Dibaca : 15940 x
KhotbahMinggu, 04 Mei 2025 Matius 9: 27-31 GEREJA: MILIKI IMAN
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Berada dalam keadaan buta tentu terbatas namun pada masa Yesus keadaan jauh lebih buruk. Mereka yang buta tidak hanya lumpuh secara fisik dan ekonomi mereka bahkan lumpuh dalam peribadahan (Imamat 21: 17-18), mereka yang buta memang harus dilindungi sehingga dikatakan dalam Ulangan 27:18, terkutuklah orang yang membawa seorang buta kejalan yang sesat. Semua ini menunjukkan bahwa kebutaan memang rentan untuk mengalami kejahatan, memang rentan untuk diabaikan. Mereka yang buta bukan saja harus berjuang dalam keterbatasan mereka namun lebihg dari itu mereka tidak bisa mendekat kepada Allah. Mereka yang buta tidak saja buta tetapi mereka juga lumpuh dalam aspek ekonomi, sosial dan keagamaan. Gambaran tentang mereka yang buta sering dipakai juga sebagai gambaran ‘buta rohani’. Semua tentang kebutaan menunjukkan adanya kondisi yang menantang keadaan penuh pergumulan. Maka hadirnya dua orang buta yang berseru kepada Yesus adalah sebuah keunikan, kenapa? Sebab kehadiran mereka yang buta matanya menjadi pembeda untuk orang banyak yang mata tidak buta tetapi hati buta, pikiran buta. Alkitab terkadang menggunakan kebutaan fisik sebagai metafora untuk menggambarkan kebutaan rohani (Yesaya 42:19; Matius 23:17, 19, 24, 26; Yohanes 9:39-41; Roma 2:19; 2 Petrus 1:9). Mereka yang banyak itu kini dihadapkan pada dua orang buta yang sejatinya tidak buta. Mereka memang tidak bisa membawa persembahan ke Bait Allah tetapi mereka mempersembahkan diri mereka kepada Allah melalui Yesus Kristus. ‘Ungkapan kasihanilah aku’ adalah ungkapan yang berkesinambungan, terus menerus berlangsung. Mereka berseru kepada Yesus untuk menunjukkan bahwa mata mereka buta tetapi hati dan pikiran mereka tidak buta. Sekalipun Yesus tidak dengan serta merta memenuhi kehendak mereka, Yesus tetap berjalan menuju sebuah rumah (ayat 28) dan dalam perjumpaan di rumah adalah perjumpaan yang mengubah keberadaan mereka. Hal utama yang dikemukakan bahwa masalah yang penting bukan soal kebutaan tetapi soal IMAN.
Seruan orang buta tentang Yesus Anak Daud adalah istilah yang penting sebab dibalik istilah ini terkandung harapan besar dimasa depan. Dua orang buta ini menyatakan identitas Yesus secara terbuka sebagai Mesias yang dijanjikan. Ini adalah momen penting dalam Injil Matius. Matius memberi tahu kita bahwa Yesus adalah Mesias dan putra Daud sejak kalimat pertama kisahnya (Matius 1:1). Para malaikat menegaskan hal ini kepada Yusuf, suami Maria, dalam sebuah mimpi (Matius 1:20). Orang-orang majus dari timur datang untuk menyembah Raja orang Yahudi mengikuti bintang misterius yang menuntun mereka ke Betlehem, kota Daud, tempat Yesus dilahirkan (Matius 2:1-10). Maka pertanyaan Yesus ‘percayakah kamu’ (ayat 28a) adalah pertanyaan menantang bagi banyak orang. Peristiwa dua orang buta sekaligus menunjukkan bahwa telah terjadi peristiwa besar yang membuat setiap orang percaya dapat kembali menemukan hidup yang bermartabat, hidup yang utuh dan penuh. Jika demikian maka pengajaran penting yang dikemukakan adalah:
1. Mata Bisa Buta Tetapi Iman Tetap Melihat (ayat 27-28)
Agustinus pernah mengemukakan bahwa Iman adalah percaya melihat apa yang tidak terlihat dan upahnya adalah melihat apa yang dipercaya. Ungkapan ini menunjukkan bahwa iman memang percaya pada apa yang tidak terlihat. Iman yang percaya pada apa yang dilihat bukanlah iman. Maka penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus diawali dengan pertanyaan ‘apakah kamu percaya?’ ini bukan soal percaya pada tindak Yesus tetapi yang terutama adalah percaya pada Yesus. Percaya pada Yesus menjadi utama sebab percaya pada Yesus bukan berarti segala sesuatu terpenuhi. Percaya kepada Yesus yang sanggup melakukan tindakan besar adalah hal mendasar sehingga baik hal besar maupun hal kecil semuanya bertumpu pada percaya kepada Yesus. Dalam konteks ini percaya kepada Yesus yang sanggup melakukan karya kehidupan adalah pengakuan bahwa manusia memerlukan-Nya. Iman kepada Yesus adalah iman karena pendengaran (Roma 10:17) sehingga sekalipun mata mereka buta tetapi mata hati tidak buta.
