Dibaca : 17271 x
KhotbahMinggu 17 Juli 2022 Pengkhotbah 1: 1-11 KUALITAS HIDUP YANG TIDAK SIA-SIA
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Hari ini terasa istimewa sebab pada hari Minggu 32 tahun lalu dimulai sebuah perjalanan panjang sebagai Pendeta/ Pelayan Firman dan Sakramen. Selama 32 tahun pelayanan itu hanya ada 6 Minggu dimana tanggal 17 Juli menampilkan telunjuk peringatan untuk tetap bersyukur.
Hanna Arendt seorang filsuf Yahudi mengemukakan teori bahwa orang bisa saja mengalami kesulitan yang luar biasa namun tak pernah menemukan wujud si pelaku. Istilah yang dipakai Hanna Arend adalah Niemand Herschaft �" dominasi yang dilakukan oleh tak seorangpun. Kesulitan atau bahkan kekerasan menjadi peluang yang sahih atau kesempatan yang bersifat umum. Misalnya apakah para koruptor tidak tahu bahwa korupsi adalah tindakan yang salah? Pasti tahu namun korupsi tetap dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa ketika sebuah tindakan dilakukan oleh banyak orang dan tidak dipikirkan maka sekalipun tindakan itu keliru namun dianggap biasa.Dengan meminjam istilah Arendt maka dapat dikatakan bahwa gagasan tentang kesia-siaan adalah sia-sia ketika berpikir sia-sia.
Kesia-siaan dapat hadir dengan aroma yang harum untuk melegalkan putus asa bahkan alasan untuk berpaling dari Tuhan. Misalnya ketika hidup demikian sulit dan doa hanya ritual kecil yang mekanis maka pernyataan bahwa kehidupan adalah sia-sia. Secara umum hal ini berarti diabaikannya cara berpikir benar sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Gagasan tentang kesia-siaan adalah gagasan yang dihasilkan dari pemikiran yang tajam terhadap berbagai peristiwa. Hal ini penting sebab tanpa pemikiran yang tajam dan mendalam maka pernyataan tentang sia-sia tidak pernah muncul ke permukaan. Apa yang dikemukakan dalam pembelajaran saat ini merujuk pada kesiapan untuk membuka diri pada diri sendiri. Apakah hidup demikian sia-sia? maka pengajaran penting yang hendak dikemukakan adalah sebagai berikut:
1. ‘Flexing’ religi adalah sia-siaKetika hidup keagamaan yang dangkal melahirkan praktik keagamaan yang juga dangkal dan bermula dari ketajaman nalar diabaikan. Dewasa ini kata ‘flexing’ seringkali kita dengar yang artinya adalah pamer sehingga lebih cocok dengan pemasaran (kata Reza Wattimena). Keagamaan yang hanya pamer penampilan adalah keagamaan yang yang tidak menukik pada jati diri. Di sinilah kritik Pengkhotbah menjadi penting karena hendak mengarahkan pandangan serta kerinduan untuk mencapai nilai kehidupan. Maka setiap setiap jerih payah di bawah matahari memang sia-sia ketika berhasil sebagai lawan sia-sia hanyalah sebuah kemasan flexing religi (bandingkan 1 Korintus 15:58). Flexing religi tidak pernah menghasilkan keteduhan sebaliknya adalah pertentangan dangkal tanpa pikiran yang jernih.Dalam kehidupan kita dewasa ini sangat diperlukan keberanian untuk mengkoreksi diri sendiri yang demikian sibuk dalam gerak yang cepat dan tanpa jeda. Maka diperlukan kesiapan untuk bertanya kembali apakah kehidupan keagamaanku hanya sebuah tindakan pamer (flexing).
Keberanian untuk menyatakan bahwa segala sesuatu di bawah matahari adalah sia-sia merupakan koreksi terhadap pandangan yang penuh ambisi baik dalam pekerjaan (ayat 3), juga dalam generasi (ayat 4), juga alam (ayat 5-6).
Dengan begitu maka kehadiran pribadi yang bersedia untuk mengkoreksi diri sendiri tidaklah sia-sia. Inilah yang diajarkan kepada kita melalui pelayanan Tuhan Yesus dimana seluruh gagasan pelayanan-Nya bertumpu pada nilai kemanusiaan yang tinggi. Yesus tidak pernah pernah merendahkan semua usaha untuk mengalami perjumpaan dengan-Nya. Maka abaikan segala hal yang menjadi penghalang dalam persekutuan dengan-Nya dengan demikian hidup tidak pernah sia-sia.
2. Antara ‘kongkrit’ dan ‘abstrak’
Pendekatan konkritisme selalu berhubungan dengan peristiwa yang nyata. seorang anak harus diajarkan untuk mengerti apa arti belajar. Seorang anak akan belajar untuk mengerti apa yang dipelajari. Tetapi seorang dewasa adalah seorang pembelajar untuk menghubungkan semua pengetahuan itu dalam kesatuan yang semakin luas. Artinya ketika hidup adalah hidup untuk terus berdiskusi dengan diri sendiri maka hasilnya adalah sebuah percakapan dengan semesta, dengan yang lebih luas. Pada titik ini nampak bahwa ‘tidak ada sesuatu yang baru’ (ayat 10-11) sehingga sesuatu yang tidak pernah baru artinya termasuk apa yang dikemukakan sendiri. Tidak ada sesuatu yang baru telah menjadi ukuran dalam setiap bidang kehidupan untuk semakin menunduk di hadapan sang Pencipta. Berkat-Nya saja selalu baru setiap pagi (Ratapan 3: 22-23). Maka sebagai orang percaya dewasa inipun kita dapat menyatakan bahwa berkat Allah selalu baru tetapi tidak dalam bentuk kongkritisme. Kita diberkati agar hadir dimanapun untuk menularkan berkat bukan ke-sia-sian. Hiduplah dalam kebenaran yang demikian yakni selalu mengukur diri agar tidak memperhatikan yang lain. Menilai diri sendiri jauh lebih berhikmat daripada menilai orang lain.
Jadilah penular berkat sebab berkat-Nya tidak boleh berhenti di sini. Lanjutkan. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|