aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 15837 x

Khotbah
Minggu 11 Mei 2025
Kejadian 47:1-7
GEREJA: MELANGKAH DENGAN IMAN

GEREJA: MELANGKAH DENGAN IMAN
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi

Gereja adalah gereja yang selalu mengalami tarik menarik antara dua hal yakni Gereja yang MENETAP dan Gereja yang Melangkah. Gereja yang dihadapkan pada dua kenyataan ini memungkinkan gereja selalu memikirkan hadirnya secara baik. Artinya gereja selalu menghayati perannya sebagai kawan sekerja Allah yang setia. Gereja yang melangkah atau melintas adalah gereja yang mengakar pada panggilan utamanya memberitakan damai sejahtera. Untuk itulah selalu diperlukan kesediaan untuk terus membarui makna yang kontekstual.

Di sisi lain iman bukanlah soal rasa tetapi soal rasa kagum pada karya Allah yang dilanjutkan dengan merawat serta mewujudkannya dalam keseharian. Iman tidak sekedar percaya tetapi lebih dari itu adalah mempercayakan diri. Maka gereja yang beriman adalah gereja yang mempercayakan dirinya pada Yesus Kristus. gereja yang beriman kepada Yesus adalah gereja yang terus melangkah sebagaimana Yesus yang terus melangkah selama masa pelayanan-Nya. Maka jika gereja adalah geraja yang beriman kepada Yesus maka gereja tidak bisa hanya berdiam diri tetapi harus melangkah. Di sinilah istilah ‘Ecclesia Reformata Semper Reformanda yang berarti Gereja reformasi adalah gereja yang selalu mereformasi diri �" “the reformed church [must] always be reformed” dilengkapi dengan pemahaman ‘ecclesia reformata semper peregrinatio yang artinya gereja reformasi adalah gereja yang selalu berziarah (melangkah). Dalam konteks inilah kita mendapat pengajaran indah melalui kisah Kejadian 47: 1-7. Kisah yang menunjukkan bahwa perjalanan hidup bisa demikian luar biasa dialami oleh Yusuf maupun Yakub. Pada Kejadian 45: 7-8 dikemukakan bagaimana Yusuf memberi makna baru dari tindakan saudara-saudaranya yang menjual. Yusuf menunjukkan bahwa perjalanan hidupnya memang tidak mudah tetapi didalamnya Allah selalu bertindak memperbaruinya. Demikian Yakub yang harus melarikan diri Esau dengan semua peristiwa yang dialami Yakub di Pniel (Penim:wajah, El: Allah) Kejadian 32:31. Maka Kejadian 47: 1-7 memberi pengajaran demikian:



1. Gosyen Hanya Sementara (ayat 1-4)

Yusuf yang kini berkuasa di Mesir karena berjasa bagi Firaun adalah Yusuf yang menghimpun kembali keluarganya. Yusuf adalah penguasa yang memberi makna baru bagi Yakub dan anak-anak lainnya yakni sebagai pribadi yang melangkah ke Mesir dengan harapan berjumpa Yusuf dan mengatasi kelaparan. Namun mereka semua dikumpulkan di Gosyen sudatu daerah yang baik, tempat yang subur. Namun perkataan saudara-saudara Yusuf ‘kami sebagai pendatang’ mejelaskan bahwa Gosyen bukanlah tempat mereka selamanya. Jika hadir sebagai pendatang maka mereka tidak akan memberontak, mereka tidak akan melawan, Gosyen memang tempat subur, memang tempat yang indah tetapi Gosyen bukanlah tujuan akhir. Tujuan akhir adalah Tanah Perjanjian (Kej. 28: 15) maka kehadiran Yakub di Mesir bukanlah ancaman bagi Mesir. Jawaban Yakub di Kejadian 47:9 semakin menegaskan posisi Yakub sebagai pengembara. Bukankah ini adalah pesan bagi gereja agar memahami bahwa kehadiran kita hanya sebagai peziarah yang melangkah dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Kita tidak sungguh-sungguh menetap karena keberadaan kita di dunia bukanlah untuk berakhir di dunia (Yohanes 17:15-17, Filipi 3:20-21). Pemahaman ini menjelaskan bahwa gereja harus terus melangkah/melintas dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Artinya gereja yang melangkah adalah gereja yang tidak diam di zona nyaman tetapi menjadi gereja yang mau berjumpa dengan banyak orang.

