Dibaca : 16695 x
KhotbahMinggu, 07 Mei 2023 1 Timotius 6:6-10 UANG: KEJARLAH DAKU KAU KU TANGKAP
 Money is a good servant, but a bad master (Francis Bacon)
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Uang adalah hamba yang baik tapi tuan yang buruk menunjukkan bahwa uang harus diperlakukan dengan benar. Uang jika dipersonifikasikan sebagai seorang pelayan atau seorang tuan sangatlah berhubungan dengan pemilik uang itu sendiri. Membicarakan uang bukanlah hal sederhana sebab dapat menimbulkan beragam tafsir sehingga jarang dibahas secara khusus. Dalam hal ini khotbah tematis GPIB Jemaat Maranatha hendak mempelajari bagaimana peran uang dalam perspektif iman sebab PENGETAHUAN akan memunculkan KESADARAN yang akan memunculkan KEBAIKAN dan berujung PERBAIKAN. Dalam konteks inilah khotbah tematis disampaikan sebagai upaya untuk melengkapi setiap orang percaya dengan PENGETAHUAN TEOLOGIS mengenai uang dan memperoleh PENGETAHUAN tentang kebenaran (2: 4). Jadi pengetahuan akan kebenaran inilah yang akan membatasi pengaruh dari berbagai ajaran yang sesat dan tidak benar agar kehidupan Timotius sebagai pelayan dan sekaligus umat yang dilayani adalah persekutuan yang mengakar pada kebenaran yang hakiki, mendasar dan penting yakni Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan setiap orang berdosa (1: 15). Karya penyelamatan Yesus yang memungkinkan hidup menjadi bernilai. Bertolak dari pemahaman inilah teks bacaan kita menggemakan pesan bahkan perintah tentang kehidupan orang percaya yang berpusat kepada Yesus Kristus. Rasul Paulus menasihati betapa pentingnya pengetahuan tentang ajaran yang benar agar sebagai pelayan di jemaat Timotius dapat menyampaikan pokok-pokok ajaran yang benar. Ajaran itu dalam bacaan kita dikemukakan demikian.
1. Tentang Ibadah Dan Uang (ayat 6-8)
Para pengajar sesat telah menyesatkan jemaat dengan menyatakan bahwa ibadah (Eusebia-Yun) itu sumber keuntungan (religion is supposed to make you rich �" v.5 contemporary English version (CEV). Dengan pemahaman seperti ini maka ibadah telah kehilangan nilai hakiki sebagai bentuk tanggapan atas kasih karunia Allah. Kehidupan beribadah tidak lagi menjadi tempat dan waktu untuk memuji dan memuja Tuhan tetapi telah menjadi sarana penipuan dengan pikiran yang kotor memanipulasi kasih karunia yang mahal sehingga menjadi murah. Ibadah lalu dihayati sebagai tindakan pada waktu dan tempat tertentu dan bukan dalam keseharian. Timotius diingatkan bahwa hidup peribadahan yang berporos kepada Allah adalah ibadah yang mencakup keseluruhan aktifitas sehari-hari sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1). Paulus mengemukakan bahwa jika pelayan dan jemaat yang tidak merasa cukup (content) hal itu akan menjadi pintu masuk bagi segala kejahatan sebab pelayanan tidak lagi murni telah dipengaruhi oleh pikiran yang terselubung untuk mendapat keuntungan. Para pelayan sesat itu loba dan berpikir hanya untuk keuntungan materi bagi diri sendiri. Para pengajar sesat itu telah mengukur spiritualitas mereka dengan ukuran uang sehingga mereka yang memiliki uang banyak lebih rohani dari mereka yang tidak memiliki uang banyak. Mereka para penyesat ini tidak menjadi teladan sehingga Paulus meneguhkan Timotius untuk keteladanan (1 Tim. 4: 12) dalam kasih, kesetiaan dan kesucian.
