Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Alkisah suatu hari setelah beribadah bapa gereja bernama Thomas Aquinas terdiam. Penulis karya besar ‘summa theologica’ itu hanya berdiam dan berkata pada sahabatnya bahwa ia tidak lagi dapat menulis. Thomas menarik diri dalam hening hingga ia meninggal tahun 1274. Thomas menulis dengan kata dan mengemukakan konsep tentang Allah namun pikiran tentang Allah tak mampu sedikitpun bisa memuaskan sebab Allah lebih kaya dari kata dan konsep. Kata dan konsep tentang Allah dapat membuat orang demikian fanatic sehingga dapat mengorbankan sesama hanya demi kata dan konsep. Dalam diam dalam hening kata dan konsep tentang Allah meluruh dalam kesatuan batin yang menyegarkan dan tidak membelenggu.
Dalam kitab Nahum kita berjumpa dengan kata dan konsep yang dapat menggelisahkan batin kita sebab bukankah Allah adalah Allah yang penuh kasih bahkan identitas-Nya adalah kasih (1 Yoh. 4:8). Jika demikian Allah yang penuh dendam, cemburu, pembalas adalah Allah yang sangat berlawanan dengan konsep Allah yang lazim dikemukakan. Bahwa Allah adalah Allah yang penuh kasih nampak dari tindakan-Nya yang menjaga dan mendampingi manusia dalam kehidupan. Jika demikian bagaimana memahami Allah sebagaimana ayat 2?
Di sisi lain dalam kisah Nahum juga dikemukakan bahwa Allah menyampaikan ucapan-Nya kepada Niniwe (ayat 1). Ucapan yang tidak hadir dengan begitu saja tetapi didasarkan pada tingkat kejahatan Niniwe yang luar biasa seperti dikemukakansebagai kota penumpah darah (Nahum 3:1) dan memperdaya bangsa-bangsa dengan persundalannya (Nahum 3: 4) dan akibatnya adalah lukamu tidak tersebuhkan (Nah. 3:19)
Dari penjelasan ini dapat dikemukakan bahwa suara Allah kepada Niniwe adalah seruan hukuman kepada bangsa yang tidak bertobat. Jika demikian bagaimanakah kita memahami nubuat Nahum ini?
1. Pada ayat 2 jika dikemukakan bahwa Allah adalah pembalas kepada lawan-lawan-Nya. Hal ini hendak menegaskan bahwa Allah adalah Allah yang penuh kasih tetapi sekaligus Allah adalah Allah yang adil dalam hukum-Nya. Kejahatan Niniwe, persundalan Niniwe adalah kejahatan yang akhirnya berbalik dialami oleh Niniwe atau Asyur. Segala kejahatan Niniwe adalah benih kehancuran yang dialami oleh Niniwe. Allah adalah Allah yang dalam kuasa-Nya membalik keadaan Niniwe dari pelaku kejahatan menjadi korban kejahatan dan inilah yang terbukti kemudian ketika Niniwe takluk pada Babel (612 SM) Perkataan Ilahi inilah yang sekaligus menjadi penghiburan bagi Yehuda yang mengalami penindasan oleh Asyur. Pada ayat 3 dimana dikemukakan bahwa Tuhan itu panjang sabar (slow to anger) menjelaskan bahwa jika hukuman atas Niniwe terjadi hal itu disebabkan karena kejahatan yang luar biasa.
Jadi narasi ini bukan sebagai kabar gembira bagi Yehuda karena Niniwe dinubuatkan akan hancur tetapi sebuah peringatan juga bagi Yehuda. Seluruh gagasan yang muncul pada ayat 2 adalah Tuhan itu tidak berpihak pada pelaku kekerasan, Tuhan tidak berpihak kepada penindas, Tuhan tidak berpihak kepada pelaku kejahatan. Maka setiap bentuk kejahatan yang terjadi merupakan benih kehancuran yang akan dialami oleh setiap pelaku kejahatan.
