Dibaca : 15996 x
KhotbahMinggu, 02 Maret 2025 Matius 17:1-8 DENGARKANLAH DIA
 <div align="justify"><font size="7" face="Arial, Sans-Serif">Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,</font></div><div align="justify"><font face="Arial, Sans-Serif"><br><br><font size="7">
Peristiwa transfigurasi menjadi penting karena Yesus yang mengalami transfigurasi adalah Yesus menyatakan bahwa karya keselamatan yang diemban-Nya akan mengahdirkan perubahan hidup yang mendasar. </font></font></div><div align="justify"><font face="Arial, Sans-Serif"><font size="7"><br></font></font></div><div align="justify"><font face="Arial, Sans-Serif"><font size="7">Transfigurasi menjadi penting untuk menyatakan bahwa perhatian utama bukan pada bagaimana peristiwa itu terjadi (how) tetapi mengapa peristiwa transfigurasi itu terjadi (why). Jika para murid hanya terpesona pada keindahan peristiwa transfigurasi maka makna peristiwa tersebut menjadi tumpul. Jika para murid hanya terpesona bahkan bahagia dengan pristiwa transfigurasi maka mereka tidak akan melihat dengan jelas TUJUAN KEHADIRAN Yesus. Maka penting untuk selalu mewaspadai setiap peristiwa dan menempatkan setiap peristiwa dalam konteksnya. Transfigurasi Yesus sekaligus menjelaskan bahwa Ia adalah Anak Allah, Ia pelaku karya keselamatan yang dialami manusia, Ia adalah Allah yang menjangkau manusia dalam seluruh keberadaan yang rapuh, yang berdosa, yang mengarah pada kebinasaan. Yesus yang berubah rupa adalah Yesus yang menunjukkan kualitas kehadiran-Nya yang berbeda dengan Farisi dan Saduki (Matius 16: 6 dan 12). Jika Farisi tampil dengan gaya hidup hipokrit (berpegang pada hukum dan sekaligus yang melanggar hukum) serta Saduki yang tidak percaya pada kebangkitan orang mati, maka transfigurasi Yesus meruntuhkan semua ajaran dan gaya hidup tersebut. Yesus yang dimuliakan di Gunung Tabor adalah Yesus yang akan direndahkan dan dihina di Golgota. Yesus yang dimuliakan sekaligus adalah Yesus menjangkau kehinaan manusia. </font></font></div><div align="justify"><font face="Arial, Sans-Serif"><font size="7"><br></font></font></div><div align="justify"><font face="Arial, Sans-Serif"><font size="7">Pengakuan Petrus tentang Yesus (Matius 16:16) adalah penegasan bahwa Yesus tidak sama dengan Farisi dan Saduki namun sekaligus Petrus menolak penderitaan yang dialami Yesus (Matius 16: 21-22). Maka pengajaran penting yang hendak dikemukakan adalah demikian:</font><br><br><font size="7">
<b>1. Peristiwa transfigurasi Yesus adalah peristiwa yang menunjukkan bahwa kematian tidak dapat menghadang kemuliaan didalam Yesus (ayat 1-4). </b></font></font></div>
<div align="justify"><font size="7" face="Arial, Sans-Serif">Pernyataan Petrus bahwa keadaan ini sungguh baik menunjukkan bahwa Petrus tidak paham tentang maksud dan tujuan kehadiran Yesus. Murid-murid yang terpesona pada percakapan Yesus dengan Musa dan Elia adalah para murid yang merasa beruntung sehingga berpikir untuk terus mempertahankan keberuntungan mereka. Disitulah letak kegagalan mereka memahami peristiwa transfigurasi Yesus. Maka peristiwa ini hendak menjalskan bahwa setiap orang percaya diundang memasuki relasi yang indah bersama Yesus dan keindahan relasi dengan Yesus bukan saat bahagia saja, tetapi kualitas relasi dengan Yesus justru ditampilkan juga dalam penderitaan. Kemuliaan dan penederitaan Yesus adalah penting untuk diperhatikan sebab bukankah dewasa ini sikap Petrus sangat popular. Memeluk suasana menyenangkan dan menganggap bahwa hanya mereka yang