Dibaca : 17083 x
KhotbahMinggu, 14 April 2024 Yesaya 43:1-4 BERHARGA DI MATA TUHAN
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Sesuatu yang berharga selalu berhubungan dengan kepemilikan sebab berharga bersifast relasional. Artinya dalam relasi tertentu maka yang berharga terwujud dalam relasi. Sebuah jam bisa sangat berharga karena warisan dari ayah sekalipun di lingkungan umum biasa saja. Berada di tangan siapa menentukan nilai diri sendiri. Di sisi lain ketakutan memunculkan nilai tidak berharga sebab dalam ketakutan semua potensi diri menjadi rendah. Ketakutan dapat mendistorsi nalar sedemikian rupa sehingga dalam Yesaya 43: 1 dan 5 ditemukan pernyataan tentang ‘jangan takut’ juga di Yesaya 41:10 dan ayat-ayat lain. Hal ini penting sebab Allah adalah Allah yang telah mendisiplinkan Israel namun bukanlah Allah yang melupakan hubungan perjanjian dengan Israel. Allah adalah Allah yang memberi perintah tetapi sekaligus Allah adalah Allah yang memberi janji (kisah panggilan Abraham di Kejadian 12). Maka seluruh alur kisah tentang umat di pembuangan adalah umat yang ditegur, didisiplinkan, dibentuk karakternya dan sekaligus adalah umat yang dikasihi-Nya. Maka kehadiran umat sebagai persekutuan yang didorong untuk tetap bertahan dalam pergumulan di pembuangan dan mengatasi beragam ketakutan yang terjadi adalah dengan memahami pengajaran penting bahwa Allah adalah Allah yang menyertai. Jika demikian maka pengajaran penting yang hendak disampaikan dalam teks bacaan saat ini adalah:
1. Allah Pencipta dan Umat Ciptaan (ayat 1-2)
Dalam teks ini dikemukakan betapa pentingnya untuk memahami kehadiran Allah sebagai pencipta segala sesuatu secara universal dan sekaligus partial dan specific dalam penciptaan Yakub (Israel). Allah pencipta sekaligus menciptakan Yakub untuk menjelaskan kepada umat bahwa rentetan sejarah hidup mereka tidak bisa mengabaikan keterlibatan Allah sejak awal. Allah yang memanggil dan memberi perintah adalah Allah yang ditanggapi dengan kesetiaan sebagaimana Abraham dalam kisah panggilannya. Kesetiaan seperti inilah yang harus terus diasah dalam kehidupan umat agar kesetiaan kepada Allah didasarkan pada pemahaman bahwa Allah adalah Allah pencipta termasuk diri kitapun adalah ciptaan-Nya. Identitas-Nya sebagai pencipta tergambar dari ungkapan air atau Sungai dan api (ayat 2). Apakah yang dimaksudkan dengan ayat ini? Allah pencipta pertama-tama adalah adalah yang mengendalikan berbagai kekuatan yang bisa menimbulkan kekacauan (chaos). Dalam kisah penciptaan air dipisahkan dari daratan untuk menunjukkan bahwa Allah berdaulat mengatasi air. Demikian juga dengan api yang tidak membakar dalam kisah Musa dengan Semak yang menyala. Api sebagai kekuatan yang membakar dan merubah keadaan tetapi didalam kendali Allah umat memandapat kepastian bahwa api tidak akan mencelakakan.
Seluruh pemahaman ini hendak menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang bertindak membebaskan dan bukan membelenggu manusia dengan persoalan. Allah bisa menghukum manusia karena telah menyangkal keterlibatan-Nya tetapi Allah bukanlah Allah yang berpihak pada kematian tetapi pada kehidupan. Inilah yang terwujud dalam karya Yesus sehingga dikemukakan oleh Pemazmur demikian di Mazmur 23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Hari ini bisa saja kita ada dalam persoalan dan pergumulan sesuai keberadaan kita masing-masing tetapi dapat dikemukakan bahwa Allah adalah Allah yang hadir dengan atribut kasih-Nya. Ia mau agar kita semua menyadari bahwa kehidupan yang taat adalah kehidupan yang berniulai dan berharga sebab kehidupan yang taat selalu berhubungan dengan pribadi tertentu yakni Yesus Kristus.
2. Berharga dan Mulia (ayat 4)
Apa yang dikemukakan dalam teks ini menunjukkan bahwa umat tidak berharga berdasarkan apa yang ada dalam ririnya sendri tetapi karena manusia tercangkok kepada Allah dalam yesus Kristus. Berharga dan mulia lalu sangat bergantung pada kualitas relasi yang tercipta. Maka dalam teks ini dikemukakan bahwa sekalipun umat berada dalam pergumulan yang menakutkan namun janji penyertaan-Nya tidak pernah berubah. Allah hadir dengan kuasa-Nya yang mengangkat manusia dari keterpurukan pada posisi yang baru yang dikehendaki-Nya yakni manusia yang memuliakan Allah. Jadi jika sekarang kita mengalami kuasa keberpihakan Allah yang memulihkan maka kitapun memasuki keadaan yang baru sebagai umat yang berharga. Inilah pengajaran penting yang perlu diingat dalam kehidupan selaku orang percaya. Memuliakan Allah bersifat khusus dan utuh sehingga tidak terbagi atau terbelah dengan hal lain. Kemuliaan bagi Allah tidak dapat digadaikan dengan hal lain sehingga dapat mengurangi kadar dari memuliakan-Nya. Dan dalam konteks inilah selaku warga gereja kita diundang memuliakan-Nya secara utuh, lengkap, orisinil, tidak palsu apalagi imitasi. Hal ini penting sebab bukankah kemuliaan bagi Allah saat ini adalah istilah kosong, tanpa makna penuh intimidasi dengan ungkapan-ungkapan destruktif. Kita prihatin ketika gereja sebagai persekutuan yang dipanggil dan diutus tidak lagi hadir dengan suara memuliakan Allah sebaliknya menghina, merendahkan dan menyejajarkan semua pihak pada posisi yang berdosa ketika atas nama kebenaran bisa berbicara apa saja dan bertindak apa saja. Memuliakan Allah artinya mengakui bahwa hanya Dia yang absolut benar dan kebenaran horizontal adalah kebenaran dialogis. Memuliakan Allah sekaligus disertai dengan sujud dihadapan-Nya, menadahkan tangan dalam lafal ayat suci sembari kepala tertunduk dalam kepasrahan. Itulah hakikat memuliakan Allah yang sungguh bertentangan dengan arogansi dan melafalkan ayat-ayat hujat kepada sesama seperti yang diperlihatkan dalam pilpres. Dunia bisa saja berperilaku demikian, tetapi tidak bagi kita semua dan dimulai dari rumah. Di rumah bersemai kemuliaan bagi Allah yang harumnya semerbak membawa wangi melati yang membumbung keatas menjadi persembahan harum bagi Allah.
Sahabat terkasih
Maka cara paling utama untuk menjalanmi kehidupan ini adalah hidup dalam SETIA kepada Allah sehingga hidup selalu berporos pada kehendak-Nya. Kedua, selalu menyadari bahwa kita berharga dimata Tuhan sebab sesungguhnya tidak demikian namun oleh relasi dengan Tuhan sajalah maka hidup menjadi berharga, bernilai. Jangan lunglai oleh persoalan kehdipan namun tetaplah hadir dalam kuatnya persekutuan. Maju terus bersama Tuhan Yesus dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Laus Deo. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|