Dibaca : 15702 x
KhotbahMinggu, 28 September 2025 Lukas 16: 19-31 MENJEMBATANI KEKAYAAN DAN KEMISKINAN
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Pengajaran Yesus melalui perumpamaan ini hendak menunjukkan bagaimana hidup yang dijalani secara bertanggungjawab. Hidup yang demikian bertumpu pada kesadaran bahwa nilai tertinggi dalam hidup adalah relasi dengan Allah. Relasi yang demikian adalah relasi yang senantiasa bertolak dari kesadaran bahwa segala sesuatu yang dimiliki hanya berarti ketika perjumpaan dengan sesama adalah perjumpaan yang memanusiakan. Kisah Lazarus dan orang kaya harus dilihat secara keseluruhan dalam perspektif ayat 14. Mereka yang memiliki dan tidak memiliki adalah tampilan tentang ‘penampilan’ dan bukan perbedaan tentang relasi. Itulah sebabnya sebuah ungkapan ‘you only live once, but if do it right once is enough’ bisa menjadi undangan untuk menelisik diri sendiri. Apakah kehidupanku adalah kehidupan yang sungguh berarti bagiku dan sesama menjadi titik tolak untuk memahami arti hidup itu sendiri. Di sinilah perumpaan Lazarus dan orang kaya memberi petunjuk yang bermakna. Orang miskin itu bernama Lazarus sedangkan orang kaya itu tidak disebut namanya. Orang miskin itu berbaring dekat pintu untuk memperlihatkan jarak yang dekat antara keduanya. Namun jarak yang dekat ini tidak mengubah cara pandang orang kaya yang tidak bernama. Mereka dekat tetapi sebenarnya ada jurang pemisah, mereka dekat tetapi sebenarnya mereka jauh. Di sinilah pengajaran Yesus menjadi penting sebab bukan soal punya (have) atau tidak punya (have not) tetapi soal relasi.
Jika demikian apakah pengajaran yang Yesus hendak kemukakan?
1. Kaya atau miskin keduanya pasti mati (ayat 22)
Di akhir kehidupan kaya atau miskin tidak lagi memiliki perbedaan. Kehidupan bisa saja menampilkan kondisi yang berbeda tetapi kematian menimpa baik orang kaya maupun miskin. 1 Tim 6: 7 memberi pengertian bahwa ketika kematian menjumpai manusia maka segala yang dimilikinya akan ditinggalkan. Itulah sebabnya baik orang kaya maupun miskin perlu untuk terus mewaspadai kehidupan dengan baik yakni bersandar penuh kepada Allah. Perumpaan ini juga menunjukkan bahwa hidup keagamaan bukan saja berkaitan dengan ritus yang dilakukan tetapi berkaitan juga bagaimana hidup memiliki kepekaan terhadap sesame. Lazarus yang miskin didekat pintu rumah menunjukkan bahwa orang kaya kehilangan pandangannya dari sesama. Hidup yang penuh dengan sukaria dengan pakaian yang mewah (flexing) menjadi perilaku yang tidak dilandasi dengan kepekaan terhadap sesame. Di sinilah Yesus menujukkan inti pengajaran bahwa bersandar pada materi bukanlah jalan hidup yang benar tetapi mengarahkan pandangan kepada-Nya Adalah pilihan yang menghidupkan. Dewasa ini kita juga dihadapkan dengan perilaku sebagaimana orang kaya yang tidak bernama (berilah nama kita). Orang kaya yang menempatkan materi sebagai jaminan bagi hidupnya merupakan kebodohan. Dalam teologi Lukas yang menunjukkan peran Allah Sejarah umat hebdak dikemukakan bahwa Allah Adalah Allah yang berdaulat atas kehidupan dan kematian. Maka mengabaikan Allah dalam kehidupan dan mengandalkan kekayaan adalah pilihan yang keliru. Satu-satunya kekayaan yang manusia simpan selamanya adalah kekayaan dalam pemberian (kemurahan hati). Pengajaran Yesus ini tidak juga menunjukkan bahwa kemiskinan adalah keutamaan dalam hidup. Semakin miskin seseorang semakin tinggi tingkat kerohaniannya (lihatlah Amsal 30:7-9).
Maka punya atau tidak punya, kaya atau miskin bukanlah syarat untuk berada dalam dekapan Tuhan tetapi baik kaya atau miskin keduanya diperhatikan oleh Allah.
2. Pertobatan hanya pada waktu hidup (ayat 30-31)
Perumpamaan Yesus memperlihatkan sisi ironisnya bahwa seseorang bertobat justru setelah kematian adalah pertobatan yang sia-sia. Pertobatan adalah pertobatan pada waktu hidup sehingga pemulihan dapat berlangsung. Seringkali pertobatan datangnya terlambat dan pertobatan hanya terjadi jika manusia mengakui keberdosaannya, mengakui kegagalannya untuk berbuat baik, mengakui bahwa Allah adalah Allah yang setia (1 Yoh. 1:9). Pertobatan yang dikemukakan dalam perumpamaan ini sungguh terlambat sekalipun memiliki niat yang baik yakni agar saudara-saudara yang lain dapat diselamatkan. Orang kaya yang tidak bernama (bisa diberi nama kita) adalah dia gagal dalam kehidupan dan gagal juga pada kematian disebabkan oleh dangkalnya kepedulian. Pertobatan pada waktu masih hidup akan memberi ruang kemerdekaan maka pergunakanlah waktu hidup ini dengan serius dan tidak berlangsung ‘auto pilot’, semuanya berlangsung rutin tanpa makna. Sehingga kesetiaan pada hal-hal kecil menjadi unsur pembeda dalam menjalani kehidupan. Tidak yang spetakuler tetapi berlangsung dalam keseharian.
Inilah pertobatan yang bermakna bukanlah pertobatan pada saat ibadah saja tetapi pertobatan yang mewarnai hidup keseharian. Amos 6: 1 memperlihatkan bahwa kehidupan yang tidak diwarnai dengan pertobatan adalah hidup yang celaka. Hidup yang merasa nyaman dan tentram dengan segala kemewahan semuanya semu. Inilah yang disebut sebagai ‘bebalisme’ yakni, sikap keras kepala, menolak nasihat-nasihat baik dan sulit menerima apa yang adil dan benar untuk semua. ‘Bebalisme’ memperlihatkan betapa dalamnya keringnya kehidupan dan betapa besarnya kebutuhan untuk bertobat.
Sahabat-sahabat terkasih
Melalui perumpamaan ini hendak dikemukakan bagi kita semua bahwa hidup secara bertanggungjawab mutlak diperlukan. Kesadaran bahwa hidup kita telah ditebus dengan harga yang mahal menghadirkan sikap peduli pada mutu kehidupan kita. Kebaikan pada sesama bukan saja menjadi kebaikan untuk sesame tetapi sekaligus menunjukkan bahwa diri kita juga pantas melakukan hal yang baik. Maka hiduplah dengan kesadaran penuh seperti ini bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukan dalam memiliki tetapi dalam memberi dan tidak dipengaruhi oleh kekayaan. Inilah ciri peradaban modern, kata Heidegger. Manusia hanya mampu berpikir teknis untuk mengembangkan hidup, supaya lebih mudah. Namun, pemikiran yang lebih mendalam tentang kehidupan tidak berkembang, dan cenderung untuk ditakuti. Di titik inilah gereja hadir untuk menyuarakan pengajaran-Nya dalam kehidupa setiap hari sehingga tidak menjadi gereja yang ‘flexing’ tetapi menjadi persekutuan yang selalu mensyukuri kebaikan Tuhan dalam keadaan kita yang beragam. Yesus mengasihi semua orang bukan karena miskin atau kaya tetapi eksistensinya adalah kasih.
Maju terus Bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan Tuhan jerih Lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|