Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dalam bagian bacaan saat ini adalah kisah yang terangkai dalam konteks Yesus yang dimuliakan (Tabor). Yesus dengan para murid yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus berada di bukit yang kemudian mengalami ‘transfigurasi’ dimana Ia berubah dan berdiri bersama Musa dan Elia (ayat 3-4). Sebuah peristiwa yang membuat para murid ini takjub dan berupaya mempertahankan keadaan tersebut dengan mendirikan kemah. Namun dalam peristiwa itu yang paling mendasar dan penting adalah suara Allah yang menyatakan bahwa Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia (ayat 7), inilah pernyataan penting tentang identitas Yesus dengan penekanan ‘…dengarkanlah Dia’ haruslah mendapat tanggapan dari manusia. Dengarkanlah Dia adalah frasa yang hanya mampu diselami dengan iman, dengan percaya kepada-Nya.
Tindakan Yesus yang turun gunung adalah koreksi terhadap cara berpikir murid yang bersifat eksklusif sebab dengan Yesus turun gunung berarti Ia menjumpai manusia dengan segala permasalahan mereka dan permasalah mereka adalah soal percaya kepada Yesus. Pernyataan Yesus di ayat 19 menunjukkan bahwa yang tidak percaya itu mencakup juga para murid dan ayah dari anak yang sakit. Generasi yang tidak percaya adalah generasi yang dikatakan sebagai generasi ‘impossible’. Semua serba tidak mungkin, semua keadaan ditanggapi dengan tidak percaya. Maka mengubah impossible menjadi I’m "possible" adalah perubahan yang didasari dengan relasi yang intim dengan-Nya. Manusia sering menyandarkan diri pada misinya sendiri padahal kehadiran dan keterlibatan Allah didalam Yesus sungguh amat diperlukan. Inilah yang disebut dengan bersandar kepada Tuhan. Sudah barang tentu untuk bersandar kepada-Nya diperlukan iman/percaya, diperlukan kesediaan diri menerima-Nya sebagai bagian dalam kehidupan. Jika demikian apakah pengajaran yang hendak dikemukakan?
1. PERSOALAN (ayat 21-24)
Pertanyaan Yesus mendapat jawaban bahwa masalah ini bukanlah masalah baru tetapi masalah lama. Persoalan dengan kuasa yang membisukan adalah kuasa yang membelenggu sehingga relasi anak dan orangtua jadi terganggu. Kuasa yang membisukan adalah kuasa membuat jarak dan karena itu ‘jarak’ selalu menghadirkan ketidakmampuan untuk mendengar. Dalam bagian ini nampak bahwa sang ayah juga adalah generasi yang tidak percaya pada misi Allah. Ketidakpercayaan itu ditunjukkan dengan menyatakan ‘jika Engkau dapat’. Jika Engkau dapat adalah wujud keragu-raguan, wujud dari tidak percaya/tidak beriman. Persoalan memang demikian besar sehingga Allah bisa nampak kecil dalam pandangan seorang ayah. Namun Yesus mengubah perspektif sang ayah sehingga mencuatlah sebuah pernyataan ‘aku percaya, tolonglah aku yang tidak percaya (ayat 24). Perubahan ini adalah perubahan mendasar sebab didalamnya terkandung pengakuan bahwa sang ayah yang rapuh dan lemah kini mempercayakan diri dan anaknya kepada Tuhan.
Inilah yang menjadi pengajaran bagi kita saat sekarang ketika sebagai keluarga kita berjuang ditahun 2024. Kita perlu menjadi pendorong bagi anak-anak kita dengan memperlihatkan ketergantungan kita kepada Tuhan. Anak-anak kita bisa saja berhasil dan bisa juga mengalami kegagalan dan sebagai orangtua kita menarik permasalahan anak menjadi permasalahan kita dalam arti merasakan apa yang dialami oleh sang anak. Kita perlu meyakini bahwa misi Allah bagi anak-anak kita adalah misi yang tidak berubah di tengah keadaan apapun yang mereka alami. Menjadi orangtua yang berdiri bersama dengan anak dalam segala pergumulan mereka adalah orangtua yang perlu mengubah cara pandangnya terhadap Tuhan dengan mengaku ‘aku percaya, tolonglah aku yang tidak percaya’.
Di samping itu sebagai orangtua kita juga adalah anak, kita adalah anak-anak Tuhan yang hadir di tengah generasi masa kini. Maka kitapun perlu menghayati bahwa misi Allah bagi kita adalah misi yang memulihkan, yang membuat kehidupan dapat berlangsung dengan harapan yang kuat. Maka ‘mendengar’ suara Tuhan adalah mendengar misi-Nya bagi kita karena misi-Nya selalu ‘possible’. Misi-Nya yang menjangkau kita selaku umat Tuhan adalah misi pembebasan. Karenanya bagi kita dewasa ini diperlukan kesediaan untuk megimani-Nya.
