Dibaca : 17054 x
KhotbahMinggu, 23 Oktober 2022 Yeremia 7: 21-28 MENDENGAR YANG PATUT DIDENGAR
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Persoalan besar dalam mendengar adalah mendengar untuk mengerti telah diabaikan, sebaliknya mendengar untuk menanggapi menjadi yang utama. Mendengar untuk mengerti adalah sebuah usaha untuk memahami apa yang menjadi "content listening" mendengar isi pembicaraan dan "emphatic listening" mendengar dengan empaty.
Mendengar dengan baik tidak berarti hanya diam tetapi pendengar yang baik akan selalu hadir dengan pikiran yang baik yakni tidak menghakimi, tidak cepat membuat keputusan dan piawai dengan setiap pengendapan makna kata.
Mendengar dengan baik akan selalu berhubungan sejarah, sebab sejarah selalu hadir dengan undangan untuk belajar dari pengalaman kata-kata, pengalaman akan peristiwa. Maka menjadi pendengar yang baik adalah mendengar untuk mengerti dan bukan mendengar untuk menanggapi.
Dalam perspektif inilah pesan Yeremia menjadi jelas yakni umat yang tidak mendengarkan suara Tuhan adalah umat yang akan tersesat dan terseret arus penyesatan. Artinya ketika umat secara hakiki tidak lagi mengakui kedaulatan Allah maka kerinduan umat untuk menjadi pendengar yang baik tidak terwujud. Jika demikian apakah isi berita yang harus di dengar? Dalam teks bacaan ini dikemukakan bahwa pesan yang harus didengarkan ialah:
1. Mendengar "isi ibadah" (ayat 23)
Dalam peribadahan umat hendak dikemukakan bahwa keterlibatan Allah dalam kehidupan umat tidak bisa diabaikan. Keterlibatan itu diperlihatkan sejak mereka keluar dari Mesir sehingga umat dapat menyadari bahwa kedegilan hati dan tegar tengkuk (ayat 26). Mendengar suara Allah tidak lagi menjadi prioritas tetapi mendengar suara sendiri menjadi yang utama. Beribadah adalah sebuah jawaban umat atas segala karya Allah yang membebaskan sehingga beribadah perlu diwujudkan dalam rasa syukur. Ibadah bukanlah sarana "sin loundering" sehingga ibadah nampak baik-baik saja padahal penuh dengan kemunafikan.
Allah memberi pengajaran bahwa belajar dari sejarah umat keluar dari Mesir adalah sejarah yang luar biasa bagi umat karena pembebasan dari belenggu kerja paksa yang tidak manusiawi. Beribadah bukanlah sekedar aktifitas fisik melainkan sebuah model kehidupan yang menempatkan Allah di pusat kehidupan. Ibadah yang berlangsung dalam perspektif tanggapan (good responder) hendak menunjukkan aktifitas Allah yang membebaskan. Maka isi ibadah adalah "dengarkalah karya Allah" yang berlangsung dalam sejarah kehidupan umat yang mengalami pembebasan.
Mendengar tidak lagi dibingkai dengan pikiran untuk menanggapi tetapi untuk mengerti apa yang menjadi rencana Allah bagi kehidupan orang percaya.Yesus sendiri secara eksplisit mengemukakan bahwa mereka yang mendengar suara-Nya bagaikan orang bijak yang mendirikan rumah diatas batu (Matius 7: 24).
Hanya dengan mendengarkan-Nya maka iman akan timbul (Roma 10:17). Jadi antara ibadah dan mendengar terwujud sebuah relasi yang tidak terkurung oleh fungsi semata tetapi yang hakiki yakni makna hidup. Maka kebahagiaan mereka yang mendengar Firman-Nya adalah kebahagiaan yang terwujud oleh pengertian bahwa Allah demikian baik (Lukas 11:28). Maka dalam peneguhan diaken-penatua saat ini hendak dikemukakan bahwa kebahagiaan sebuah pelayanan bukan saja soal pencapai, bukan soal menjadi pejabat gereja tetapi soal reputasi, soal nama baik.
Mendengarkan-Nya adalah sebuah kebahagiaan karena sabda-Nya menuntun orang percaya pada kebenaran. Mendengar suara-Nya adalah suara kepastian dalam menjalani pelayanan, suara pengharapan dalam menelusuri jalan perjumpaan dengan sesama. Suara-Nya perlu didengar di tengah kebisingan suara-suara yang lain sehingga menjadi mercusuar ketika jalan kelam pelayanan dilalui sekaligus menghadirkan kegirangan dalam persitiwa yang penuh pesona.
2. Mendengar suara sang Pengutus (ayat 25)
Allah memanggil dan mengutus hamba-hamba-Nya dan mengutus mereka untuk memperdengarkan suara-Nya. Umat tidak mendengar untuk mengerti sebaliknya umat mendengar dan bereaksi sehingga penolakan dan pengingkaran pada suara-Nya adalah awal dari runtuhnya kebenaran, robohnya kebajikan. Bagaimana membedakan suara sang Pengutus dari suara-suara lain yang bising dan menjerumuskan?
Pertama-tama dan utama adalah suara-Nya adalah suara kehidupan sementara suara lain adalah suara yang mematikan. Ketika suara yang didengar adalah suara yang meruntuhkan nilai kemanusiaan, meruntuhkan kebenaran, meruntuhkan kebajikan maka dapat dipastikan itu bukan suara Tuhan. Tuhan selalu berurusan dengan kehidupan sehingga sekalipun ada dalam kesesakan maka berseru kepada-Nya akan berujung pada kualitas kehidupan (Mazmur 34:12-13).
Yeremia yang diutus adalah nabi yang dengan setia mendengar suara sang Pengutus sehingga sekalipun berada dalam situasi yang sulit tidak mengurangi ketajaman telinga rohaninya mendengar suara Tuhan.Hari ini ketika saudara-saudari hadir sebaai presbiter tentukan sendiri suara siapa yang hendak didengar, suara Tuhan atau suara si jahat? Suara Tuhan bisa jadi suara teguran sementara suara si jahat terdengar lembut namun berujung maut dan yang membedakan adalah suara Tuhan selalu menghidupkan dan sebaliknya suara si jahat selalu mematikan. Mematikan semangat, mematikan akal sehat, mematikan pengharapan dan sebagainya. Maka penting untuk didengar untuk perjalanan 5 tahun kedepan adalah perjalanan pelayanan yang didasarkan pada mendengarkan suara-Nya agar pelayanan selalu hidup di tengah kebisingan suara, di tengah pergumulan, di tengah penolakan dan sebagainya.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Maka mengasah kepekaan untuk mendengar suara Tuhan dengan penghayatan untuk mengerti dan bukan untuk reaktif akan berujung pada pelayanan yang menghidupkan. Maka ada banyak suara di sekitar kita dan tidak semua suara harus didengarkan. Ada banyak suara di sekeliling kita tetapi tidak semua suara harus dipatuhi dan yang membedakannya adalah suara Tuhan menghidupkan pelayanan, suara si jahat mematikan pelayanan. Selamat melayani 2022-2027, dengarkan suara Tuhan maka pelayanan akan hidup.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|