Dibaca : 16383 x
KhotbahMinggu, 11 Februari 2024 Matius 17: 1-8 BAHAGIA VIA TRANSFIGURASI YESUS
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Kisah transfigurasi Yesus di hadapan Petrus, Yohanes dan Yakobus adalah peristiwa luar biasa karena ditulis juga oleh Markus 9:2-13 dan Lukas 9:28-36. peristiwa menjadi penting sebagai jawaban atas beberapa kejadian sebelumnya di pasal 16. Apa yang dikemukakan di pasal 16 adalah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah yang hidup, ragi atau pengajaran orang Farisi dan Saduki serta pemberitahuan tentang masa sengsara Yesus. Peristiwa transfigurasi adalah peristiwa penting karena melalui peristiwa ini diperlihatkan otoritas Allah yang menjangkau manusia dalam kerapuhan manusia akibat dosa. Allah menjumpai manusia melalui Yesus Kristus yang hadir dengan kemanusiaan-Nya dan memungkinkan tersedianya perubahan dalam kehidupan manusia. Kisah transfigurasi bukan saja tentang Yesus yang berubah tetapi sekaligus sebuah undangan perubahan yang dihadirkan oleh setiap orang percaya. Kemuliaan Yesus sudah barang tentu hanya milik Yesus dan tidak satu manusiapun yang mulia sebagaimana Yesus yang Mulia. Hal didasarkan pada pernyataan tegas dari Yesus untuk menggugurkan logika berpikir Petrus yang menyatakan bahwa janganlah penderitaan dialami oleh Yesus (16: 22). Yesus bahkan menjelaskan logika berpikir Allah yang tidak disukai oleh logika berpikir dunia. Kata Yesus kalua mau mengikuti-Nya maka harus ada penyangkalan diri, harus ada pikul salib sendiri baru mengikut Yesus. Inilah esensi kemuliaan Allah didalam Yesus Kristus bahwa pergumulan dan persoalan yang dihadapi umat percaya bukanlah alasan untuk berhenti mengikut-Nya. Tentu dengan logika berpikir yang dikemukakan Yesus, mau ikut pikul salib sendiri dan penyengkalan diri.
Sahabat-sahabat terkasih
Dengan pemahaman demikian maka pengajaran yang hendak dikemukakan adalah:
1. Waspadai kebahagiaan semu (ayat 1-5)
Kebahagiaan semu adalah kebahagiaan yang situasional, yang sifatnya eksklusif, yang menafikan pergumulan dan menjadikan Yesus hanya sebagai tukang. Tukang pembuat mujizat, tukang khotbah bahkan tukang jaga rumah. Kebahagiaan model begini tidak akan segan-segan tertawa diatas penderitaan orang lain. Kebahagiaan yang berorientasi pada aku (me, I, my self). Puji Tuhan gagasan yang dikemukakan oleh Petrus tidak ditanggapi oleh Yesus bahkan Petrus cs harus mendengarkan apa yang dikatakan Yesus (ayat 5). ‘dengarkanlah Dia’ bukanlah sebuah undangan tetapi sebuah perintah yang menjelaskan bahwa ketika para murid tidak mendengarkan-Nya maka mereka akan hadir dengan semangat Farisi dan Saduki (Mat.16: 11). Ragi atau doktrin Farisi yang sombong Rohani dan orang Saduki yang tidak percaya kebangkitan orang mati, adalah doktrin atau ajaran yang harus diwaspadai. Orang Farisi itu dengan pongah menunjuk kepada orang berdosa tanpa menyadari bahwa mereka seperti kuburan yang bagus diluar tapi sampah didalam. Saduki yang tidak percaya pada kebangkitan orang mati akan menghadirkan hidup yang sesuka hati, hidup yang tidak dipertanggungjawabkan. Inilah doktrin yang menghasilkan kebahagiaan semua. Kebahagiaan yang dinut oleh Yesus adalah kebahagiaan inklusif, kebahagiaan yang merangkul. Kebahagiaan yang memungkinkan orang lain ditulari. Inilah makna transfigurasi sebagaimana dikemukakan oleh Nikolai Berdyaev-seorang pastor dari Gereja Orthodox Rusia, Setiap tindakan artistik kreatif merupakan transfigurasi sebagian kehidupan. Dalam konsep artistik, manusia menerobos beban dunia. Dalam sikap kreatif-artistik terhadap dunia ini kita melihat sekilas dunia lain.