Melalui pengajaran ini kita semua sebagai pelayan maupun warga jemaat perlu memiliki kejernihan berpikir bahwa kehidupan sehari-hari kita adalah bentuk kesaksian bahwa Allah dalam Yesus Kristus terus terlibat secara aktif. Sebab apakah kaya atau tidak kaya bukanlah ukuran kesalehan tetapi kehidupan sehari-hari itulah yang menampilkan kesalehan sejati. Dengan pengajaran demikian Paulus menunjukkan bahwa apakah posisi sebagai budak atau sebagai tuan (6:1) harus menempatkan Allah di posisi utama. Dengan demikian posisi mereka satu dengan lain adalah posisi sebagai manusia yang memperoleh kasih karunia yang sama di dalam Tuhan Yesus. Jika hidup mereka hanya berorientasi pada ketamakan maka relasi antar manusia berubah menjadi relasi antara obyek dan subyek. Relasi obyek dan subyek akan menjadi relasi yang kering dan tidak sehat. Pelayanan seperti ini akan menempatkan uang sebagai tujuan, uang sebagai puncak pelayanan dan uang sebagai penguat posisi.
Jika uang menjadi pusat peribadahan maka hidup kesalehan menjadi rasional misalnya mengasihi lalu dihitung dan diukur dengan uang. Kasih karunia Tuhan yang melampaui daya nalar manusia lalu direndahkan dalam ukuran uang. Ketika ibadah dikurung dalam keuntungan uang maka ibadah itu menjadi ibadah yang korup sebab telah kehilangan nilai yang luhur dari kesalehan.
Maka kita perlu terus menggemakan pemikiran bahwa ketika uang menjadi tujuan utama dalam kehidupan maka itu berarti seluruh kehidupan telah diukur dengan nilai pada uang. Kebaikan lalu tergantung pada uang dan bukan nilai kebaikan itu sendiri. Kasih lalu bergantung kepada uang dan bukan pada kasih itu sendiri. Semuanya berawal dari dari cara berpikir yang melenceng dari kehendak Tuhan yang harus berada di atas segala-galanya. Paulus yang mengingatkan bahwa manusia itu terbatas dan dalam keterbatasan hidup dalam waktu maka manusia tidak membawa apapun ketika waktu hidupnya selesai di dunia (ayat 7). Di sini hendak dikemukakan kepada kita semua bahwa uang tidak lagi berarti dan uang juga terbatas. Maka jika pelayan dan warga jemaat hidup dengan pemahaman bahwa nilai kehidupan itu terletak pada uang itu berarti sedang terjadi sikap merendahkan kasih karunia.
Apakah ini berarti manusia tidak perlu uang? Manusia tetap memerlukan uang tetapi tidak menempatkan uang sebagai alat untuk mengukur kepenuhan sebagai manusia. Setiap orang percaya perlu menyadari bahwa dirinya bernilai tinggi sebab ditebus dengan darah yang mahal (1 Petrus 1:18-19). Ketika kita mengejar uang maka uanglah yang akan menangkap kita dan menjadi tuan atas diri kita dan bukan pelayan bagi kita. Ini bahaya yang harus terus diawasi dengan cermat agar hidup spiritualitas kita setiap hari tidak di diukur dengan nilai pada uang sebab jika itu terjadi nilai kita semakin merosot.
2. Akar Segala Kejahatan Ialah Cinta Uang (ayat 9-10)
Pengajaran penting yang disampaikan kepada Timotius pada bagian ini berkaitan erat dengan desire to be rich, yakni keinginan untuk menjadi kaya. Keinginan ini bertumpu pada kesalahpahaman bahwa kekayaan didapatkan melalui ibadah, seolah-olah melalui ibadah uang akan berlipat ganda dengan sendirinya. Apa yang terjadi dengan kesalahpahaman ini ialah jatuh ke dalam berbagai pencobaan (peirasmon) untuk terus menerus melakukan kejahatan. Paulus menasihati mereka yang tidak kaya agar waspada untuk menjadi kaya dengan berbagai tindakan jahat yang akan membinasakan dirinya. Ibadah yang disertai cinta uang adalah ibadah yang menyimpang atau menjauh dari iman dan berujung pada duka.
