Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Kepekaan dalam mengamati berbagai peristiwa tentu memerlukan perhatian tersendiri sebab dalam pengamatan yang demikian dibutuhkan sikap terbuka menerima peristiwa. Artinya kesediaan untuk menerima peristiwa merupakan sikap arif karena apakah pembelajaran yang didapat dari setiap bencana? Setiap bencana dapat dengan segera memunculkan pembelajaran baru sehingga kesediaan untuk bertahan dalam setiap bencana bukan hanya berurusan dengan upaya melewatinya tetapi sekaligus menempa karakter manusia.
Bencana adalah peristiwa yang dahsyat sehingga Yoel memerintahkan umat untuk terus menyampaikannya ke setiap generasi. Kisah bencana memang kisah memilukan sebagaimana kisah bencana yang terjadi di Turky saat ini.
Bencana merupakan peristiwa dahsyat dan ukuran kedahsyatan sebuah bencana melekat dalam pikiran sehingga daya rusaknya berjangka panjang. Maka bencana akan menghasilkan dua pandangan yang mencerminkan dua karakter manusia yakni manusia yang cerdas atau manusia yang arif. Jika manusia cerdas akan mencari solusi atas peristiwa bencana maka manusia arif akan belajar dari bencana yang dialami orang lain.
Dalam perspektif demikian maka peristiwa bencana alam yang dialami Israel adalah peristiwa yang perlu menjadi pelajaran penting bagi kita dewasa ini. Pelajaran penting ini memungkinkan kehidupan orang percaya yang selalu piawai dalam menjawab bencana dan selalu terbuka untuk belajar dari setiap bencana. Jika demikian maka pengajaran apakah yang bisa didapatkan dari kisah bencana dijaman Yoel?
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Pertama adalah Firman Tuhan yang datang kepada Yoel (ayat 1-3) menjelaskan bahwa Firman itu menjumpai manusia dan mengundang manusia untuk bersama-sama mendengarnya. Firman itu menjumpai manusia dan membuka kesempatan bagi manusia untuk mempelajarinya, merenungkannya serta mewujudkannya.
Firman yang menjumpai manusia adalah firman yang dikemukakan kepada generasi demi generasi sehingga setiap generasi punya peluang untuk belajar dari pengalaman pendahulu. Sebagai umat Tuhan yang saat itu mengabaikan Allah, mengabaikan ibadah dan ujungnya mengabaikan kebenaran maka bencana ditarik menjadi bagian dari kehidupan. Setiap praktek yang mengabaikan kebenaran memang beresiko untuk ‘dikunjungi’ oleh bencana dalam berbagai bentuknya. Maka sikap yang diperlukan adalah ketenangan dan kejernihan pikiran.
Apakah muara dari kejernihan tersebut adalah menjawab ajakan Tuhan untuk berbalik kepada Tuhan dengan sepenuh hati (Yoel 2: 12). Belalang dalam jumlah yang besar adalah gambaran tentang besarnya deviasi/penyimpangan yang dilakukan umat. Kejernihan hati dan pikiran sekaligus menunjukkan bahwa firman Tuhan memiliki potensi yang besar untuk memperbaiki jika secara pararel disandingkan dengan kekuatan belalang yang sifatnya merusak. Maka pesan penting yang dikemukakan ialah jangan pernah mengabaikan kuasa firman Tuhan yang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan dan memperbaiki kelakuan (Ibrani 5:14).
Hal inilah yang perlu kita rawat dan terus dibangun dalam kerangka menghadirkan kehidupan yang cerdas dan sekaligus berhikmat. Dalam kehidupan yang kita jalani bukankah kadang badai hadir yang berjilid-jilid dan menyulitkan semua lini kehidupan.
Pergumulan bisa saja hadir dengan kuasa yang merusak tetapi firman Tuhan bisa hadir dengan kuasa yang memulihkan. Inilah yang membuat kita tidak kehilangan harap tetapi dalam keruhnya pandangan mampu untuk dengan jernih melihat dengan mata iman betapa berharganya kehidupan. Maka setiap peristiwa yang pahit / bencana memang membuat kita lunglai tetapi dalam terang firman Tuhan setiap orang diarahkan untuk terus melangkah dalam pembaruan budi.
Kedua (ayat 4-6) menjelaskan dengan terperinci kekuatan dari unsur-unsur kuasa jahat. Unsur-unsur jahat itu memiliki gigi dan taring yang sanggup merobek dan merusak. Daya rusak yang demikian luar biasa mematikan dan menjerumuskan sehingga baik ratap maupun tangisan tak dapat menandinginya. Maka dalam keadaan yang demikian diperlukan kesadaran bahwa bencanapun dapat menghadirkan kualitas hidup-inilah kearifan, inilah hikmat. Ketika kesediaan untuk belajar dari berbagai peristiwa memang bisa melelahkan namun dalam kesadaran bahwa kuasa Allah yang menghidupkan lebih besar maka diperlukan kesediaan untuk berputar kembali dan mengarakan pandangan kepada Tuhan adalah jawaban yang paling anggun menyikapi berbagai pergumulan.
Keadaan ini tidaklah mudah, keadaan ini tidaklah sederhana maka pelajaran penting ialah berputar arah dan mengarah kepada-Nya merupakan jawaban cerdas dan arif. Unsur -unsur yang demikian jahat kini dihadapkan dengan unsur-unsur yang menghidupkan untuk menjalaskan bahwa berkat Tuhan bisa hadir dalam hal-hal kecil. The difference between something good and great is attention to details dapat merupakan tanggapan dan bukan reaksi. Kematangan inilah yang diperlukan dalam kenyataan dewasa ini yang sungguh-sungguh hadir dengan belalang yang beragam bentuknya. Belalang kejahatan, belalang pengkhianatan, belalang korupsi, belalang permisif semuanya dapat hadir dengan gelombang penyerangan yang tidak terduga.
Dalam konteks suami-istri maka dapat dikemukakan bahwa kualitas relasi suami-istri hanya bertumpu pada kecerdasan dan kearifan. hal inilah yang diperlukan ketika dihadapkan pada berbagai belalang yang merusak.
Namun dalam kesediaan untuk terus menatap kepada Tuhan merupakan jawaban yang cerdas dan arif untuk menanggapinya. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita di tengah berbagai bencana tidaklah sia-sia. Amin