Dibaca : 15770 x
KhotbahMinggu, 07 September 2025 1 Korintus 1:4-9 ALASAN MENGUCAP SYUKUR
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Mengucap syukur secara mendasar adalah menguatnya sebuah relasi sebab mengucap syukur selalu melibatkan pihak lain. Mengucap syukur tidak saja berkaitan dengan kemampuan logika sebab didalamnya bertautan soal hati dan rasa. Jadi mengucap syukur yang benar selalu berhubungan dengan keutuhan seseorang sebab jika mengucap syukur hanya soal logika maka ungkapan syukur tidak memiliki makna yang berarti. Di sisi lain mengucap syukur dapat juga hadir dan Paulus mengawali dengan menyatakan bahwa ketika jemaat Korintus muncul di benaknya, hal pertama yang terlintas di benaknya adalah bersyukur kepada Tuhan atas mereka. Ia melakukannya "senantiasa", yang berarti secara teratur dan terus-menerus. Ia mengungkapkan bahwa ia sungguh bersyukur kepada Tuhan atas orang-orang yang telah menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya. Selanjutnya, Paulus menjelaskan mengapa ia begitu bersyukur kepada mereka. Pertama, ia bersyukur karena mereka telah menerima kasih karunia dari Allah dalam Kristus Yesus. Dengan kata lain, Allah telah menerima mereka ke dalam keluarga-Nya dan memberi mereka tempat bersama-Nya dalam kekekalan karena mereka datang kepada-Nya melalui iman di dalam Kristus.
Rasul Paulus mengemukakan bahwa ungkapan syukurnya bukanlah sekedar pujian tetapi lebih daripada itu adalah nasihat bagi jemaat di Korintus dengan beragam persoalan. Ada masalah yang dapat memecah persekutuan jemaat (ayat 10 dst), ada pola hidup perselisihan (pasal 3:1 dst). Ada masalah percabulan (pasal 6: 12 dst). Seluruh kenyataan ini tidak mengurangi rasa syukur Paulus kepada Tuhan, sebuah ungkapan yang lahir dari kesadaran bahwa anugerah Allah telah memungkinkan jemaat Korintus berada dalam posisi yang baru. Maka alasan mengucap syukur dalam konteks ini adalah undangan untuk introspeksi diri berkaitan dengan anugerah Allah didalam Yesus Kristus.
1. Didalam Yesus Umat Mengalami Perubahan Posisi (ayat 4-6)
Jika Paulus senantiasa mengucap syukur maka hal ini memperlihatkan sikap Paulus tidak berubah, berlangsung terus. Mengucap syukur tidak terjadi dalam situasi tertentu (situasional) tetapi menjadi ‘gaya hidup Kristiani’ sebab hadir dengan pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus (Filipi 2:5). Hal ini menunjukkan bahwa mengucap syukur diwujudkan bukan karena mendapat sesuatu tetapi mengucap syukur tumbuh dari kesadaran bahwa dalam anugerah-Nya umat berada dalam relasi yang baru, umat mengalami rekonsialiasi dengan Allah atau lebih tepatnya Allah mengambil inisiatif menjumpai manusia. Maka setiap umat diundang untuk retrospeksi (kontemplasi) memikirkan peristiwa dimasa lalu dan menajamkan nilai dari peristiwa tersebut ke masa kini. Jika introspeksi adalah peninjauan terhadap diri sendiri untuk memeriksa pikiran, perasaan, dan motif internal, serta mengoreksi perbuatan, sikap, kelemahan, dan kesalahan diri. Sementara itu, retrospeksi (atau refleksi diri) adalah perenungan terhadap pengalaman-pengalaman di masa lalu untuk mengambil pembelajaran dan mengubah sudut pandang diri menjadi lebih baik. Biasa disebut dengan kontemplasi.
Jadi alasan mengucap syukur yang pertama ialah manusia mengalami anugerah Allah karena ditebusnya dengan harga yang mahal. Setiap orang percaya dituntun untuk memahami bahwa mengucap syukur bukanlah perkara sederhana sebab membutuhkan introspeksi dan restrospeksi. Paulus menunjukkan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan permasalah dalam jemaat tidaklah menggangu ungkapan syukur.
Alasan inilah yang akan membuat ungkapan syukur menjadi bernilai sebab tidak hanya pada waktu dan peristiwa tertentu tetapi dalam seluruh aspek kehidupa yang dijalani. Maka orangtua maupun pemuda dapat melakukan hal yang sama mengucap syukur karena anugerah Allah telah membuka babak baru dalam kehidupan. Anugerah Allah telah menghadirkan kenyataan yang baru sebagai umat yang kaya dalam segala hal (ayat 5). Baik kita maupun jemaat Korintus tidak layak menerima anugerah sebesar itu. Kita justru telah menerima yang sebaliknya melalui dosa-dosa kita, dan dalam banyak hal, kita terus gagal memenuhi kebaikan yang telah Allah berikan kepada kita. Paulus sangat bersyukur atas kasih karunia yang telah mereka terima, meskipun mereka terus gagal melakukan apa yang benar dalam beberapa hal penting. Hal ini berarti umat yang bersyukur karena pengetahuan yang dimilikinya sehingga setiap perkataan adalah kata-kata yang berpengetahuan, yang arif, yang berhikmat (band. Amsal 1:7).
2. Mengucap Syukur Yang Berpengaharapan (ayat 7-9)
Mengucap syukur kepada Allah didasarkan juga pada pemahaman bahwa umat merawat kehidupan beriman mereka sampai saat Yesus kembali. Mengucap syukur dengan pola demikian adalah mengucap syukur dalam kepastian pengharapan. Jadi mengucap syukur bukan saja untuk apa yang sudah dialami tetapi bahkan belum dialami. Mengucap syukur seperti ini membutuhkan kedalaman kontemplasi sebab kita dikelilingi oleh banyak suara. Suara kekerasan, suara penjarahan, suara kejahatan. Umat bisa saja dikelilingi oleh suara-suara demikian namun jangan pernah kehilangan pengharapan. Sebab pada harapan itulah ungkapan syukur menemukan pondasi yang kuat. Pengharapan pada Allah yang setia adalah pengharapan yang diberlakukan juga dalam kesetiaan. Mengucap syukur dalam bentuk demikian adalah mengucap syukur yang tidak tertuju pada apa yang terlihat tetapi juga tidak terlihat. Inilah mengucap syukur yang memberi perspektif baru tentang kehidupan.
Maka pengajaran yang utama ketika kita hidup di dunia yang putus asa, dunia yang kehilangan relasi persahabatan, mengucap syukurlah sebab anugerah Allah selalu memungkinkan kita tidak ditawan tetapi sebaliknya kita ditawan oleh pengharapan.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasih
Melalui pengajaran yang demikianlah maka hidup menjadi bermakna karena bersyukur, bukan saja karena mendapat sesuatu tetapi karena anugerah Allah dan pengharapan menjadi alasan yang jelas dan kuat. Maju terus bersama Tuhan yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|