Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Manusia adalah mahluk dengan kesadaran akan identitas yang berbeda dari ciptaan lain. Kesadaran ini menempatkan manusia pada posisi yang dapat memperhitungkan segala sesuatu yang berkaitan dirinya. Manusia mampu untuk meneruskan segala karya kebaikan Allah melalui kesadaran yang demikian. Kesadaran manusia ditempatkan dalam kesadaran pra reflektif dan kesadaran reflektif yang memungkinkannya untuk terus mengalami pertumbuhan dalam segala aspek. Manusia yang sadar akan dirinya menjadi manusia yang sadar dalam pengaruh segala sesuatu di sekitar dirinya. Ketika manusia mampu untuk bersikap reflektif maka di titik itu ia menempatkan manusia lainnya sebagai subyek dan bukan obyek.
Kekacauan dalam kehidupan dewasa ini sering diakibatkan oleh kekacauan berpikir yang mengbaikan subyek-subyek. Artinya manusia menyadari bahwa hidupnya menjadi bernilai dalam posisi subyek-subyek dan bukan subyek-obyek. Jika subyek-obyek maka subyek dapat memperlakukan obyek dengan sesuka hati, janji yang tidak ditepati, bersikap impulsive dan destruktif. Subyek-obyek membuat manusia seolah dapat menentukan obyek di luar dirinya sebagai pemenuhan subyektifitasnya.
Dalam konteks 2 Korintus kita berjumpa dengan tindakan Allah yang tidak menempatkan manusia sebagai obyek (Mazmur 8:4-5). Allah memperlakukan manusia sebagai subyek yang mampu memberi respons atas seluruh tindakan Allah.
Allah menyatakan KASIH KARUNIA-(grace) yang dialami manusia bukan sebagai obyek. Maka manusia yang mengalami kasih karunia Allah adalah manusia yang menyadari kebaikan Allah karena Allah adalah baik. Jika manusia mengalami seluruh kebaikan Allah maka Paulus hendak memperlihatkan kepada jemaat Korintus bahwa mereka yang sedang mengalami kesusahan di Yerusalem bukanlah obyek perhatian Korintus (ayat 13). Paulus mengingatkan Korintus bahwa kehadiran mereka sebagai umat tidak didasarkan atas kualifikasi mereka sebagai manusia yang pada dirinya luar biasa (kaya) tetapi mereka menjadi manusia kaya karena kemiskinan-Nya (ayat 9). Hal ini penting sebagai kesadaran untuk mewujudkan pelayanan kasih agar tidak mewujudkan relasi subyek-obyek dengan jemaat Yerusalem karena semuanya mendapat kasih karunia yang sama dari Allah. Kasih karunia inilah yang menjadi dasar dari seluruh tindakan yang dilakukan jemaat kepada Yerusalem. Baik jemaat Makedonia maupun di Korintus.
Paulus menunjukkan jemaat Makedonia yang antusias (en-dalam, teos-Tuhan) untuk terlibat membantu jemaat di Yerusalem. Sekalipun mereka sendri mengalami penderitaan (ayat 2) tidak menjadi penghalang. Hal ini dikarenakan Makedonia tidak melihat Yerusalem sebagai obyek bantuan tetapi subyek yang mengalami kasih karunia yang sama. Jika demikian apakah yang bisa dipelajari dari perikop ini?
1. Pribadi yang menyadari Kasih Karunia Allah (ayat 9-12)
Pada bagian ini dikemukakan oleh Paulus bahwa dirinya adalah pribadi yang mengalami kasih karunia Allah sehingga sekarang Paulus menampilkan manusia yang bertahan dan kasih karunia itu tidak sia-sia (1 Kor. 15:10). Kasih karunia adalah tindakan Allah yang menempatkan manusia pada posisi yang baru sehingga kasih karunia menghadirkan bentuk kesaksian (KPR 4:33). Jika kita berada dalam keadaan yang sulit maka kasih karunia memungkinkan kita dapat melewati keadaan sulit tersebut sebagai sebuah kesaksian bahwa hanya kasih karunia-Nya yang memungkin hal ini terjadi. Manusia yang menyadari besarnya kasih karunia yang dialami adalah manusia yang menyatakan kehidupan yang membuat dirinya dapat berdiri dan bermegah (Roma5:2).
Manusia yang menyadari kasih karunia Allah adalah manusia yang:
1. BERSUKACITA menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara KASIH KARUNIA-SUKACITA.
2. BERSYUKUR sebab apa yang telah dialami dan semua peristiwa yang terjadi dalam hidupnya tidak mengubah kasih-karunia Allah kepadanya.
3. RENDAH HATI kasih karunia hanya diberikan kepada mereka yang rendah hati Yakobus 4:4
Paulus menjelaskan bahwa dalam kasih karunia yang melimpah itulah jemaat di Makedonia mampu bersyukur, bersukacita dan rendah hati. Demikianlah hendaknya jemaat Korintus juga demikian. Hal ini diwujudkan melalui kesadaran reflektif, kesadaran sebagai hasil renungan dalam berujung pada melihat sesama sebagai subyek dan bukan obyek.
