Khotbah Tematis - GPIB Jemaat Maranatha Surabaya
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Seorang penulis Perancis François de La Rochefoucauld (1613-1680) pernah mengemukakan bahwa cinta sejati seperti hantu, dibicarakan banyak orang tetapi hanya sedikit yang pernah melihatnya (True love is like ghosts, which everyone talks about and few have seen). Apa yang dikemukakan adalah tentang cinta dari perspektif dicintai dan bukan mencintai. Artinya seseorang mengemukakan cinta is like ghosts adalah mereka yang skeptic tentang cinta itu sendiri. Skeptisisme ini adalah ciri khas manusia yang tidak pernah tuntas dengan keinginan untuk tahu dan gamang dalam upaya mewujudkan cinta sejati yang selalu dilihat sebagai romantisme dan bukan militansi. Tetapi dari pembacaan Kitab Suci saat ini diperlihatkan dengan gambaran yang tegas dan kuat tentang militansi cinta Allah kepada manusia.
Israel menjadi contoh tentang bagaimana cinta kasih Allah yang militant tidak bisa dibatasi oleh batas-batas negara, batas-batas kekuatan super bahkan batas yang paling utama yakni kematian. Semua batasan itu tidak dapat membatasi gerak cinta Allah yang militant dan terus berupaya menjumpai manusia yang dicintai-Nya. Allah menghukum umat-Nya tetapi hukum itu bukanlah batas akhir dari cinta kasih Allah sebab sekalipun Ia menghukum tetapi Ia memulihkan. Ia menghukum agar manusia memahami tatanan yang dikehendaki-Nya yakni kehidupan yang penuh dengan sejahtera.
Cinta Allah kepada manusia adalah cinta yang kuat sebagaimana dikemukakan dalam Kidung Agung 8: 6 " cinta kuat seperti maut. Cinta-Nya tidak terbelenggu oleh berbagai persyaratan sehingga manusia bisa menemukan kembali pengharapan oleh cinta-Nya sehingga ciri khas cinta-Nya adalah demikian:
1. Cinta-Nya selalu membebaskan (ayat 1-2)
Cinta kasih Allah kepada manusia adalah cinta yang memerdekakan cinta yang melepaskan dan mencerdaskan. Umat mengalami belenggu di Babel dan tindakan yang merendahkan tetapi sebaliknya tindakan Allah adalah tindakan yang meninggikan. Umat mengalami keadaan yang berduka tetapi cinta Allah menghadirkan penghiburan (ayat 1). Hiburkanlah " comfort adalah perubahan dari keadaan yang tidak berdaya dan menjadi jaya. Dari keadaan yang tertekan menjadi kelepasan. Maka penghiburan dari Tuhan bukanlah sebuah gagasan yang romantic tetapi penghiburan itu diwarnai sikap militan. Inilah waktunya untuk direngkuh oleh cinta-Nya yang mendewasakan, yang memulihkan, yang memerdekakan, yang militant.
Dalam minggu adven ke-2 yang bertema cinta hendak menunjukkan bahwa dalam keadaan yang laing sulit sekalipun jangan pernah ragukan cinta-Nya.
Sesulit apapun prosesnya, kita tidak boleh meremehkan pekerjaan Tuhan dengan bertanya, "Bukankah Dia mengasihi saya? Kenapa hal ini terjadi?" Cintanya abadi. Minggu Adven hendak menolong kita mematuhi karya-Nya dalam balutan cinta yang militan sehingga setiap pemazmur ungkapkan demikian: Mazmur 63:3 - Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Maka hari disampaikan kepada kita semua bersiaplah untuk mengalami cinta kasih yang Maha Tinggi. Saudara bisa saja mengalami kecewa oleh berbagai peristiwa dan terbelenggu oleh luka batin. Kita bisa saja sedang berada di tengah tekanan kuasa yang membuat kita lelah tetapi cinta kasih-Nya kembali menyegarkan. Jadi bersiaplah untuk cinta-Nya. Bersiaplah untuk direngkuh oleh-Nya dalam cinta kasih yang membebaskan.
2. Persiapkan Jalan Bagi-Nya (Ayat 3-4)
Firman Tuhan di ayat 3 dan 4 ini adalah firman Tuhan yag harus di dengar sebagai sebuah perintah. Firman Tuhan inilah yang akan terpenuhi dalam diri Yohanes Pembaptis yang disebut sebagai ‘suara’ yang berseru. Suara hadir memberi tanda bahwa kedatangan Allah bukan meninggikan setiap gunung dan bukit tetapi meratakannya. Padang gurun dan padang belantara adalah area yang tidak dapat ditundukkan dan penuh dengan ancaman. Padang gurun dan padang belantara adalah wilayah kuasa-kuasa yang mematikan. Maka ketika persiapan terhadap kedatangan Allah diwujudkan disanalah terwujud kemuliaan Tuhan yang dinyatakan (ayat 5). Inilah ayat yang kemudian merujuk kepada Yohanes Pembaptis yang hadir dengan semangat yang militan semangat untuk mempersiapkan kedatangan-Nya.
Melalui bagian ini kepada kita semua dikemukakan bahwa cinta kasih Allah adalah cinta kasih yang menundukkan segala penghalang antara manusia dan Allah. Jalan terjal kehidupan yang diwarnai kegelisahan akan segera berakhir. Padang gurun dan belantara yang menakutkan kini mengalami perubahan oleh cinta-Nya. Maka dalam konteks ini hendak dikemukakan bahwa ‘suara’ cinta kasih-Nya perlu terus dikumandangkan. ‘suara cinta kasih’ inilah yang harus bergema dan nyaring di tengah suara-suara bising yang menumpulkan semangat. Mendengarkan suara-Nya adalah bentuk persiapan bagi kedatangan-Nya kembali. Minggu adven menunjukkan bahwa Yesus sudah hadir bersama kita dalam Roh Kudus sehingga sekalipun orang percaya menjalani jalan yang sunyi dan terjal, jalan di padang gurun yang menakutkan, gunung dan lembah yang memisahkan, semua itu harus diratakan. Ini berarti menyambut kedatangan cinta kasih-Nya adalah dengan menanggalkan segala kejahatan, mengabaikan segala tarikan penyesatan di padang gurun dan belantara. Dengarlah ‘suara-Nya’ agar setiap orang percaya paham bahwa hidup dalam belenggu dosa dan hidup terpisahkan dari Allah adalah hidup yang merana.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Pesan kuat yang hendak disampaikan kepada kita saat ini adalah percaya pada penghiburan Tuhan, dan memastikan penyerahan diri pada balutan cinta kasih yang memerdekan. Maka minggu-minggu Adven adalah minggu kontemplatif agar penghayatan pada karya Allah mengkristal dalam karya. Dengarkan ‘suara-Nya’ dan jangan percaya pada ‘suara’ yang hendak memisahkan kita dari cinta kasih Allah. maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelahmu tidak sia-sia. Amin.