Dibaca : 16929 x
KhotbahMinggu 10 Juli 2022 2 Korintus 8: 1-7 SPIRITUALITAS MEMBERI
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Masa pandemic telah memberi pengajaran yang sangat kontras antara manusia yang hadir dengan mentalitas buruk yang mencari keuntungan dengan menjual masker dan semua kebutuhan waktu itu dengan harga mahal. Tetapi sekaligus dimasa pandemic telah hadir manusia-manusia dengan karakter yang murah hati (generous) yang tanpa ragu bertindak memberi (apa saja) kepada mereka yang terguncang oleh kedukaan, phk, dan sebagainya. Gereja tentu saja hadir dengan semangat menyatakan pemberian sebagai wujud cinta kasih Allah kepada manusia. Gereja melakukannya tanpa dibatasi oleh berbagai perbedaan sebab gereja sendiri adalah persekutuan yang beragam. Memberi sebagai tindakan yang murah hati tentu menjadi ruang kesaksian dimana kemurahan hati berlangsung bukan dari kelebihan saja tetapi bahkan dari kekurangan yang dimiliki gereja.
Dengan pemahaman demikian maka kita dapat pelajaran yang sangat berharga dari kisah tentang gereja-gereja di Makedonia. Jemaat di Makedonia mampu mendemonstrasikan tindakan murah hati yang didasarkan pada pemberian diri kepada Allah (ayat 5) yang kemudian menggerakkan hati mereka untuk membantu jemaat di Yerusalem. Apa yang dilakukan oleh jemaat Makedonia dipakai oleh Paulus sebagai contoh untuk mendorong jemaat di Korintus berbuat yang sama. Semua ini diarahkan kepada jemaat di Yerusalem yang mengalami penderitaan oleh berbagai sebab. Paulus memberi kesaksian bahwa jemaat di Makedonia telah meminta dan mendesak (ayat 4) agar bisa mengambil bagian dalam pelayanan kasih kepada jemaat di Yerusalem bukan karena kelebihan mereka.
Sahabat-sahabat terkasih
Melalui perikop bacaan ini dapat dikemukakan pengajaran yang sangat mendasar tentang apakah makna kemurahan hati dan bagaimana hal tersebut dapat diwujudkan. Pertama kemurahan hati jemaat di Makedonia (ayat 1-4) didasarkan pada pemahaman betapa besar kemurahan hati Allah yang diwujudkan dengan tindakan cinta kasih (band. Yoh. 3:6). Kemurahan hati jemaat di Makedonia tidak terlepas dari pemahaman tersebut sehingga kemurahan hati mereka tidak dipahami hanya sebagai tindakan insidentil tetapi sebuah gaya hidup. Kemurahan hati yang sebagai sebuah gaya hidup tentu tidak hadir begitu saja tetapi dari sebuah pembelajaran yang tanpa henti yakni belajar untuk terus mengasihi Tuhan dan sesama. Kemurahan hati yang demikian adalah kemurahan hati yang selalu merujuk pada kesadaran bahwa seluruh alur kehidupan ini pada dasarnya adalah memberi tanggapan atas kemurahan hati Allah didalam Yesus Kristus.
Jika demikian apakah tujuan kemurahan hati dalam bentuk pemberian kepada jemaat di Yerusalem? jawabnya agar setiap kemurahan dapat memunculkan rasa syukur kepada Allah (bacalah 2 Kor. 9:12-13). Jadi tujuan dari kemurahan hati pertama-tama adalah mereka yang mendapatkannya bersyukur kepada Allah. Bagi kita yang hidup di tengah dunia yang belum selesai dengan akibat pandemic maka kemurahan hati perlu terus kita rawat dan jaga. Kemurahan hati yang memungkinkan kita bisa berbagi banyak hal. Memberi perhatian, memberi semangat, memberi dorongan, memberi pengetahuan, memberi uang bahkan memberi ucapan terimakasih. Di dunia yang gersang karena gaya hidup egoistis maka pemberian berdasarkan kemurahan hati akan seperti air yang menyegarkan. Apakah kemurahan hati dapat berdampak pada kehidupan? Jawabnya pasti ‘ya’. Kemurahan hati akan membuat setiap orang percaya semakin dewasa dalam iman.
Kedua ayat 5-7 mengemukakan bahwa memberi tidak menyebabkan kekurangan tetapi sebaliknya semakin berkelimpahan (Amsal 11:24-25). Bagi jemaat Korintus dikemukakan oleh Paulus bahwa mereka tidak akan berkurang dalam berbagai hal akibat kemurahan hati mereka kepada jemaat di Yerusalem. Alasannya ialah pelayanan kasih mereka adalah pelayanan yang memerdekakan dan menghidupkan yang akan mereka alami sendiri. Jadi kehadiran yang memerdekakan dan menghidupkan sesama pada dasarnya adalah tindakan yang menghargai kemerdekaan dan kehidupan diri. Setiap orang percaya yang murah hati adalah mereka yang sudah mengalami kemurahan (Matius 5: 7). Memberi dengan tulus adalah kemurahan hati yang hanya bisa terwujud karena menghayati dengan sungguh-sungguh kemurahan hati Tuhan.
Sahabat-sahabat terkasih
Dalam kemurahan hati Tuhan kita dimungkinkan untuk terus mewujudkan kehidupan yang sangat membahagiakan. Sekalipun di tengah pergumulan dan tantangan kehidupan tidak membuat kita surut untuk melakukan kebajikan yang didasarkan kemurahan hati. Seperti dikemukakan Ibu Teresa ‘not all of us can do great things. But we can do small things with great love’. Jadi mari kita hadir sebagai orang percaya yang murah hati sebab kita kaya dalam berbagai hal. Mari wujudkan kemurahan hati itu dengan alasan yang luar biasa yakni mengakui bahwa kita sudah menerima pemberian-Nya dan supaya setiap orang dan bersyukur kepada-Nya. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|