Memperlakukan sesama sebagai obyek adalah merendahkan kemanusiaan sesama sebab kemanusiaan hanya dihitung dengan uang. Diakonia bukan subyek-obyek, pelayanan bukan subyek-obyek, termasuk persembahan uang bukan soal subyek-obyek. Sebab apakah yang bisa kita berikan kepada Allah yang punya segala sesuatu? Jadi memberi bukanlah dalam pikiran akan berkurang tetapi memberi bertolak dari kesadaran bahwa ‘...malah berkelebihan dalam pelbagai kebajikan (2 Kor. 9:8b) Pikirkan itu.
2. Cinta selalu punya cita-cita (ayat 13-15)
Kasih karunia Allah yang dinyatakan kepada manusia memungkinkan manusia mendapat kesemaptan untuk hidup lebih baik. Sehingga memungkinkan subyek yang lain itu dapat melimpahkan ucapan syukur kepada Allah (ayat 13). Kasih karunia bukan karena apa yang dikerjakan manusia tetapi tetapi apa yang dikerjakan oleh Yesus (Efesus 2:7). Semua ini dikerjakan Allah dalam Yesus karena Ia mengasihi manusia. Kasih-Nya kepada manusia tidak menempatkan manusia sebagai obyek tetapi subyek dari kasih yang diterima tersebut. Dengan cinta yang besar terkandung cita-cita Tuhan yang luar biasa yakni kasih karunia tiu tidak disia-siakan oleh manusia yakni dengan meneruskan berita cinta kepada sesama.
Rasul Paulus hendak menunjukkan bahwa memberi kepada jemaat Yerusalem dengan tujuan ada keseimbangan (isotitos-persamaan). Artinya bahwa jemaat di Korintus memberi dan jemaat Yerusalem juga memberi sehingga terjadi relasi timbal balik yang sejajar yang seirama, yang ‘equal’. Ini berarti jemaat Yerusalem bukanlah obyek bantuan tetapi mereka adalah subyek yang dapat memberi yang mungkin tidak sama denga napa yang diberikan jemaat Korintus.
Cinta selalu hadir dengan kekuatan untuk memberi sehingga cinta yang demikian menjadi cinta yang mahal cinta yang tidak murah. Cinta Allah di dalam Yesus selalu bertujuan untuk menghadirkan yag terbaik bagi manusia. Leo Tolstoy “When you love someone, you love the person as they are, and not as you’d like them to be.” ("Ketika kamu mencintai seseorang, kamu mencintai orang itu apa adanya, dan bukan seperti yang kamu inginkan.").
Inilah cinta Allah dan inilah cinta yang juga harus digemakan dalam kehidupan. Dengan begitu memberi dengan cinta selalu menghadirkan kepastian bahwa memberi tidak pernah sia-sia. Sebagaimana juga dikemukakan dalam kitab Keluaran 16: 18 yang menjelaskan menjelaskan bagaimana orang Israel mengumpulkan manna yang secara ajaib diberikan Tuhan kepada mereka dari surga untuk makanan sehari-hari mereka. Setiap orang akan mengambil sebanyak yang dia butuhkan.
Pada akhirnya, tidak peduli berapa banyak yang terkumpul, tidak ada yang memiliki lebih atau kurang dari yang dibutuhkan untuk hidup. Dengan mengutip Keluaran 16:18 ini Paulus menyatakan bahwa Korintus maupun Yerusalem akan selalu ada dalam kecukupan oleh pemeliharaan Allah. Allah memelihara manusia sebab Ia punya cinta-cita punya rencana besar bagi manusia.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Maka melalui firman Tuhan hari ini kepada kita dikemukakan bahwa sebagai ciptaan Allah yang mendapat kasih karunia hendaknya kita meneruskan berita kasih karunia itu kepada sesama. Kita tidak dapat mencintai Yesus tanpa mencintai tubuh-Nya yakni persekutuan orang percaya. Kita tidak dapat mencintai Yesus tanpa meneruskan perhatian kita terhadap sesama. Maka uang yang diberikan bukan sebagai subyek - obyek tetapi sebagai subyek-subyek.
Ada yang memberi uang dan yang menerima uang bukanlah obyek tetapi semua anggota tubuh Kristus yang beragam dapat mewujudkan kehadiran yang bermakna karena uang dan pelayanan menjadi sangat berarti. Uang bukanlah sebagai sarana untuk mengukur kemanusiaan tetapi sebagai sarana untuk meneruskan kabar baik.
Uang dalam kesadaran kasih karunia akan sangat berarti dan tidak sia-sia serta memanusiakan manusia. Setiap berkat yang berasal dari Tuhan bukanlah karena kita obyek tetapi subyek yang semakin mendekat kepada Tuhan. Maka dengan uang yang kita miliki munculkan pertanyaan ini: apakah kasih karunia-Nya sia-sia? Dan pertanyaan berikut ‘apakah uang membuat kita semakin jauh dari Allah atau semakin dekat?’
Pikirkan hal ini. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan Tuhan pelayanan dengan uang kita tidak sia-sia. Amin.