2. PENYEMBUHAN (ayat 25-27)
Roh jahat yang membuat bisu dan tuli (ayat 25) adalah roh yang hendak memutuskan relasi, roh yang hendak membinasakan (ayat 20, 22). Roh yang membuat bisu dan tuli adalah roh yang berupaya menghancurkan masa depan sang anak namun hebatnya ialah roh jahat itu mengenal Yesus (ayat 20). Roh jahat yang mengenal Yesus adalah bentuk tantangan sebab mengapa orang banyak tidak mengenal-Nya? (ayat 19). Inilah keadaan yang memerlukan kesembuhan hakiki, kesembuhan utama yakni mengenal-Nya dan mendengar suara-Nya. Maka penyembuhan yang memungkinkan anak ini bangkit sendiri (ayat 27) adalah penyembuhan yang menegaskan bahwa sekarang telah tercipta relasi yang baru. Relasi dengan Allah yang tadinya hancur kini mengalami pemulihan atau penyembuhan. Relasi baru yang tidak saja dialami oleh anak tetapi juga oleh ayah. Inilah penyembuhan yang membuka kembali peluang-peluang baru menjalani kehidupan seperti kata Paulus di 2 Korintus 5: 17. Pemulihan inilah yang memungkinkan terwujudnya keterlibatan keluarga untuk memberi kesaksian bahwa oleh penyembuhan-Nya maka yang nampak mati, nampak tidak punya harapan, nampak binasa, kini sudah hidup kembali.
Demikianlah kita sebagai orang percaya yang mengalami penyembuhan dan pemulihan itu adalah orang percaya yang memberi kesaksian tentang misi Allah yang selalu ‘possible’. Bersandar pada misi seperti inilah yang memungkinkan semua pekerjaan Allah yang dilakukan-Nya dengan melibatkan kita adalah rengkuhan yang memungkinkan kita semua menjalani hidup yang bermakna. Demikianlah juga yang dikatakan oelh Rick Warren dari Saddleback Church ‘Without God, life has no purpose, and without purpose, life has no meaning. Without meaning, life has no significance or hope. (Tanpa Tuhan, hidup tidak mempunyai tujuan, dan tanpa tujuan, hidup tidak ada maknya. Tanpa makna, hidup tidak memiliki arti atau harapan). Jadi kalua hidup sudah dialami maka hidup itu lalu bermakna dengan menjadi bagian dari misi Allah menyatakan ‘damai sejahtera’.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Maka selaku orang percaya dewasa ini kita perlu untuk memiliki kepekaan terhadap kuasa-kuasa yang membuat ‘bisu dan tuli’. Jika segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini membuat kita tidak lagi ‘mendengar-Nya’ tidak lagi mendengar suara-Nya maka dapat dipastikan kuasa roh yang membuat bisu dan tuli sedang bekerja. Berhati-hatilah sebab roh ini akan menyeret kita pada pemahaman yang sempit bahwa segala sesuatu ini saya yang lakukan. Segala sesuatu bergantung pada saya, segala sesuatu untuk kepentingan saya. Di titik seperti itu kita perlu berseru ‘aku percaya tolonglah aku yang tidak percaya’ agar kita diarahkan oleh kuasa Roh Kudus menyadari bahwa Ia yang bekerja dan aku dilibatkan dalam pekerjaan-Nya.
Maka dalam kehidupan keluarga, kita semua dipersiapkan untuk mempersaksikan Kristus itu lewat semua pengalaman hidup kita. Anak-anak kita haruslah kita arahkan untuk terus meyakini bahwa misi Allah tetap berlaku atas hidup mereka sehingga pengalaman berhasil atau gagal tidak membuat mereka mengabaikan rencana Allah bagi mereka.
Sekaligus kita semua yang mengalami pembaruan sebagai anak-anak Allah adalah persekutuan yang mempersaksikan misi Allah dalam kehidupan kita. Dengan begitu roh-roh yang membuat bisu dan tuli pada Firman Tuhan adalah roh-roh yang harus kita waspadai. Jangan terlampau percaya diri bahwa kita sudah hebat tetapi selalu peka merasakan getaran-getaran halus yang menyapa kita, misi-Ku atas dirimu tidak pernah gagal. Laus Deo.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak pernah sia-sia. Amin