aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 16280 x

Khotbah
Minggu, 08 Oktober 2023
Matius 21: 23-32
PERINTAH ALLAH: YA DAN LAKUKAN

PERINTAH ALLAH: YA DAN LAKUKAN
Sahabat-sahabat yag Tuhan Yesus kasihi



Kuasa adalah kata yang mujarab untuk dikejar digenggam sebab dalam kuasa seseorang dapat menguasai seseorang atau sesuatu. Kuasa demikian menawan sehingga manusia dengan segala kemampuan yang dimiliki berusaha untuk ‘memeluknya’ dan takut kehilangan. Jika “kekuasaan” merujuk pada kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, maka “otoritas” berarti hak untuk mempengaruhi orang lain tersebut. Di dalam kekuasaan terdapat otoritas yang melekat agar kuasa itu dapat dipergunakan secara baik. Namun dalam kenyataan seringkali kuasa dan otoritas berlangsung untuk ke-aku-an sehingga kuasa dan otoritas itu tundak padaku. Maka ‘aku’ yang mengendalikan kuasa dan memasungnya dalam bingkai kehendak untuk menguasai. Secara umum kuasa yang demikian cenderung menghasilkan keburukan sebab ‘aku’ bukanlah ‘aku’ yang tanpa dosa. Ketika kuasa berada dalam gengamanku maka kuasa itu menuruti kehendakku yang seringkali terjungkal oleh keringnya makna kuasa. Di sinilah persoalan mendasar ketika pertanyaan mengenai kuasa Yesus dikemukakan oleh para imam dan tua-tua Yahudi (ayat 23). Persoalan kuasa menjadi penting sebab pada kuasa ada perbedaan dengan mereka yang tidak berkuasa. Pada kuasa ada upaya pemenuhan apa yang menjadi hak-ku. Persoalan ini menjadi penting ketika kuasa tidak didasarkan para kebenaran. Kuasa tanpa kebenaran hanyalah menghasilkan orang-orang demikian gigih dengan kepentingan diri dan tidak memperhatikan sesama. Kuasa seperti ini dapat tampil menawan hati namun dipenuhi dengan racun yang mematikan.

Kuasa sebagaimana diperlihatkan oleh manusia yang berdosa adalah kuasa yang dikonfrontir oleh Yesus. Jika memang para tua-tua dan imam kepala menghidupkan kuasa secara benar tentu pertanyaan kepada Yesus tidak perlu disampaikan. Kehadiran Yesus yang membuat pohon ari menjadi kering (ayat 20) hendak menjelaskan bahwa kuasa Yesus adalah kuasa atas segala sesuatu. Di sinilah terjadi perbedaan tajam dalam pengertian tentang kuasa yang dipahami para imam dan tua-tua Yahudi. Di sinilah Yesus memperlihatkan bahwa terdapat perdaaan yang mendasar antara kuasa-Nya dan kuasa para imam. Kuasa yang diperlihatkan Yesus adalah kuasa yang memederkakan dan bukan kuasa yang membelenggu, kuasa yang menghidupkan dan bukan kuasa yang mematikan. Kuasa yang diwujudkan dalam kesetiaan pada panggilan dan pengutusan. Maka hal mendasar yang diperlihatkan dalam pembacaan hari ini adalah:



1. Waspada terhadap godaan kuasa (ayat 23-27).

Waspada terhadap kuasa sebab kuasa itu bersumber dari Allah dan bukan dari dalam diri manusia (band. Efesus 6:10, Yohanes 1: 12). Hal ini menjelaskan betapa rusaknya kuasa ketika mengabaikan keterlibatan Tuhan dan betapa hebatnya kuasa ketika didasarkan pada kehendak Tuhan (Ef.1:19). Maka pertanyaan yang diajukan kepada Yesus adalah pertanyaan tentang merosotnya kekuasaan para imam. Betapa kuasa itu telah mengalami distorsi akut sebab pada dasarnya manusia adalah manusia yang tuna kuasa. Pertanyaan penting bagi kita saat ini apakah kita masih percaya pada kuasa-Nya yang hebat sehingga perjamuan kudus ini terwujud. Apakah kita masih mau menunduk pada kuasa-Nya yang menghidupkan dan memerdekakan sehingga perjamuan kudus ini menjadi bermakna? Hal ini penting sebab seringkali godaan untuk mengabaikan kebenaran kuasa Allah demikian merajalela yang ditandai dengan berbagai penyelewengan kekuasaan dalam keluarga dalam bisnis dalam politik dan sebagainya. Tetapkan dalam hati kita bahwa aku percaya pada kuasa-Nya yang menghdiupkan sehingga kuasa yang dipercayakan kepada kita semua adalah kuasa yang menghidupkan keualitas keluarga, kualitas bisnis dan kualitas semua lini kehidupan kita.



2. Kuasa: melepas atau menggengam (ayat 28-32).

Pada bagian ini dikemukakan bahwa kisah perumpamaan dua anak yang diutus untuk ‘pergi dan bekerjalah’ (ayat 28) adalah tentang mewujudkan kuasa yang menghidupkan sebab pergi dan bekerjalan menjadi aktifitas yang hidup. Inilah kuasa yang tidak digenggam tetapi kuasa disebarkan. Kuasa yang tidak menumpuk padaku tetapi menjadi kuasa yang memberitakan ketaatan pada panggilan dan pengutusan Allah. (Mat.28:18). Disini hendak dikemukakan bahwa perbedaan mendasar antara kuasa duniawi dan surgawi. Jika kuasa duniawi digenggam tetapi kuasa surgawi membuka genggaman agar orang lain dapat mengalami sukacita karya keselamatan.

Perumpamaan ini sekaligus menunjukkan bahwa kuasa dalam kebenaran adalah kuasa yang dihasilkan ari sebuat pertobatan. Pengenalan diri yang jujur bahwa diri sendiri adalah rapuh dan memerlukan kuasa-Nya yang menghidupkan menjadi jaminan betap bernilainya kuasa dari Allah.

Maka setiap kali berhadapan dengan perjamuan kudus setiap kali pula diingatkan bahwa kuasa kasih-Nya yang besar dan menyelamatkan kita bukan untuk kita saja namun terus diberitakan dalam kehidupan setiap hari. Pada titik inilah kuasa yang dipercayakan-Nya kepada kita menjadi sangat bernilai.



Sahabat-sahabat terkasih

Melalui pengajaran inilah kita semua memasuki hari-hari ke depan bahwa kuasa-Nya yang menyelamatkan kita perlu terus diberitakan dalam kehidupan kita. Kuasa keselamatan dari Allah adalah kuasa yang memungkinkan persekutuan umat Tuhan yakni gereja menjadi berarti. Dengan demikian maka dalam keteduhan diri kita semua menunduk di hadapan Tuhan dan bersyukur bahwa Ia mengusai kita dengan hebatnya agar keluarga kita dapat terus bertahan dalam gempuran kuasa yang mematikan. Agar pekerjaan kita dapat terus melaju dengan baik di tengah ketidakpastian. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah menghidupkan kuasa tidak pernah sia-sia. Amin


Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518