Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Salah satu cirikhas manusia adalah kemampuan untuk memilih. Kemampuan memilih ini telah menghadirkan keindahan persahabatan atau rusaknya kemanusian akibat peperangan. Kemampuan manusia untuk memilih tidak dengan serta merta menghantar manusia memasuki ruang damai sejahtera sebaliknya kemampuan ini penuh dengan jebakan yang perlu diwaspadai. Pilihan bagaimanapun menjadi semakin rumit ketika pilihan yang tersedia demikian banyak. Karena itulah perlu ditentukan apakah yang menjadi prioritas dari pilihan yang hendak dilakukan.
Masalah yang dialami oleh Samuel adalah ketika anak-anaknya Yoel dan Abia (ayat 3) memilih untuk tidak setia pada jabatan mereka dengan melakukan ketidakadilan. Yoel dan Abia dengan sadar menentukan pilihan mereka untuk hidup jauh dari kebenaran sebagaimana yang dilakukan Samuel ayah mereka. Apa yang diperlihatkan dalam bacaan ini adalah pertempuran suasana batin untuk memilih dan pilihan ini akan berdampak besar terhadap kehidupan banyak orang. Sehingga dikemukakan oleh Reza Wattimena bahwa menentukan prioritas adalah sebuah pilihan yang esensial. Orang yang memahami hal paling esensi adalah orang yang dapat menentukan pilihan dengan tepat. Bukan pilihan berdasarkan pikiran spekulasi, bukan pilihan berdasarkan popularitas, bukan pilihan berdasarkan kepentingan tertentu.
Allah yang memilih Samuel sebagai hakim (1 Sam. 1:27-28), Samuel yang memilih Yoel dan Abia sebagai hakim (1 Sam.8:1) dan kini umat memilih raja untuk mereka. Semua bentuk pilihan itu berbeda namun memiliki benang merah yang sama bahwa pilihan itu diharapkan mampu menghasilkan kebajikan. Sebuah pilihan yang kemudian akan menentukan apakah kita cukup pandai mengelola kehidupan yang Tuhan anugerahkan. Apakah kita cukup jeli mempertimbangkan berbagai factor agar setiap pilihan dapat dipertanggungjawabkan kelak berdasarkan ‘reason of existence’ " alasan keberadaan. Dengan pemahaman demikian maka pengajaran yang kita dapatkan dalam perikop ini ialah:
1. Pilihan Allah vs Pilihan Manusia (ayat 1-5)
Allah yang memilih dan Ia setia pada pemilihan tersebut sekalipun pilihan-Nya kadang menghadirkan duka. Ia memilih manusia dan memahkotai manusia hingga hampir sama dengan-Nya (Mazmur 8:5) " memahkotai " atar berarti mengelilingi). Allah adalah Allah yang setia pada pilihan-Nya untuk menunjukkan bahwa dalam kehidupan yang diwarnai pilihan maka pilihan itu haruslah pilihan dengan ‘reason of existence’ yang jelas. Pilihan manusia selalu berorientasi transaksi dan inilah yang sering membelokkan kebenaran dan penuh dengan suap. Ketika kebenaran hanyalah kebenaran transaksional maka kebenaran direndahkan.
Sebagai umat Tuhan dewasa ini kepada kita semua dikemukakan bahwa hati-hati dengan pilihan yang harus ditentukan dalam kehidupan. Pilihan untuk berkeluarga bukanlah perkara sederhana sebab selalu ditempatkan sebagai bagian dari rencana dan karya Allah sehingga keluarga dapat memantulkan kasih Allah kepada semua mahluk.
Menentukan pilihan dengan belajar bagaimana Allah setia pada pilihan-Nya akan menolong kita untuk mawas diri dan tidak gegabah bersikap dalam segala ketidakmengertian kita menjalani kehidupan. Sebagaimana lagu ‘banyak perkara yang tak dapat kumengerti’ sehingga sekalipun kita tidak mengerti dengan berbagai peristiwa di lingkungan kita yang korup, yang batil, yang mengusung sifat-sifat kurawa dan bukan pandawa, tetaplah setia untuk memilih Allah. Tetap berdiri pada memilih Allah bukanlah tanpa resiko tetapi apakah eksistensi kita yang diciptakan hampir sama dengan-Nya harus diabaikan? (band. 1 Petrus 3:10)
2. Menolak Allah Menolak Sejahtera (ayat 6-9)
Episode pemilihan raja yang sekaligus secara eksplisit penolak terhadap Allah merupakan awal dari sebuah perjalanan kelam bangsa Israel. Pilihan untuk tidak meilih Allah sebagai raja merupakan sikap yang didasarkan pada keinginan untuk sama dengan yang lain (ayat 5). Keinginan untuk sama dengan yang lain tentu mengaburkan keberadaan umat sebagai umat yang sama dengan yang lain. Memilih untuk tidak memilih Allah menjadi persoalan serius ketika ditempatkan dalam proses kehidupan yang bermutu. Sikap ini dengan segera menyeret umat memasuki keadaan yang sangat berbeda yakni menjadi sama dengan dunia.
Kita bisa belajar bahwa pilihan untuk menjadi sama dengan dunia adalah pilihan yang bertentangan dengan maksud pemilihan Tuhan (band. Roma 12:2, Yoh. 8: 31-32). Pilihan untuk menjadi sama dengan dunia akan bermakna menolak damai sejahtera yang hakiki sebab hanya Yesus yang menjadi sumber damai sejahtera (Yohanes 14:27). Hal ini menunjukkan bahwa hidup bisa saja berjumpa dengan masalah seperti Yoel dan Abia, tetapi semua itu bukan alasan untuk mengabaikan damai sejahtera-Nya.
Sahabat-sahabat terkasih
Waspadalah dengan setiap pilihan sebab kesalahan dalam memilih adalah penolakan terhadap pilihan Allah. Dunia bisa saja hadir dengan beragam penawaran yang elok, yang kelihatan bagus tetapi sikap waspada pada pilihan akan menolong kita untuk tetap setia pada-Nya. Maju terus bersama Tuhan yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin