Dibaca : 16532 x
KhotbahJumat 7 April 2023 Matius 27:32-44 PENYALIBAN YESUS, ADAKAH AKIBATNYA?
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Salib adalah bentuk hukuman yang memiliki pesan yang jelas dan kuat bahwa penguasa selalu menang, bahwa dikotomi antara yang menguasai dan diakuasi demikian lebar dan yang paling utama salib adalah bentuk penyiksaan tanpa belas kasih. Peristiwa penyaliban Yesus merupakan peristiwa penting sebab salib merujuk kepada karya keselamatan yang tidak murah apalagi mudah (band. 1 Petrus 1: 18-19). Narasi tentang penyaliban Yesus menjadi peristiwa yang menukik pemahaman bahwa maut menjadi pihak tergugat yang tidak berdaya oleh-Nya yang berpihak pada kehidupan. Penyaliban yang menjadi lambang penghinaan bagi kemanusiaan manusia, menjadi lambang betapa rendahnya nilai manusia dalam cenkeraman dosa dan sekaligus kematian ini membawa pengaruh yang besar bagi kehidupan jemaat pertama.
Mereka menyatakan bahwa hidup menjadi bermakna secara baru oleh peristiwa Yesus yang tersalib. Maka peristiwa penyaliban tidak saja sebagai peristiwa historis namun memiliki kedalaman makna dalam perspektif iman. Seluruh rangkaian peristiwa Yesus di salib hendak menguatkan kesadaran umat bahwa iman mereka kepada Yesus yang tersalib adalah pengakuan yang bermuara pada karya yakni meneruskan kabar baik sampai ke ujung bumi (Mat. 28: 18-21)
Penyaliban yang berlangsung di ruang publik adalah sebuah pengumuman yang menebarkan ancaman dan ketakutan bagi siapapun yang melihatnya. Berangkat dari pemahaman yang demikian maka penyaliban merupakan upaya penundukkan terhadap seseorang yang akhirnya mati dan sekaligus penundukkan kepada semua orang. Maka penyaliban Yesus sekaligus pemberitaan di ruang publik bahwa keselamatan sedang terjadi dan bahwa salib bukanlah kata akhir. Keselamatan inilah yang terus diberitakan bahwa setiap pengikut Kristus tidak pernah berhenti memercayai Ia yang sudah mengalami penyaliban setelah proses perudungan dan penderitaan yang memuncak pada kebangkitan.
Jika demikian maka apakah pesan yang ditunjukkan melalui peristiwa salib? Paling sedikit demikian:
1. Ayat 32 : Simon dari Kirene adalah orang yang dipaksa untuk mengambil bagian atas pemikulan salib. Sebuah peristiwa yang tidak terduga namun ikut mengubah seluruh kehidupan Simon orang Kirene yang anak-anaknya Rufus dan Alexander turut memberitakan kabar sukacita (band.Mark. 15: 21 dan Roma 16:13). Perubahan besar yang terjadi bagi Simon bermula dari perjumpaan yang tidak terduga sebab Simon dipaksa untuk memikul salib-Nya. Perjumpaan Simon Kirene dengan Yesus terjadi dalam rentang waktu singkat tetapi perjumpaan itu memberi pengaruh besar bagi Simon. Murid-murid yang selama ini ada di sekitar-Nya justru tidak nampak bahkan penyangkalan menjadi primadona.
Simon Kirene adalah pribadi yang mendapat makna baru tentang Paskah setelah sekian lama merayakannya. Perjumpaan yang singkat namun berkualitas memberi dorongan yang kuat bagi Simon untuk memberitakan perjumpaan itu kepada keluarga.
2. Ayat 33- 37: Pada bagian ini diperlihatkan bagaimana Yesus yang menolak minuman anggur yang dicampur empedu yang berfungsi untuk mengurangi rasa sakit. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus merasakan kesakitan yang hebat dan tidak dalam kekuasaan anggur bercampur empedu. Keadaan ini hendak memberi ketegasan tentang karya penebusan yang mahal dan tidak terselami oleh manusia.