Maka pesan yang kuat adalah jangan berlaku jahat dan menindas sesama sehingga menjadi kejahatan itu akan merusak kehidupan sendiri. Kita bisa saja memposisikan diri sebagai yang bukan Niniwe tetapi jika kita mau belajar maka perilaku Niniwe adalah gambaran yang lazim ditemui saat ini.
Kejahatan dibungkus sedemikian rupa sehingga menjadi tidak terlihat jahat, apalagi jika dikemas dengan ayat-ayat Alkitab. Ketika manusia senang menggunakan kekerasan dan mengabaikan kebenaran maka ujung dari pola hidup demikian adalah kehancuran. Jadi teguran ini hendak menjelaskan bahwa jangan terjebak dengan kata dan konsep tentang Allah yang hanya menyenangkan diri tetapi seperti Thomas Aquinas yang akhirnya memilih hening daripada banyak berteori tentang atribut Allah.
2. Di sisi lain apada ayat 3 dikemukakan bahwa Allah adalah Allah yang panjang sabar dan besar kuasa-Nya maka identitas ini tidaklah berdiri sendiri. Allah hanya panjang sabar maka atribut-Nya tidaklah lengkap sebab Ia tidak berdiam diri ketika kejahatan terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa sekalipun Tuhan itu panjang sabar tetapi bukan berarti Ia bisa dipermainkan oleh manusia. Maka panjang sabarnya Tuhan bukan berarti umat bisa melegalkan kejahatan, hati-hati sebab Tuhan bukan Allah yang tidak mempedulikan kejahatan. Waktu saat Tuhan menyatakan tindakan-Nya yang membebaskan adalah waktu yang ditentukan-Nya dan ini tidak berarti umat memandangnya sebagai kesempatan untuk terus melakukan penindasan.
Demikianlah sebagai orang percaya saat ini kita perlu mewaspadai pola hidup permisif yang menjadi kecenderungan kuat. Gaya hidup dimana manusia bisa berbuat kekejian pada sesama dalam tindakan yang merendahkan sesame. Kita bisa saja berpikir bahwa kita adalah korban tetapi tanpa sadar kita sendiri adalah pelaku penindasan. Inilah pelajaran yang penting jika penindasan itu menjadi kata dan kosep maka mundurlah sejenak untuk meluruhkan semua kata dan konsep tentang Tuhan dan sebaliknya mengakui bahwa Tuhanlah yang menghadirkan karya pembebasan.
Sahabat-sahabat terkasih,
Di Minggu-minggu pra paskah inilah kita semua diundang untuk merenungkan dengan sungguh bahwa Allah adalah Allah yang penuh kasih dan penuh keadilan. Keadilan-Nya dinyatakan karena tekanan dosa yang mengikat secara luar biasa. Dosa dengan segala kemampuan yang destruktif hadir dengan cakar tajam yang mencengkeram setiap manusia. Pada saat pengalaman pahit itu terjadi percayalah ‘gusti ora sare’, Tuhan tidak pernah tidur untuk berhadapan dengan kejahatan yang dibuat sistematis.
Tuhan adalah Tuhan yang menyampaikan berita baik dan sekaligus peringatan kepada setiap orang percaya bahwa Ia adalah pembebas dan sekaligus Ia tidak pernah kompromi dengan dosa. Kuasa-Nya yang digambarkan pada ayat 3 akhir menjelaskan bahwa Allah adalah Allah yang luar biasa dalam gemuruh puting beliung dan badai tetapi juga Tuhan yang menyapa manusia dalam keteduhan (1 Raja 19: 11-13).
Allah tidak saja hadir secara luar biasa tetapi juga hadir dalam keteduhan dan keheningan. Bukan lagi soal kata dan konsep tentang Allah tetapi pengalaman iman bersama Allah menjadi berita sukacita yakni Ia menebus dan membebaskan kita dari kuasa dosa yang mencekeram dan sekaligus mengingatkan jangan main-main dengan kejahatan, jangan main-main dengan dosa. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya kita tidak saja berjumpa dengan Allah yang dahsyat dalam keadilan-Nya tetapi juga Allah yang lembut dan panjang sabar (1 Raja 19:12). Amin.