Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Kata damai memberi gambaran tentang keadaan yang tenang, tidak ada kerusuhan, aman, rukun (kbbi) sehingga menjadi dambaan dan harapan semua orang disegala jaman. Damai menjadi isu penting sehingga perlu ada pembicaraan antar pemimpin bangsa. Damai seperti ini seringkali berhubungan dengan kekerasan sebab untuk alasan perdamaian maka senjata-senjata diciptakan. Damai seperti ini adalah damai dalam ancaman, damai dalam ketegangan, damai tetapi dalam ketakutan. Damai yang ditawarkan oleh kekuatan dunia tentu beda dengan damai yang diberikan oleh Yesus seperti dalam Yohanes 14:27
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.
Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
Pernyataan Yesus menunjukkan bahwa damai yang diberikan oleh-Nya adalah damai yang sangat berbeda dari usulan atau tawaran dunia. Apakah yang menjadi batas perbedaan antara damai dari Yesus dan damai dari dunia? Hal inilah yang dikemukakan dalam Nyanyian Maria sebagai bacaaan kita. Nyanyian Maria atau Magnificat ini adalah elemen dasar dari terwujudnya keadaan damai yang maknanya melampaui jaman. Adapun pengajaran penting yang hendak dikemukakan adalah:
1. Maria Mengarahkan Pandangan-Nya kepada Allah (ayat 46-49)
Pada bagian ini Maria mengumandangkan keyakinan iman kepada Allah yang telah melakukan perbuatan besar kepadanya (Lukas 1: 38). Nyanyian pujian ini diungkapkan Maria sebelum kelahiran Yesus sehingga didasarkan pada kepastian bahwa keadaan sulit yang akan dialaminya tidak terlepas dari penyertaan Allah (Lukas1:37). Hal ini menunjukkan di tengah kenyataan yang tidak mudah Maria mengarahkan pandangannya hanya tertuju kepada Allah. Pada bagian ini dikemukakan bahwa Allah yang sedang bertindak dalam kuasa-Nya yang besar sehingga Maria menyadari bahwa panggung kehidupan adalah Allah dan bukan Maria. Dengan mengarahkan pandangannya kepada Allah maka Maria memproklamirkan kebesaran Allah dan tidak memproklamirkan kebesaran dirinya yang mengandung Yesus. Maria dengan sadar mengarahkan pandangannya kepada Allah dan mengakui kesediaan dirinya menjadi bagian dari rencana karya Allah yang menjadi manusia dalam Yesus Kristus.
Dalam kesadaran bahwa ‘aku’ (Maria) adalah ‘aku’ yang terjamin dalam kehidupan sekalipun sekalipun berada pada posisi yang rendah (perempuan, miskin, muda, hamil). Namun semua keadaan tersebut tidak menghalangi Maria untuk ‘bergembira’ (joy not happy) sebab sekarang Maria tidak lagi perempuan yang rendah dan sederhana tetapi sekaligus seperti Debora dengan lantang menyuarakan kebesaran Allah yang telah menjumpai manusia.
Pada titik inilah kitab isa belajar tentang bagaimana memahami bahwa dalam seluruh kehidupan kita perlu gelora antusiasme yang membesarkan Allah. Siapapun kita dengan keadaan apapun, baik suka maupun duka kita perlu untuk terlibat dalam karya Allah yang melibatkan kita seperti Ia melibatkan Maria dalam rencana-Nya. Inilah alasan damai.
2. Maria Mengumandangkan perombakan struktur sosial (ayat 51-55)
Struktur sosial dan moral yang buruk kini berhadapan dengan perombakan yang dilakukan oleh Allah. Ia (Allah) bertindak dengan setia kepada mereka yang rendah, mereka yang tersingkir, mereka yang tidak berdaya. Ia (Allah) melakukan perbuatan merendahkan yang congkak hati (ayat 51) dan meninggikan yang rendah. Maria menyuarakan sebuah perubahan yang mendasar bahwa Allah adalah Allah yang solider dengan manusia tetapi tidak pernah solider dengan dosa. Maria menyuarakan suara lantang tentang adanya perubahan yang mendasar dalam tatanan kehidupan yang berpusat pada Allah sebab Allah adalah Allah yang mengasihi tetapi sekaligus adil (soal hukum).
Pelajaran penting dalam kehidupan selaku orang percaya untuk selalu melihat keterlibatan Allah sebagai keterlibatan yang membebaskan. Allah membebaskan setiap orang percaya melalui perubahan yang mendasar yakni sosial dan moral. Maka dalam perubahan yang demikianlah kita berada dalam suasana damai.
Sahabat-sahabat terkasih.
Melalui pengajaran ini penting untuk selalu dicamkan bahwa focus kehidupan kita adalah Yesus. Arahkan seluruh perhatian kita kepada-Nya melalui karya yang beragam sehingga di setiap karya yang kikta kerjakan selalu muncul pernyataan yang kuat ‘jiwaku membesarkan Allah’. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih Lelah kita tidak sia-sia. Amin.