Sahabat yang terkasih
Kita berada di hari terakhir tahun 2022. Tahun dimana peristiwa suka kita alami tetapi sekaligus derai airmata. Tahun dimana kedangkalan berpikir menjadi jawaban instan atas beragam peristiwa dan sekaligus tahun dimana bertahan pada idealisme tidaklah selaras dengan kebutuhan.
Mengakhiri tahun 2022 bukan saja perubahan angka tetapi sekaligus pendewasaan dalam tutur dan laku.
Perenungan saat ini didasarkan pada gerak dan tindakan yang dilakukan Yesus pada masa-Nya. Ketika pemberitaan Injil menjadi tujuan utama kehadiran-Nya. Ketika gerak dari satu tempat ke tempat lainnya berlangsung secara konstan. Ia yang tidak terjebak pada popularitas yang ramai tetapi sebaliknya menarik diri ke tempat yang sunyi (Ayat 42).
Yesus membuat batas yang tegas antara popularitas publik dan kesendirian dalam sunyi. Yesus yang menjawab keinginan orang banyak dengan tindakan retreat adalah Yesus yang tidak dapat ditahan siapapun dan apapun.
Menarik bahwa Injil yang harus diberitakan adalah Injil yang seolah nampak tertahan oleh keinginan yang besar. Keinginan yang bertumpu pada kenyataan bahwa ada sejumlah pertanyaan yang perlu jawaban (ayat 42). Yesus menunjukkan bahwa jawaban atas segala pertanyaan yang paling mendasar adalah keinginan yang kuat memberitakan Injil. Pada titik inilah Yesus menperlihatkan pengajaran penting bahwa:
1. Penyertaan Tuhan kadang hadir di ruang sunyi (ayat 42).
Keadaan sunyi bisa saja dialani di tengah berbagai aktifitas. Keadaan sunyi dapat menjadi ruang perenungan betapa baiknya Tuhan yang bergerak di semua aktifitas umat. Hari ini sekalipun dihadapkan dengan kenyataan sunyi justru membuat kita punya waktu jeda untuk bersyukur. Seluruh perjalanan hidup di tahun 2022 menjadi bukti bahwa Ia terus berkarya dalam sunyi, dalam senyap di tengah riuhnya suara pergumulan. Di tempat yang sunyi menolong kita untuk menajamkan kepekaan/ intuisi. Maka akhir 2022 adalah batas yang tidak membatasi ruang gerak Tuhan Yesus menyatakan Injil.
2. Kesadaran pada tugas memberitakan Injil (ayat 43).
Menyadari tugas utama untuk memberitakan Injil menjadi unsur pembeda yang jelas. Ketika masyarakat disesaki dengan berita bohong dan penuh intrik serta menggelisahkan maka diperlukan hadirnya berita Injil yang membawa sukacita dan kelegaan. Inilah yang diperlihatkan oleh-Nya di tengah tarikan yang riuh untuk menahan. Ketika masyarakat dijejali dengan kepalsuan namun diperlukan untuk mengamankan keinginan maka diperlukan Injil yang menunjukkan adanya apreasiasi tanpa kepalsuan, teguran tanpa keinginan menghancurkan.
Maka kesadaran betapa pentingnya memahami tugas sebagai pemberita Injil memungkinkan terwujudnya kualitas hidup orang beriman. Inilah tugas yang semakin mengalami distorsi oleh beragam aspek, mengalami hambatan oleh berbagai sebab.
Ketika memberitakan Injil hanya dilihat sebagai beban maka kabar sukacita tidak tersebar dan menjangkau setiap orang. Ketika kabar sukacita menjadi bahasa yang asing karena hidup dengan berbagai bahasa yang dangkal dan merendahkan serta penuh kebencian. Maka perkataan Yesus menjadi penegas bahwa setiap orang yang mengenal dirinya sendiri dan memahami kerapuhannya adalah orang yang paling berpeluang untuk memberitakan Injil sebab Injil menjadi kebutuhan yang mendasar.
Sahabat-sahabat terkasih
Di akhir tahun ini marilah kita jeda sejenak untuk dengan jernih mengakui bahwa dalam berbagai peristiwa di tahun 2022, kita telah disertai oleh-Nya. Ketika kesunyian dialami oleh berbagai peristiwa yang menggelisahkan, di tempat itu juga Ia tetap menyertai. Ketika keriuhan tidak mampu menghalau kegelisahan maka dalam kesunyian kita berjumpa dengan-Nya. Pengakuan inilah yang membuat kita bersyukur di akhir tahun 2022.
Kita juga mengakui kerapuhan dan kelemahan kita sehingga pemberitaan Injil dapat terhambat, pemberitaan Injil tidak menjadi prioritas di tengah kemilau prioritas yang lain. Maka sudah waktunya kita semua menunduk di hadapan-Nya serta memohon kesediaan-Nya agar penyertaan-Nya tidak berubah. Selamat mensyukuri tahun 2022 dan selamat memasuki tahun 2023.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin.
Baca Juga: