Dibaca : 16731 x
KhotbahMinggu, 26 Juni 2022 Ratapan 1: 1-6 ‘MENDENGAR SUARA DERITA’
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Penulis kitab Ratapan memilih untuk menelaah semua persitiwa derita yang terjadi di sekitarnya sebagai kisah pembelajaran. Perubahan yang mendasar telahmenghadirkan penderitaan yang demikian kuat dirasakan oleh sang peratap. Apa yang terjadi di sekitarnya dicermati dengan teliti dan dengan hati-hati. Kenapa?
Sebab penderitaan menjadi ruang pembelajaran bagi seorang yang dewasa dan lebih dari itu penderitaan akan memunculkan pemahaman yang baru dalam relasi dengan Allah maupun sesama.
Penderitaan lalu memunculkan kesadaran penting bahwa hidup demikian bernilai bersama Allah sehingga ketika nilai tersebut mengalami penurunan maka penderitaan mendapat tempat yang terbaik. Dalam konteks inilah maka pengajaran yang dikemukakan oleh kitab Ratapan bukanlah supaya penderitaan disambut dengan tertawa karena ada Tuhan tetapi sebaliknya penderitaan tidak menurunkan derajat seorang pembelajar.
Dalam konteks ini juga dapat dikemukakan bahwa penderitaan dapat menjadi alarm peringatan yang kuat bahwa dalam kehidupan perlu pembaharuan, perlu ada restorasi yang meliputi semua aspek kehidupan.Yerusalem yang mengalami perubahan drastis dari tempat peribadahan dan kini hanya puing-puing kehancuran memang menjadi peristiwa yang tidak terhindarkan.
Peristiwa perubahan Yerusalem menjadi pengalaman pahit yang harus terus melekat dalam pikiran setiap umat Israel. Hal ini sebab kehancuran Yerusalem sekaligus menunjukkan bahwa Allah tidak idak dapat dipermainkan dengan gaya hidup yang penuh dosa. Bahwa hidup keagamaan tidak berdiri sendiri dan terlepas dari kehidupan setia hari sehingga hadirnya Yersualem bukanlah kesempatan untuk hidup dengan keinginan sendiri sambal meyakini bahwa Allah sepakat. Dengan piawai Yeremia menunjukkan bagaimana penderitaan yang dialami Yerusalem adalah penderitaan bangsa.
Penderitaan yang bisa memunculkan sejuta tanya ‘mengapa’ tanpa mendapat jawaban yang pasti. Penderitaan dan rasa sakit meresap karena kesedihan akan kehancuran Yerusalem sebagai tanda bahwa Allah tidak berpihak kepada mereka yang disebut umat Allah. Keberpihakan Allah kini seperti hilang karena kehancuran Yerusalem yang berarti kehancuran Bait Allah. Kekerasan yang dialami oleh umat saat itu sungguh menjadi peristiwa yang meruntuhkan harga diri mereka sebagai umat Allah. Di tengah-tengah situasi yang seperti itulah Yeremia menunjukkan ketajaman iman yang tidak terbungkus oleh kelabunya penderitaan. Beberapa hal penting yang dapat menjadi pembelajaran ialah:
1. Ayat 1-3 dikenakannya sebutan janda kepada Yerusalem dengan segera memperlihatkan adanya kerapuhan umat dan ketidakaman umat. Mereka tidak berdaya di tengah kenyataan keras yang menundukkan kebanggan mereka. Mereka disebut sebagai janda dan yatim untuk menjelaskan bahwa sedang terjadi perubahan status yang dipaksakan. Hal inilah yang memunculkan duka yang tidak dapat dihiburkan sebab perubahan struktur dalam kehidupan mereka. Tadinya bukan janda dan sekarang janda, tadinya bukan yatim dan sekarang adalah anak yatim. Ini semua memperlihatkan betapa dalamnya kesedihan umat dalam menjalani hari-hari mereka. Situasi yang buruk dan keadaan yang mendukakan telah menghadirkan suasana pilu dan mencekam. Lebih labih lagi hal ini ditambah dengan pengkhianatan dari sahabat yang berbalik menjadi seteru mereka (ayat 2) Kenyataan pahit yang menggelisahkan dan menyedihkan ini bagaikan pisau yang menghujam tanpa ampun melukai sehingga berujung hilangnya ketentraman �" she find no rest (NKJV). Maka dari suasana demikian pengajaran yang bisa diambil adalah sekalipun penderitaan terasa menyakitkan namun kehadiran-Nya selalu menyembuhkan. Penderitaan bisa dialami oleh kita saat ini bukan dalam bentuk fisik saja tetapi penderitaan mental bisa saja dialmi oleh keluarga-keluarga Kristen. Penderitaan yang diakibatkan oleh kesalahan membuat keputusan, kesalahan mengabaikan nasihat merupakan pertanda untuk bangkit kembali sebagai manusia baru. Dosa memang hadir dengan perkasa untuk meruntuhkan nilai kemanusiaan tetapi Allah hadir dengan berkat-Nya yang memulihkan (Ratapan 3: 22-23). Yeremia mampu memunculkan harapan di tengah keadaan yang demikian menyedihkan karena menghayati kesetiaan Allah yang tidak berubah. Inilah kedewasaan orang yang beriman kepada Allah bahwa setiap persoalan bisa saja dialami tetapi selalu mampu belajar dari pengalaman dahsyat tersebut
2. Ayat 4-6 nampak bahwa keramaian dalam peribadahan kini berubah menjadi kesunyian dalam keseharian. Jalan-jalan ke Sion yang tadinya ramai mendadak sunyi dan mencekam karena para imam yang tidak lagi menjalankan peran mereka dalam beribadah. Artinya bahwa kesunyian yang mencekam ini seolah menegaskan betapa kemalangan mereka yang terputus dari Allah. Jika dalam kehidupan peribadahan hal ini menunjukkan kemuraman kehidupan mereka maka dalam keseharian mereka nampak para pemimpin yang tidak berdaya (ayat 6) sebagai tawanan.
Kondisi yang memprihatinkan ini sungguh menggelisahkan Yeremia karena suasana Yerusalem, Sion, Bait Allah semuanya tidak lagi memancarkan keindahan penyertaan Allah tetapi kegelapan karena kepenatan dan kelelahan demikian kuat. Pada titik inilah ‘suara’ penderitaan memberi pengajaran bahwa keadaan memang mencemaskan maka mereka perlu peka mendengar ‘suara penderitaan’. Penderitaan yang menyuarakan undangan untuk terus belajar dari kesalahan. Apakah yang dapat dipelajari oleh umat? Mereka perlu belajar untuk membangun komitmen yang baru, komitmen yang tidak dibelenggu oleh perasaan.
Maksudnya segala pengalaman pahit mereka yang dirasakan hendaknya tidak meruntuhkan komitmen sebagai orang percaya. Komitmen menghadirkan ketentraman, ketentraman menghadirkan percaya dan percaya menghadirkan damai sejahtera.
Sahabat-sahabat yang terkasih
Melalui kitab Ratapan ini kepada kita semua dikemukakan bahwa kehidupan tidak dapat menolak terjadinya penderitaan maka diperlukan kepekaan mendengar nasihat dan perintah-Nya. Diperlukan kemauan untuk memperbesar keinginan mendengar suara Tuhan dan bukan suara penderitaan. Dengan begitu maka sekalipun derita menghadirkan airmata tetapi tangan Tuhan tidak pernah menolak anak-anak yang mau mendengar suara Tuhan diantara suara penderitaan. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|