Dibaca : 16243 x
KhotbahMinggu 25 Februari 2024 Mazmur 133:1-3 HIDUP BERSAMA DENGAN RUKUN
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Gagasan tentang kerukunan adalah gagasan yang ditempatkan dalam perspektif persekutuan sebab kerukunan tidak bersifat individual. Rukun atau kerukunan selalu melibatkan pihak lain dan selalu berkaitan dengan orang lain. Kesatuan ini demikian penting sebab dalam kondisi rukunlah maka berkat Tuhan dialami. Mengapa Pemazmur menyatakan ini sebagai sebuah keindahan sebab melalu kerukunan akan terlihat keindahan keberagaman bagai sebuah taman yang indah. Maka kerukunan bukanlah keseragaman melainkan diwujudkan dalam pandangan yang tidak menafikan perbedaan.
Dalam konteks yang demikian maka Mazmur Daud merupakan sebuah perintah melalui pernyataan tentang pentingnya hidup dalam kerukunan. Hidup rukun yang dikemukakan oleh Daud bukanlah hidup rukun karena seragam tetapi beragam. Artinya kerukunan itu dibalut dengan kesediaan untuk memandang keunikan setiap individu dan mengakui keunikan diri sendiri. Pada pemahaman yang demikian diperlukan sebuah kerukanan yang dilandasi oleh kemauan untuk selalu berada dalam ‘linkaran’ yang rukun dengan Allah. Inilah yang menjadi motivasi utama Daud mengemukakan Mazmur dimana umat secara bersama bergerak dalam ziarah ke Yesrusalem (ayat 1) untuk beribadah. Gerak kebersamaan yang beragam inilah yang memicu pemazmur untuk menyatakan bahwa kerukunan adalah suatu relasi yang dibangun dengan pondasi kasih karunia Allah. Maka dalam konteks demikian beberapa hal penting yang perlu diperhatikan ialah:
1. Kerukunan tidak menafikan konflik (ayat 1)
Kehidupan yang rukun bukanlah kehidupan yang tidak diwarnai dengan dinamika kehidupan sebab rukun yang dinamis adalah rukun yang mengakar. Artinya kerukunan tidak pernah menafikan perbedaan namun bagaimana perbedaan disikapi menjadi ukuran yang memungkinkan terbentuknya kerukunan. Hal ini penting sebab pola kerukunan yang bersifat transaksional adalah kerukunan yang semu. Kerukunan yang rapuh dan hipokrit. Kerukunan seperti inilah yang ditolak oleh pemazmur. Keluarga yang rukun bukanlah keluarga yang seragam dalam pemikiran sebab dalam keadaan seperti itu maka keluarga menampilkan kerukunan yang semu. Kerukunan dalam keluarga adalah keuruknan yang dibangun dengan kemampuan mengurai setiap persoalan sehingga menjadi kebersamaan yang beragam. Dasar dari kerukunan seperti ini adalah penghayatan bahwa perziarahan iman melalu Lembaga keluarga tetrus berlangsung dengan kesediaan untuk menatap kepada-Nya. Gandhi pernah kemukakan bahwa kemampuan untuk membangun kerukunan dalam keberagaman adalah keindahan. Inilah kerukunan yang dikehendaki oleh Tuhan sebagaimana dikemukakan Paulus dalam Filipi 2:3 ‘dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri’
Maka hal pertama adalah singkirkan pikiran bahwa rukun berarti tanpa masalah sebab selalu terbuka ruang perbedaan dalam kerukunan karena yang hidup bersama adalah manusia yang berbeda dengan ciri khas yang berbeda.
2. Kerukunan berujung reputasi (ayat 2)
Rukun yang didasari oleh reputasi sebagai seorang pelayan menjadi kerukunan yang membawa manfaat. Kerukunan semacam ini ibarat minyak yang meleleh dari kepala kejanggut Harun. Inilah kerukunan yang mengalirkan reputasi kerukunan yang mengalirkan martabat. Dalam konteks demikian maka hidup rukun disadari sebagai bentuk relasi yang akan memunculkan kesediaan untuk mengalirkan kebajikan, mengalirkan semangat, mengalirkan dukungan yang mengkristal dalam reputasi.
Kerukunan inilah yang akan membuka harapan bagi setiap keluarga untuk terus menyatakan perannya sebagai persekutuan yang memuliakan nama Tuhan. Kehadiran yang memulihkan, menyembuhkan dan menghormati adalah unsur-unsur penting dalam kehidupan yang rukun. Maka kerukunan tidak terjadi dengan sendirinya tetapi harus diperjuangkan dalam relasi yang rukun dengan Tuhan.
3. Kerukunan menyalurkan berkat (ayat 3)
Kerukunan yang dikemukakan oleh pemazmur adalah model kerukunan yang menularkan kebajikan. Pola kerukunan yang demikian adalah kerukunan yang didasari dengan kasih (Love). Artinya dalam kehidupan yang rukun terbentang pemahaman yang baru tentang kepemilikan bahwa berkat hanya layak disebut berkat ketika bermuara menghadirkan kebaikan. Hal ini penting sebab salah satu kekeliruan pemahaman tentang berkat adalah bahwa berkat artinya memiliki, ini benar tetapi tidak sepenuhnya benar. Berkat dapat disebut berkat hanya ketika ditempatkan dalam relasi yang menyuburkan dan menyegarkan bagaikan embun yang turun dari Hermon dengan sejuknya mengurai kegerahan yang ada di Sion. Relasi Hermon dan Sion adalah relasi yang diberkati sebab Hermon menyegarkan, menyejukkan keadaan di Sion. Berkat bukan saja materi tetapi spiritualitas yang diberkati adalah spiritualitas yang dalam keseharian menghadirkan kebajikan bagi sesama. Pada titik inilah kerukunan dapat terwujud dengan keindahan yang beragam.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Dengan demikian maka rukun hanya pantas disebut rukun ketika hadir dalam kebersamaan yang beragam, kebersamaan yang membangun reputasi dan kebersamaan yang meneduhkan serta menyegarkan. Maka kerukunan bukanlah keadaan yang otomatis terjadi tetapi dibangun dengan kesadaran bahwa setiap orang berbeda termasuk diri sendiri. Jadi maukan kerukunan diwujudkan? Semoga. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam dalam persekutuan dengan-Nya kerukanan tidaklah sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|