Dalam hal inilah selaku persekutuan umat Tuhan atau Gereja, kita semua diarahkan untuk memahami betapa pentingnya iman kepada Yesus. Beriman kepada Yesus nampak sederhana tetapi sebenarnya bukanlah perkara mudah. Beriman kepada Yesus yang tidak lagi disertai kalkulasi untung rugi tetapi beriman pada Yesus adalah kesediaan untuk terus meyakini tindakan-Nya yang bahkan tidak terlihat. Beriman kepada Yesus adalah adalah beriman secara utuh sebagaimana dikemukakan demikian oleh Gabriel Marcel (seorang pemikir dari Perancis), hidup yang utuh dan penuh selalu didasarkan pada tiga aspek penting yakni: ADMIRATION (kekaguman), REFLECTION (refleksi), dan EKSPLORATION (penjelajahan atau pencarian untuk menemukan sesuatu). Kagum pada bagaimana Allah bertindak dalam kehidupan kemudian disambut dengan menghayatinya lalu menjadi sumber kekuatan untuk menjalani kehidupan anugerah-Nya adalah puncak dari kehidupan Kristiani. Kehidupan yang tidak hingar bingar suara hati dan pikiran yang bisa menyesatkan tetapi dengan mengambil jarak dengan setiap peristiwa memungkinkan setiap murid Yesus tidak terjebak dengan pengaruh atau ragi yang membusukan adonan.
2. Jadilah Seperti Yang Kamu Percayai (ayat 29-31)
Pada bagian ini Yesus menunjukkan bahwa apa yang kamu percaya menentukan apa yang akan dilakukan. Percaya pada Yesus bukan perkara mudah sebab kelihatannya baik tetapi yang terjadi adalah penolakan pada perintah-Nya (ayat 30-31). Kelihatan baik tetapi sejatinya adalah menolak untuk menuruti-Nya. Maka jadilah seperti apa yang kamu percayai tidaklah berarti pada penyembuhan mata saja tetapi percaya kepada Yesus sepenuhnya. Gereja yang sepenuhnya percaya kepada Yesus, beriman pada Yesus harus selalu mempertanyakan pertanyaan reflektif ini. Apakah gereja sudah mengikuti-Nya atau melakukan apa yang menurut kita baik sehingga bukan kita yang ikut Tuhan tetapi sebaliknya Tuhan yang ikut kita.
Jadilah seperti yang kamu percayai adalah undangan tetapi sekaligus tantangan bahwa selaku gereja yang terus memberitakan kabar sukacita maka diperlukan ketaatan kepada Kepala Gereja, percaya kepada Yesus Kristus.
Jadilah seperti yang kamu percayai adalah pernyataan bahwa semua yang baik memang bertumpu pada kesediaan untuk terus bertumbuh. Percaya kepada Yesus sekaligus adalah percaya pada perubahan diri yang semakin mendewasakan, semakin mencerdaskan. Gereja yang beriman adalah gereja yang menerima pembaruan bukan gereja yang sekedar sibuk dengan aktifitas tetapi tidak sibuk dengan membangun makna pelayanan. Jadilah seperti yang kamu percayai adalah berita yang menyegarkan bahwa jika yang kita percayai adalah Yesus maka yang baik akan selalu dinyatakan. Kebaikan yang dialami adalah kebaikan bahkan di tengah pergumulan, di tengah persoalan. Maka hadirlah dengan hati dan pikiran yang baik sebab yang baik itulah yang terwujud.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|