Dibaca : 16306 x
KhotbahMinggu 4 Agustus 2024 Keluaran 6: 1-8 PERAN MEWUJUDKAN PEMBEBASAN
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Beriman kepada Allah kadangkala atau bisa juga sering, dapat menimbulkan ketegangan dalam kehidupan. Ketegangan yang menungkinkan seorang beriman terus menerus harus bertahan dengan perjuangannya sebagai murid Kristus. Otto Eissfeldt ‘the tension between absolute and relative, between transcendence and immanence is the current problem theology’ semakin menegaskan kenyataan ini. Jika kita tidak menjadi gelisah dengan segala bentuk penindasan-jangan-jangan kita adalah pelaku penindasan. Allah yang absolut dan transenden adalah Allah yang menyatakan karya dalam bentangan waktu. Allah yang kita percaya didalam Yesus Kristus adalah Allah yang mengendalikan segala sesuatu sehingga Firaun sang penindas tidak berdaya. Unsur demonic dan destruktif yang dihadirkan oleh kekuasaan yang menindas adalah perlawanan terhadap kedaulatan Allah. Maka dalam perspektif seperti inilah ketegangan tersebut dialami sebab Allah bukan tukang yang bisa diperintah setiap orang. Allah bukan tukang yang harus memenuhi semua keinginan manusia. Allah adalah Allah yang dalam kemerdekaan-Nya selalu hadir dan berhadapan dengan setiap bentuk penindasan.
Penindasan yang terjadi bisa hadir dengan beragam bentuk sehingga menjadi pengalaman yang traumatis. Penindasan adalah keadaan yang sangat bertentangan dengan Allah yang membebaskan (DNA Allah adalah kasih 1 Yoh.4:8). Maka pembebasan harus dipahami secara utuh sebab sekali lagi Allah bukan tukang sehingga pembebasan yang dialami umat tidak dilihat pada pembebasan itu sendiri tetapi pada Siapa Sang Pembebas. Melalui pembacaan ini kita diarahkan untuk dapat memahami tiga hal penting:
1. Siapa Allah bagi kita (ayat 2, 6,7,8)
Akulah TUHAN yang dikemukakan dalam beberapa ayat ini menunjukkan bahwa Allah berdaulat dalam tindakan yang membebaskan. Allah memakai Musa dan Harun tetapi yang utama tetaplah Allah. Ketika umat dalam erangan penindasan berseru kepada Allah adalah umat yang tidak lagi melihat cerahnya harapan. Pekatnya penindasan membuat umat putus asa karena perbudakan yang berat (ayat 9). Namun sekalipun mereka tidak mengalami pembebasan namun penyertaan Allah membuat mereka tetap bertahan selama 430 tahun penindasan. Allah tidak hadir sebagai tukang yang membebaskan agar iman kepada Allah adalah iman yang bertumpu pada hubungan perjanjian. Jika Allah adalah Allah perjanjian maka umat adalah umat perjanjian dan tanah adalah tanah perjanjian. Hubungan perjanjian inilah yang terus disegarkan bahwa Allah adalah Allah perjanjian yang tidak bisa dihempaskan oleh penindasan. Maka pertanyaan siapakah Allah bagi kita jawabnya satu : Allah Perjanjian sebab kita adalah umat perjanjian. Ketika Allah disebut sebagai Allah perjanjian maka geraknya adalah gerak yang merangkum masa lalu, masa kini dan masa depan. Allah tidak dikuasai oleh waktu tidak dibatasi oleh ruang. Maka bagi kita saat ini adalah penting untuk memahami bahwa di tengah gelora persoalan dan tekanan pergumulan yang hadir sebagai penindas maka kita diingatkan bahwa Allah Perjanjian yang sudah bertindak pada Abraham, Ishak dan yakub adalah Allah yang sama yang bertindak menopang kita. Allah yang sama menyertai kita.
2. Apakah Tindakan Allah Dimasa Lalu (ayat 3-5)
Allah Abraham, Ishak dan Yakub hendak menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang berkarya dalam sejarah. Allah yang bertindak dalam sejarah manusia adalah Allah yang absolut tetapi sekaligus imanen. Allah yang berkuasa ‘el shaddai’ tetapi sekaligus Allah hadir bagai seorang ibu yang merengkuh anak-anak dengan kasih. Allah yang bertindak dimasa lalu bukanlah Allah yang hadir hanya pada waktu tertentu tetapi disepanjang waktu.
Maka diperlukan kemauan untuk terus mengingat karya Allah. dan di sinilah ketegangan itu bisa muncul sebab realitas tidak selalu bersahabat. Kita mengingat karya Allah tetapi realitasnya Allah disingkirkan dari kehidupan. Allah adalah Allah yang memelihara dan disaat yang sama realitasnya adalah realitas yang mengabaikan. Jika kita tidak lagi dibuat gelisah dengan pertanyaan-pertanyaan substantif ini maka kita akan mudah melihat Allah hanya sebatas fungsi yaitu tukang. Artinya jika pembebasan itu dialami oleh umat maka pembebasan itu bukan karena Musa atau Harun atau siapapaun tetapi Allah. tindakan mengingat karya Allah dalam sejarah adalah upaya untuk mencegah kita dari spiritualitas hipokrit. Kelihatan beribadah tetapi tidak mengalami pembaruan dan suka dengan yang fungsional tanpa mempertanyakan yang substantif. Jika kita hidup dalam relasi yang hipokrit seperti ini maka sebutan Tuhan dan hantu beda-beda tipis. Jika kita hidup dengan merawat dan menginat karya Allah maka hidup kita mungkin susah, mungkin tegang, tetapi Ia mendengar seruang kita minta tolong (ayat 5)
3. Tindakan Allah Dimasa Depan (ayat 6-8)
Tindakan Allah yang membebaskan bukanlah supaya umat dengan bebas menjalani kehidupan mereka tetapi supaya ‘mereka menjadi umat-Nya dan Ia menjadi Allah (ayat 7). Pembebasan yang bersifat prisinsipil adalah pembebasan yang menguatkan hubungan antara umat dengan Allah. Pembebasan itu adalah pembebasan yang akan terus berlangsung sehingga setiap kekuatiran selalu mendapat jawaban (band 1Petrus 5:7). Pembebsan umat sekaligus menjadi penanda bahwa masa umat tetap terjaga, masa depan umat tetap didampingi, masa depan umat selalu diliputi dengan pengharapan (Roma 5:5). Jadi hidup kita bisa saja menegangkan namun jangan pernah lupakan ini: Allah kita adalah Allah Perjajian dan kita adalah Umat Perjanjian yang tidak pernah dilupakan-Nya.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Di tengah kenyatan beragam penindasan yang terjadi di sekitar kita maka kita perlu bertanya dengan sungguh-sungguh ‘maukah kita dipakai Allah sebagai pembebas’. Membebaskan mereka yang ditindas kebodohan, ditindas oleh kemajuan jaman. Maukah kita menuturkan ulang kasih karunia Allah dalam kehidupan di tengah keluarga? Apakah ada suami yang menindas istri dan sebaliknya? Adakah orangtua yang menindas anak-anak dan sebaliknya? Dalam kenyataan dimana perilaku menindas sesama adalah peristiwa biasa, ketika orang senang melihat kesusahan orang lain dan susah melihat orang senang, di tengah semua kenyataan ini klaim pernyataan ini: Allahku adalah Allah Perjanjian dan aku adalah Umat Perjanjian maka hidupku tertuju ke tanah perjanjian. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Laud Deo. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|