatan yang menurut Gabriel Marcel adalah pendekatan fungsi dan bukan nilai. Jadi orang bisa berhasil artinya berfungsi tetapi hasil dari korupsi dianggap biasa.
Teks bacaan kita saat ini memperlihatkan bagaimana Markus mengemukakan pentingnya INJIL yang tidak sekedar kabar tetapi sekaligus hadir sebagai Manusia bernama Yesus. Kehadiran Injil bukan saja sebagai fungsi tetapi sekaligus inil itu mengususng nilai kebenaran. Kehadiran Injil secara demikian menunjukkan bahwa Injil tidak bersifat kapitalisme – untung rugi. Injil tidak hadir dengan kuasa untuk menguntungkan diri sebaliknya Injil hadir dengan semangat kabar baik bagai banyak orang. Dan Markus mengemukakan bahwa siapapun yang diutus untuk memberitakan Injil adalah utusan yang mengenal diri sendiri. setiap pemberita Injil adalah pribadi yang memasuki kenyataan baru bahwa materi bukan satu-satunya berita Injil sehingga ukuran kabar sukacita adalah ukuran fungsi dan bukan nilai.
Maka injil itupun diberitakan oleh sang pelayan dengan komitmen tinggi sebab melayani pemberitaan Injil perlu siap mendapat respon yang tidak sesuai. Kabar baik yang diberitakan bisa mengahsilkan respon kabar tidak baik. Namun seorang pelayan bukanlah seorang relawan sebab relawan bisa melayani sesuai dorongan hatinya sendiri. Relawan melayani dalam bentuk reaktif dan seorang relawan tidak memiliki ikatan. Dalam konteks pelayanan gereja para pelayan bukan saja bicara tentang pencapaian tetapi soal reputasi. Maka pengajaran yang hendak dikemukakan ialah:
1. Nilai sebuah pengutusan (ayat 1-4)
Jika pengutusan yang bernilai hendak dicapai maka hal penting yang patut dihayati ialah m..enjadi seorang utusan bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah sebab seorang utusan tidak bertindak atas kewenangannya tetapi kewenangan yang mengutus. Seorang utusan bagaimanapun memiliki nilai lebih sebab ia dipercaya melakukan tugas yang diamanatkan kepadanya. Menjadi seorang utusan memang memerlukan sikap mental yang kokoh dan kuat sebab yang akan dihadapi adalah kenyataan yang tidak selalu menyenangkan. Penolakan dari mereka yang membenci berita yang diusung adalah hal yang biasa ditemui oleh setipa utusan.
Maka nilai sebuah pengutusan adalah reputasi atau nama baik. Sang utusan hendaknya hadir dengan semangat yang demikian yakni menjaga reputasinya sebagai manusia yang diselamatkan. Maka setiap utusan tidak boleh berpikir harus lebih besar dari sang pengutus tetapi keduanya memiliki relasi. Artinya pengutusan gereja harus disadari sebagai bagian kecil dari karya Allah yang besar. Siapapun yang Bersiap diutus sebagai pemimpin adalah pribadi yang harus dibebaskan dari pengaruh kasualitas dan transaksional. Maka Nilai pengutusan yang membebaskan dan memerdekakan adalah kesadaran bahwa diri diutus memberitakan kabar baik dan bukan kabar buruk.
2. Sang Utusan Dengan Realitas yang berbeda (ayat 4-8)
Yohanes pembaptis yang diutus untuk mempersiapkan jalan adalah adalah Yohanes pembaptis yang mengenal siapa dirinya (ayat 7: membuka tali kasutpun aku tidak layak). Inilah tipikal utusan yang tidak pernah ragu dengan jalan hidupnya.
Inilah seorang utusan yang mengenal siapa dirinya. Dengan pemahaman demikian maka pengutusan bukan saja soal keberhasilan tetapi soal airmata kebahagiaan mengalami damai sejahtera. Maka menjadi utusan perlu memperhatikan hal demikian:
- Jangan berporos pada paham kasualitas sebab Allah melakukan panggilan dan pengutusan yang bukan hasil transaksional.
- Jangan berporos pada kuantitas saja tetapi sekaligus haru kualitas.
Dengan demikian diperlukan sebuah pertobatan, diperlukan perubahan diri secara holistic. Maka hadirnya persekutuan yang tidak saja bicara fungsi tetapi juga bicara nilai hendak dikemukakan bahwa semua orang adalah pelayan Tuhan yang diutus memberitakan INJIL
Sahabat-sahabat terkasih
Dengan pemahaman yang demikian seorang pemimpin yang diutus adalah seorang pelayan dan bukan sukarelawan. Komitmen terhadap pengutusan berawal dari pertobatan sebab Allah kita adalah Allah yang adil dalam kasih dan kasih dalam keadilan-Nya.
Maka marilah membangun kualitas diri yang tidak terpatahkan oleh berbagai peristiwa namun tetapi hadir secara positif. Maka pelayanan yang didasari pertobatan adalah pelayanan yang berkenan kepada-Nya. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|