pantas (ayat 4). Pengajaran ini penting sebab apa yang dipercakapkan oleh Musa dan Elia dengan Yesus justru sebaliknya (Lukas 9:31-berbicara tentang kepergian-Nya ke Yerusalem) soal penderitaan. Maka melalui peristiwa ini kita mendapat kepastian bahwa hidup bisa tidak bersahabat, keadaan bisa saja menantang, pergumulan bisa saja mendera tetapi hidup bersama Yesus akan selalu menghadirkan kemuliaan sebagai kesaksian. <br></font></div><div align="justify"><font size="7" face="Arial, Sans-Serif"><br></font></div><div align="justify"><font size="7" face="Arial, Sans-Serif">
Memang hidup yang selaras dengan kehendak-Nya tidak mudah karena hidup yang demikian juga berhadapan dengan pergumulan. Semua norang punya pergumulan, tetapi dengan siapa pergumulan itu kita hadapi adalah unur pembeda yang utama. Semua orang punya masalah tetapi dengan siapa masalah itu diatasi menjadi unsur penentu. Maka kita diundang memasuki Minggu pra Paskah (mulai Rabu Abu) untuk menghayati dengan sungguh-sungguh bahwa hidup yang memantulkan kemuliaan Tuhan bukan saja pada saat bahagia tetapi juga saat pergumulan mendera. <br></font>
<font size="7" face="Arial, Sans-Serif"><br>
<b>2. Mendengar sekaligus Berdiam (ayat 5-8)</b><br>
Ketakutan para murid adalah ketakutan yang didasarkan pada tradisi yang berlaku bahwa kemuliaan Allah mematikan. Keluaran 33:20, Yesaya 6:5. Awan terang yang melingkupi mereka semua sehingga para murid berpikir bahwa kematian menjadi kenyataan. Mereka berdosa dan tidak pantas berada dalam awan terang yang menunjukkan kehadiran Allah. Pernyataan ‘dengarkanlah Dia’ untuk menjelaskan bahwa suara Allah berbeda dari suara manusia, bahwa suara Allah dapat berbicara dengan segala cara. Bahwa suara Allah bisa hadir tanpa suara. Inilah keindahan ‘silent and listen’. Berdiam untuk mendengar suara Allah, diam untuk meresapi suara-Nya yakni suara yang menghidupkan sekalipun pergumulan dapat mematikan. Suara dari tengah-tengah situasi sulit, suara Allah dari tengah keadaan pergumulan. Suara yang memungkinkan hidup sangat bernilai sehingga sekalipun tidak bersuara, suara-Nya dapat kita dengar. Di sinilah perlunya berdiam untuk mendengar apakah suara yang disampaikan bagi kita ketika keadaan tidak baik? Suara seperti itulah yang akan meneduhkan sebab suara-Nya bukan suara provokatif, bukan suara demonic, bukan suara kematian tetapi suara kehidupan. SILENT IS LISTEN. Suara yang harus selalu didengar dari setiap peristiwa adalah ‘berdirilah, jangan takut (ayat 6). Jangan tersungkur oleh pergumulan sekalipun kejahatan demikian perkasa. Jangan pernah tergeletak oleh kuatnya pergumulan tetapi berdirilah. Jatuh …namun tidak tergeletak. Inilah suara yang hanya bisa didengar dalam diam. <br></font>
<font size="7" face="Arial, Sans-Serif"><br>
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,<br>
Maka peristiwa transfigurasi menjadi peristiwa penting bahwa hidup kita bukan diawan-awan tetapi turun berjumpa dengan relaitas. Kenyataan ini menolong kita bahwa kemuliaan Tuhan dapat kita pantulkan dalam keseharian kita (<i>quotidiant quotion</i>). Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan Tuhan jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin <br></font></div><div align="justify"><font size="7" face="Arial, Sans-Serif"><br></font></div><div align="justify"><font size="7" face="Arial, Sans-Serif"><br></font></div><div align="justify"><font size="7" face="Arial, Sans-Serif"><br></font>
</div>

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|