Timotius perlu waspada dengan pengajaran yang disampaikan agar tidak menyebabkan jemaat di Efesus tenggelam dalam ajaran yang keliru dengan melihat bahwa tindakan apapun dapat dilakukan demi menjadi kaya. Cinta uang -philargyria -cinta perak menunjukkan hadirnya unsur ketamakan yang memunculkan berbagai derita. Cinta uang akan memperlihatkan betapa uang sangat berkuasa dan kekuasaan itu adalah kekuasaan yang destruktif/merusak.
Georg Simmel dalam bukunya ‘Philosophy of Money’ menyatakan bahwa ‘money is very powerful’ dengan alasan bahwa:
a. Uang menghilangkan unsur subyektif pada benda
b. Uang menguatkan perbedaan posisi sehingga relasi hanya berdasarkan kepentingan posisi.
c. Uang menghadirkan logika kalkulasi dalam relasi
d. Uang menimbulkan sikap acuh �" hubungan antar manusia tidak lagi penting.
e. Uang memunculkan kehidupan yang semakin impersonal.
Maka ketika cinta uang merasuk dalam kehidupan seseorang yang terjadi ialah persekutuan menjadi persekutuan yang hanya diukur dengan uang. Spiritualitas sehari-hari tidak lagi penting sebab yang penting bagaimana uang dimiliki. Dengan konteks seperti inilah Paulus menyatakan bahwa sebagai manusia Allah (ayat 11- man of God) Timotius harus mengutamakan keadilan, kesetiaan, kasih , kesabaran dan kelembutan. Hal-hal yang sangat indah ini akan menjadi komoditas/barang dagangan jika hanya diukur dengan uang. Ibadah dan lain sebagainya hanya diukur dengan uang sehingga hidup yang dijalani diukur juga dengan uang. Semua ini menjadi jerat yang akan memudarkan spiritualitas setiap hari.
Di sisi lain uang menjadi sangat spiritual ketika ditempatkan dalam pemahaman ‘dikerjakan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia’ (Kol.3:23). Sehingga uang yang dipakai untuk memenuhi Pendidikan anak, kebutuhan sehari-hari dan sebagainya yang sejajar dengan hal itu adalah cinta Tuhan adalah akar segala kebajikan. Uang juga menjadi sangat bernilai dan sangat rohani.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Maka kehidupan kita yang adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah sebagai ibadah yang sejati (Roma 12:1) bermakna penting sebab di dalamnya termasuk uang. Memberi persembahan kepada Tuhan itu penting dan tidak kalah penting adalah memakai uang sebagai alat untuk kebutuhan seperti Pendidikan, kesehatan, kebutuhan setiap hari. Maka bagi mereka yang kaya Paulus menasihati agar selalu menempatkan Yesus dipusat kehidupan mereka (ayat 17) dan mereka yang ingin kaya justru terjebak dalam pola hidup yang nafsu yang hampa dan menenggelamkan (ayat 9). Jadi soal kaya atau tidak kaya menurut Paulus yang utama siapa yang berada dipusat kehidupan itulah yang menentukan kualitas hidupmu entah kaya atau tidak.
Sebagai warga gereja kita tidak mengalami chrometophobia yakni takut pada uang (seberapa banyak penderitanya?) dan sekaligus kita tidak mengidap philarguria (cinta uang). Mereka yang phobia terhadap uang maupun cinta uang adalah pribadi-pribadi yang tidak pernah berpengetahuan tentang kebenaran. Peringatan ini secara jelas dikemukakan Paulus di 2 Tim. 3:1-2 atau Ibrani 13:5. Cinta uang bisa menghilangkan kepuasan pribadi (self satisfaction) sehingga tidak pernah ada kata cukup dan ujungnya adalah hilangnya rasa syukur. Ke-Kristen-an tidak pernah anti pada orang kaya dan tidak pernah menganjurkan untuk menjadi miskin tetapi iman Kristen selalu berhubungan dengan Siapakah yang lebih utama dalam hidup dan bukan apa yang utama dalam hidup. Pelayanan yang menurunkan derajat kebenaran firman Tuhan agar dapat uang sesungguhnya menurunkan nilai diri seorang pelayan Tuhan. Tetap semangat dan setia pada hal-hal kecil sehingga hal-hal besar yang dipercayakan Tuhan tidak mengurangi kesetiaan kita. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|