aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 16248 x

Khotbah
Minggu, 15 Desember 2024
Yesaya 53:1-2
SUKACITA PEMULIHAN

SUKACITA PEMULIHAN
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Pengenalan diri menjadi sangat penting di tengh gelora kehidupan yang lebih mengarahkan pandangan pada orang lain. Pengenalan diri demikian penting sehingga kecepatan dalam segala bentuk yang reaktif dapat menjadi lebih lambat sekalipun kata lambat kurang disukai di era modern. Namun paling tidak melalui pengenalan seseorang dimungkinkan lebih lambat dalam memberi tanggapan atas segala peristiwa yang terjadi.

Minggu ini kita berada di Minggu Gaudete, Minggu Advent sukacita. Di minggu sukacita ini hendak dikemukakan bahwa sukacita menjadi milik masa depan sekaligus hadir dimasa kini. Kenapa? Sebab sukacita tidak didasari dengan pemhaman bahwa manusia mendapat ‘sesuatu’ tetapi menemukan ‘sesuatu’. Dan apa yang ditemukan tersebut adalah diri sendiri demikian rapuh, diri sendiri demikian lemah, maka sukacita sesungguhnya adalah pengenalan diri yang rapuh dan tidak berdaya namun mengalami kebaikan Tuhan. Inilah sukacita sejati.
Dalam konteks inilah nabi Yesaya mengemukakan betapa kehidupan yang gersan bagai padang gurun mengalami pemulihan. Namun apakah kehidupan gersang padang gurun ini dikenal oleh umat? Bisa ya bisa tidak. Ya jika dengan pengenalan diri mereka mereka tiba pada kesimpulan padang gurun. Tidak jika mereka menganggap bahwa hidup ini dikendalikan oleh diri mereka sendiri.

Yesaya 35 adalah kata-kata puitis yang kuat untuk menghibur orang-orang buangan Yehuda yang berduka, yang kehilangan bait suci, tanah, dan kedaulatan mereka. Penderitaan mereka dinyatakan dalam "tangan yang lemah" (ayat 3), "lutut yang goyah" (ayat 3), "hati yang takut" (ayat 4), penglihatan yang kabur (ayat 5), pendengaran yang terhalang (ayat 5), tubuh yang patah (ayat 6), dan lidah yang tidak dapat berbicara (ayat 6). Yesaya 35 telah sepenuhnya diliputi oleh keputusasaan dan kelelahan. Kapasitas mereka yang dibutuhkan untuk bergerak di dunia ini telah berkurang. Orang-orang buangan merasakan kesedihan Tuhan dalam tubuh mereka.
Kabar baiknya adalah bahwa Allah Yakub tidak meninggalkan umat Allah dalam keputusasaan. Kesedihan mereka akan berakhir, dan pada suatu hari ketika tubuh yang sakit akan menemukan kehidupan baru di dalam Allah:

Orang-orang yang dibebaskan Tuhan akan kembali,
dan datang ke Sion dengan sorak-sorai;
Sukacita abadi akan meliputi mereka;
Kegirangan dan kegembiraan akan beroleh bagi mereka,
dan kesedihan dan keluh kesah akan menjauh (ayat 10).

Lidah-lidah yang kelu dapat menyuarakan kerinduan untuk menyanyikan lagu-lagu sukacita dan kebebasan. Lutut-lutut yang sebelumnya lemah akan berjalan sendiri menuju Sion. Hati yang takut akan menatap masa depan dengan iman, harapan, dan keberanian, sementara kesedihan dan keluh kesah akan terus mengalir.

Dalam Yesaya 35, dikemukakan bahwa mereka yang tinggal di lingkungan gurun dapat menghargai kekuatan transformatif. Dalam semalam, bahkan sedikit hujan dapat mengubah gurun yang kering menjadi pemandangan yang semarak. Namun, puisi Yesaya bergerak jauh melampaui konsekuensi alami air di gurun. Ciptaan itu sendiri akan "bersukacita," "bersukacita," dan bernyanyi (ayat 1-2). Pujian ciptaan bergabung dengan pujian manusia, sebagai pengakuan atas karya Tuhan yang luar biasa. Keselamatan membuka dunia dengan cara-cara yang baru dan ajaib (ayat 5). Lingkungan yang sebelumnya tidak bersahabat diubah menjadi tempat yang tidak hanya layak huni, tetapi juga mendukung kehidupan. Ciptaan yang “lama” dan yang “baru” dipertentangkan dalam hal hidrasi dan kekeringan: air di padang gurun, sungai-sungai di padang gurun, kolam dari pasir yang terbakar, dll. (ayat 6-7). Pekerjaan Tuhan di padang gurun mengingatkan kita pada pengembaraan Israel sebelumnya dari Mesir ke Kanaan. Dulu dan sekarang, Tuhan berjanji untuk menyertai Israel di padang gurun, dan memastikan perjalanannya dari perbudakan menuju warisan.
Maka dalam pengenalan diri yang kuat kita akan selalu bersukacita sebab memahami betapa baiknya Tuhan dalam kehidupan kita. maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518