Dibaca : 16821 x
KhotbahKamis, 6 Nopember 2022 1 Petrus 1:3-12 KETIKA HARAPAN MENGALAMI UJIAN
 Sahabat yang Tuhan Yesus kasihi, Surat Petrus ini memberi pengajaran penting kepada jemaat waktu itu yang disebut ‘pendatang’ (stranger, aliens) (ayat 1). Kenapa sebagai pendatang? Sebab jemaat ada dalam dunia dengan identitas mereka yang baru. Berada di tengah dunia yang kuat penolakannya pada persekutuan yang masih muda merupakan masalah tersendiri. Persekutuan ini harus berhadapan dengan permasalahan yang bersifat theologis dan politis. Secara teologis mereka mengalami ‘dikeluarkan’ dari komunitas mereka, mereka menjadi orang-orang yang tidak lagi mengalami perlindungan. Secara politis mereka dilihat dengan penuh kecurigaan, siapa tahu mereka adalah penyusup. Jadi kehadiran jemaat Kristen waktu itu penuh dengan kecurigaan bahkan berujung tindakan. Dalam konteks inilah surat Petrus hendak menyampakain pengajaran yang penting kepada semua jemaat. Pengajaran yang berkaitan dengan hakekat mereka sebagai umat Tuhan.
Hidup Kristen bukanlah hidup yang mengagungkan penderitaan maupun sengsara sebab kehidupan yang demikian menghalau hakikat sukacita dalam Kristus. Pengajaran Petrus memberi penekanan yang kuat tentang memahami siapa jemaat secara benar. Pemahaman diri yang tepat akan menolong umat menghadapi kekuatan kebencian sehingga seperti kata Bonhoeffer bahwa hidup Kristiani anda membuat orang bertanya tentang ketidakpercayaan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran sebagai orang percaya memang tidak mudah tetapi penyertaan Tuhan harus diakui. Melalui pengajaran Petrus ini hendak dikemukakan bahwa:
1. Pengharapan Tidak Bersifat Imajinatif (ayat 3)
Ke-Kristen-an bukanlah iman yang hanya bersifat ilusi tetapi yang menjejak pada sejarah kehidupan manusia yang kongkrit. Ke-Kristen-an tidak hadir di awan-awan tetapi dalam perjumpaan dengan dunia. Maka pengharapan bukanlah sebuah kata untuk melarikan diri dari persoalan. Pengharapan hendak mempertegas siapa yang diimani Ketika berada dalam gelombang zaman yang menderu. Pengharapan yang didasarkan pada fakta-fakta sejarah adalah pengharapan yang mengakar dalam kehidupan. Pengajaran Petrus hendak menunjukkan bahwa kebersamaan dengan Allah dan Yesus Kristus adalah kebersamaan yang utuh dan tidak terpisahkan oleh persoalan. Pada saat demikian maka ungkapan ‘terpujilah’ menjadi penting sebab disitulah pengakuan keterlibatan Allah diakui. Keterlibatan yang mengarah pada pengharapan adalah keterlibatan yang merubah posisi orang percaya dari yang tidak berdaya menjadi berjaya.
Maka sebagai orang percaya dewasa ini memiliki pengharapan tetap menjadi penting sehingga mampu berhadapan dengan segala keadaan termasuk pergumulan. Memiliki pengharapan bukan sekedar berharap tetapi bertindak dalam pengharapan sebab pengharapan itu pada dirinya adalah hidup (Living hope). Jika demikian maka kehidupan yang dikuasai oleh pengharapan adalah kehidupan yang tidak mengecewakan (band. Roma 5:5). Ini mengarah pada keselamatan yang sesungguhnya bahwa hidup bukan kewajiban tetapi kesempatan untuk menyatakan hidup yang bermakna.
2. Iman yang berujung sukacita (ayat 7)
Percaya kepada Allah adalah percaya dalam tindakan sehingga percaya kepada Allah selalu mengakar dalam kehidupan. Contoh adalah otak kita, apakah kitab isa berkata bahwa kita orang yang tidak berotak hanya karena tidak melihat otak? Jadi jika iman itu berhubungan dengan keselamatan (ayat 9) maka hidup menjadi cermin dari keselamatan. Hidup yang demikian adalah hidup yang menggembirakan sebab jaminan yang tetap terjaga menjadi milik orang percaya (ayat 8,10).
Petrus hendak menyatakan bahwa kehidupan sebagai orang Kristen memang tidak mudah tetapi bukan berarti tanpa sukacita dan sukacitanya bukan saja soal disana kelak tetapi soal disini kini (ayat 😎. Sehingga iman kepada Yesus bukanlah soal penderitaan saja atau soal sukacita saja tetapi soal kearifan dalam menerima baik sukacita maupun penderitaan. Hal ini tentu akan menghadirkan kualitas kehidupan yang lebih baik secara individual maupun kolektif. Maka bagi kita dewasa ini diperlukan kepastian dan keyakinan iman kepada Yesus Kristus agar sukacita kita bukanlah sukacita dari dunia (band Yoh. 15:11)
Sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Melalui pengajaran inilah kita semua diarahkan untuk bisa memandang setiap peristiwa secara arif dan cerdas agar tidak tersandung pada kedangkalan makna. Artinya dalam melihat segala peristiwa hendaknya kita selalu berada dalam relasi yang kuat dengan Tuhan agar pengharapan dan iman berujung pada tindakan mengasihi yang benar. Mau terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya pengharapan tidak pernah sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|