Nikolai mau menyatakan bahwa hidup yang artistik (unsur nilai keindahan yang melekat pada sebuah karya seni hasil cipta kemahiran seseorang) dan sekaligus kreatif akan menghasilkan keindahan di dunia yang porak poranda oleh berbagai kejahatan akibat dosa. Transfigurasi lalu bermakna penting sebab dalam pernyataan Paulus di 2 Korintus 3: 18, bahwa setiap orang percaya mencerminkan kemuliaan Tuhan menunjukkan bahwa kebahagiaan via transfigurasi adalah kebahagiaan yang membahagiakan.
Dalam keluarga inilah hal penting, apakah keluarga sudah menjadi cermin kemuliaan Yesus dalam bentuknya yang paling sederhana. Cermin penting dan karena itu cermin harus selalu dibersihkan. Cermin yang kotor mustahil akan memantulkan kemuliaan Yesus. Kehidupan yang kotor secara Rohani adalah cermin yang buruk. Jadi transfigurasi adalah kebahagiaan yang membahagiakan sesama karena menolak perbuatan yang tersembunyi, menolak perilaku licik dan menolak memalsukan Firman Allah (2 Kor. 4:2)
2. Transfigurasi sebagai titik awal-starting point (ayat 6-9)
Para murid yang ketakutan dengan suara yang berwibawa tentang identitas Yesus adalah para murid yang mendapat penghiburan ‘jangan takut’. Mereka yang tersungkur dalam ketakutan adalah mereka yang mengalami kebahagiaan yag hakiki sebab Yesus hadir dan menjangkau mereka. Perahabatan yang hadir di tengah ketakutan adalah persahabatan yang dijiwai oleh transfigurasi. Sahabat sejati justru akan hadir di tengah persoalan dan pergumulan sebab jika hanya hadir pada saat menyenangkan, itu bukan sahabat itu benalu. Dengan menyentuh mereka, Yesus dapat memberi perspektif baru dalam kehidupan para murid bahwa transfigurasi bukanlah soal verbal, kata-kata, tetapi soal tindakan. Tindakan yang didasarkan pada doktrin/ajaran yang benar bahwa tidak ada manusia yang sempurna tetapi mengikut Yesus menuju pada kemuliaan yang semakin besar (2 Kor. 3: 18). Dalam bahasa Mandarin dikemukakan Jíf�"ng zhī jìngcǎo, huànnàn jiàn zh�"nqíng (Teman sejati baru akan diketahui saat kita dalam kesulitan).
Maka peristiwa transfigurasi memberi pengajaran penting bahwa kemuliaan Yesus dihadirkan bagaikan cermin yang memantulkan cinta kasih Allah. Transfigurasi juga menegaskan bahwa era Musa dengan hukum-hukum dan Elia sebagai representasi para Nabi sudah digenapi dalam era baru era persahabatan sebagaimana dikemukakan Yesus dalam Yohanes 15:12-14.
Sahabat-sahabat terkasih
Maka peristiwa transfigurasi adalah peristiwa yang membahagiakan di tengah derasnya permasalaha. Transfigurasi membaut kita tidak alergi dengan permasalahan sebab adakah hidup tanpa masalah? Tetapi dalam sentuhan yang menguatkan oleh Yesus kita diundang memasuki pola hidup yang inklusif melalui kehadiran kita yang tidak sempurna untuk menujukkan bahwa hanya Yesus yang Mulia dan kita hanya memantulkan kemuliaan-Nya dalam tindakan membahagiakan dan tindakan persahabatan. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Laus Deo. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|