Cuma-cuma namun tidak berkualitas rendah. Alasan penyaliban yang terpasang di atas kepala-Nya untuk memberi penegasan bahwa sebagai seorang yang layak disalib. Tulisan itu memberi penjelasan kepada orang banyak bahwa menjadi pengikut Yesus akan mengalami hal yang sama. Menjadi pengikut Yesus haruslah bungkam ketika berhadapan dengan teror salib yang menakutkan. Dengan menolak anggur campur empedu sekaligus menunjukkan karya keselamatan yang murni dan utuh serta tidak bersifat transaksi. Maka narasi yang hendak dimunculkan adalah kesediaan untuk menanggung kejahatan manusia agar manusia mengalami pembebasan dan pemulihan.
3. Ayat 38-44 : Seluruh cemooh yang dilontarkan kepada-Nya saat di salib merupakan alasan setiap orang yang lewat untuk menunjukkan bahwa untuk percaya kepada-Nya adalah mustahil (ayat 42). Dengan begitu maka ditekankan juga bahwa percaya kepada-Nya sebagai Mesias adalah kegagalan sebab Mesias tidak mengalami penyaliban. Cemooh yang dikemukakan kepada Yesus merupakan jawaban bagi setiap orang percaya bahwa percaya kepada-Nya bukanlah hal sederhana sebab percaya kepada Yesus yang tersalib adalah keberanian untuk juga melewati suasana cemooh yang sering dialami pengikut Kristus. Melalui peristiwa penyaliban dengan alasan yang dipasang di atas kepala-Nya hendak dikemukakan bahwa salib adalah kepantasan bagi-Nya. Namun bagi kita saat ini salib yang tidak pantas untuk-Nya menjadi pantas oleh karena dosa kita.
Sahabat-sahabat terkasih
Pada saat ini ketika Perjamuan Kudus dilaksanakan, kita patut memaknai-Nya sebagai peristiwa yang menghadirkan syukur. Makna Perjamuan Kudus mengikat setiap orang percaya dalam kesatuan yang terus memberitakan kabar sukacita sebab dijumpai oleh-Nya. Yesus yang tersalib membuka pemahaman tentang percaya yang tidak dibatasi oleh peristiwa menyenangkan tetapi sekaligus peristiwa yang menegangkan.
Perjumpaan dengan Yesus dalam kondisi apapun hendaknya membawa pengaruh dalam kehidupan keluarga sebab keluarga menjadi ruang perjumpaan yang bernilai ketika Yesus yang tersalib diberitakan. Hendaklah setiap warga jemaat mensyukuri perjumpaan dengan-Nya sebab percaya bahwa setiap bentuk peristiwa (baik atau tidak baik) adalah peristiwa yang semakin meneguhkan iman kepada-Nya.
Perjamuan Kudus bukanlah peristiwa duka tetapi peristiwa kemengan-Nya yang melampaui kematian. Salib tidak lagi sebuah kehinaan tetapi menjadi penegasan bahwa hidup yang manusia yang ditebus-Nya adalah hidup yang dimungkinkan oleh kasih-Nya (band. Yoh. 3: 16). Jumat Agung bukanlah peristiwa yag berdiri sendiri tetapi bagian dari keseluruhan kisah yang berpuncak pada kehidupan. Hal ini menjadi titik tolak baru bagi setiap orang percaya bahwa percaya kepada-Nya dalam segala keadaan adalah kualitas yang patut dinyatakan.
Perjamuan Kudus sekaligus menjadi sarana pengumuman bahwa salib dengan sifatnya yang mengancam akan berhadapan dengan salib dalam makna baru yakni terjadinya transformasi dalam kehidupan umat sebagaimana dialami oleh Simon Kirene. Transformasi spiritual itulah yang kemudian tampil sebagai bentuk kesaksian yang baru dan relevan yakni membungkus setiap perubahan dengan makna keselamatan agar manusia dan segala ciptaan mengalami kehidupan.
Perjamuan Kudus menjadi tindakan yang menghadirkan sukacita bahwa kehidupan sungguh sangat berarti dalam perjumpaan dengan Yesus yang tersalib. Perjumpaan dengan Yesus yang tersalib bukanlah perkara mudah sebab dengan segera berhadapan ruang public yang penuh dengan ketimpangan dan penuh dengan kejahatan. Tindakan Perjamuan Kudus adalah bahasa iman bahwa Ia menjumnpai manusia dalam setiap cabikan agar manusa mengalami keutuhan.
Selamat Hari Jumat Agung, maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|