Tidak menjadi gereja yang asing tetapi gereja yang bersahabt bagi sesama. Gereja harus hadir dengan semangat bahwa gereja bukanlah ancaman dan tidak perlu ditakuti. Sebaliknya gereja selalu mengingat bahwa tujuan akhir hidupnya adalah bersama Yesus. Itulah kita semua yang dalam khazanah Jawa, falsafah "Urip iku mung mampir ngombe" mengandung makna bahwa hidup ini bersifat sementara. Seperti hanya mampir sejenak untuk minum. Maka di waktu yang Tuhan anugerahkan inilah kita menyadari kesementaraan kita. Menyadari bahwa kita tidak menetap, kita hanya pendatang maka kita harus bersedia untuk terus melangkah sebab itulah identitas kita.



2. Pahitnya Hidup Adalah Pengalaman Berharga (ayat 5-7)

Yakub yang disebut sebagai Israel adalah pribadi yang mengalami perubahan setelah meliaht wajah Allah di Yabok. Yakub adalah pribadi dengan perjalanan hidup yang beragam. Salah satu hal yang menyedihkan adalah ketika Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya sehingga ketika mereka bercerita tentang perjumpaan dengan Yusuf, hal itu tidak mengubah keadaan Yakub (Kejadian 45:26). Di usia ke 130 tahun namun dilihat sebagai hidup yang singkat namun dalam getirnya kehidupan Yakub dapat memohon berkat Tuhan kepada Firaun. Pengalaman hidup turut membentuk seseorang menjadi pribadi yang semakina matang dan Yakub masih hidup 17 tahun lagi sampai usia 147 tahun dan meninggal. Yakub sebagai pribadi yang tidak sempurna namun mengalami pembaruan adalah Yakub yang kaya karena mengakui kehadirannya menjadi berarti karena berjumap dengan Allah. Peristiwa suka maupun duka adalah peristiwa penting bahwa penyertaan Allah tidak berubah. Namun memohon berkat Allah bagi sesama adalah tindakan yang berbeda. Memohon berkat Allah bagi sesama adalah kehadiran yang berkualitas. Sebagai gereja kita ada dalam dunia tapi bukan dari dunia maka janganlah hidup dengan cara-cara dunia. Iman kepada Yesus sebagaimana dikemukakan Paulus ‘sebab hidup kami ini adalah hidup berdasarkan iman bukan berdasarkan apa yang kelihatan’ (2 Korintus 5:7). Maka selaku warga gereja kitapun terus melangkah dengan iman sekalipun pengalaman pahit menjadi bagian dari kehidupan. Kita bisa saja ada dalam ketidakpastian namun mengimani penyertaan Allah dalam Tuhan Yesus adalah hal penting. Seperti Yusuf yang dijual atau seperti Yakub yang berubah di Sungai Yabok menjadi hal mendasar. Sebagai gereja yang tidak mengarahkan pandangan kepada Tuhan maka seluruh langkah-langkah kita menjadi berarti. Ini menjadi perenungan bagi kita semua tentang usia. Apakah di usia ini kita semakin mengalami pembaruan? Apakah pengalaman kita yang sangat berpengaruh?



Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi

Melangkah bersama Tuhan memang bukan hal mudah tetapi melangkah bersama Tuhan selalu menjadi berkat bagi sesama. Mengimani perjalanan hidup kita di tengah tantangan dan persoalan adalah perjalanan hidup yang bernilai tinggi. Karena itu teruslah melangkah. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan Tuhan jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518