Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Sukacita adalah kata yang diharapkan dari generasi kegenerasi, dari masa ke masa sebab sukacita memang tidak mengenal kadaluwarsa. Sukacita bergerak dalam harmoni kehidupan yang memungkinkan seseorang mampu melukis bunga cantik di tengah kesuraman hutan. Sukacita bukanlah barang yang bisa dibeli dalam jumlah banyak dan diperlakukan sesukahati. Sukacita adalah kekuatan menyatakan iman ditengah kenyatakan yang melemahkan. Artinya sukacita bukanlah benda yang bisa dibeli dimana saja kapan saja dan siapa saja, tetapi seperti kata Henry Nouwen demikian: Sukacita tidak terjadi begitu saja pada kita. Kita harus memilih sukacita dan terus memilihnya setiap hari.
Dari bacaan saat ini dikemukakan makna dari sukacita yang memberi pemahaman bahwa manusia bukanlah produsen sukacita tetapi Allah. Pada diri Allah bergerak sukacita yang memungkinkan setiap orang percaya dapat mengerti bahwa sumber sukacita adalah Allah. Beberapa hal yang dikemukakan oleh bacaan kita saat ini adalah:
1. Sukacita dari Allah bukanlah sukacita Herodes (ayat 5-7)
Sukacita dari Allah selalu hadir dengan semangat pembaruan yakni pembaruan relasi antara umat dengan Allah. Sukacita seperti ini berbeda dengan Herodes yang berjasa membuat Bait Allah demikian megah melebihi Salomo. Jadi keadaan yang kontras ini hendak memberi penegasan bahwa sukacita dari Allah diwujudkan-Nya bukan karena jasa apapun, bukan karena jabatan apapun, tetapi karena Ia berkenan menjumpai manusia dalam kerapuhan. Ia memahami keterbatasan manusia dan menyatakan derajat manusia menjadi kemilau adalah alasan untuk sukacita.
Perbedaan antara Herodes dan Zakharia-Elizabeth adalah perbedaan yang mendasar karena menunjukkan bahwa keduanya dapat bersukacita tetapi dengan alasan yag berbeda. Yang satu berdasarkan jasa-jasa sementara Allah bertindak melampaui hal tersebut yakni memberi panggung bagi pelayanan Yesus (Matius 11: 11)
Maka sukacita kita dalam kehidupan ini menjadi utuh Ketika ditempatkan dalam kerangka menjadi sarana bagi pelayanan Tuhan. Sukacita yang demikian adalah sukacita yang tidak saja berkemilau tetapi sekaligus abadi. Kita patut meyakini bahwa setiap upaya kita untuk terus berada dijalur yang demikian merupakan jalur untuk memilih bahwa sukacita kita benar seperti kata Leonardo Da Vinci : “The noblest pleasure is the joy of understanding.” yang dalam konteks ini adalah understanding the plan of God.
Gagasan tentang keturunan yang dibangun berdasarkan penilaian manusia seringkali menghadirkan kegelisahan. Kenapa ? sebab pada jaman itu penilaian terhadap perempuan mandul demikian rendah. Hidup tanpa keturunan adalah aib yang harus dipikul oleh Zakharia-Elizabeth. Kekuatan mereka untuk menanggung beban tidak dapat diragukan karena pada ayat ke 6 memberi penjelasan yang eksplisit. Namun keuletan dalam melayani sebagai imam tidak mengalami kemerosotan karena mereka suami-istri hidup dalam ketetapan Tuhan. Di sinilah tampil keutuhan suami-istri yang tidak diracuni oleh penilaian manusia namun tetap setia untuk melayani dalam keluarga. Hal ini jugalah yang memungkinkan sukacita terus bergelora dalam bingkai ketaatan kepada-Nya.
2. Keterpilihan dan rencana Allah (ayat 8-14)
Zakharia seorang anggota imam dari rombongan Abia keturunan Harun menunjukkan bahwa kehadirannya dalam perjumpaan dengan Gabriel adalah adalah bagian dari rencana Allah. Allah memilih seorang yang sudah berusia lanjut, mandul, adalah gagasan yang berlwanan dengan pandangan umum. Kenapa Zakharia? Tidak ada jawaban atas pertanyaan tersebut namun yang pasti Elizabeth mendapat posisi baru yakni berlawanan dengan penilaian masyarakat. Keraguan Zakharia yang berujung pada kebisuan (ayat 20) menunjukkan bahwa rencana Allah tidak bisa dibatalkan oleh pertanyaan manusia. Di titik inilah sukacita menjadi lengkap menjadi utuh karena menyadari kuasa dari rencana Allah mendatangkan sukacita.
Demikianlah kehidupan kita semua selaku orang percaya yang hadir dengan pemahaman yang pasti tentang keterlibatan Allah dalam kehidupan. Keterpilihan kita dan rencana-Nya yang berlaku merupakan unsur sukacita dalam menjalani kehidupan yang ramai dengan beragam penilaian. Tetap focus untuk memberi panggung bagi Yesus dan bukan diri kita sendiri sebab pada saat demikian sukacita telah menjadi pilihan kita.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Dewasa ini sukacita menjadi demikian sulit, Bahagia lebih popular dibandingkan sukacita tetapi yang Allah mau adalah supaya kita tidak berhenti pada Bahagia tetapi terus berjumpa dengan sukacita. Apakah dasar dari pilihan untuk sukacita yakni mengerti bahwa panggung kehidupan kita adalah untuk Tuhan. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya sukacita kita tidak sia-sia. Amin