Dibaca : 16977 x
KhotbahMinggu 13 Maret 2022 Yakobus 1: 12-15 KEINGINAN YANG MEMIKAT
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Relasi antara Allah dan manusia dapat dilihat dari tingkatan spiritual yang sangat berkaitan dengan tingkat kedewasaan atau ketidakdewasaan seseorang. Hal ini penting sebab dalam sebuah relasi yang terjadi antara Allah dan manusia maka berapa nilai yang ditempatkan menjadi sangat berpengaruh. Jika nilai yang ditempatkan dalam relasi itu rendah maka rendah juga kualitas relasi tersebut. Jika nilai yang ditempatkan tinggi maka tinggi juga kualitas relasi tersebut. inilah yang akan sangat menentukan bagaimana setiap orang percaya berhadapan dengan ujian (trials) dan pencobaan (temptation). Tingkatan relasi tersebut adalah kewajiban, kebutuhan dan cinta. Ketika relasi kita dengan Allah hanya didasarkan pada kewajiban maka kualitas relasi tersebut akan mudah tergoda untuk melakukan apa yang tidak dikehendaki-Nya. Jika relasi itu berdasarkan kebutuhan maka kualitasnya bersifat untung-rugi sehingga hubungan Allah dan manusia hanya ditempatkan dalam seberapa besar keuntungan saya. Puncak dari relasi antara Allah dan manusia adalah cinta. Dalam cinta manusia tidak lagi berorientasi pada dirinya sendiri tetapi mengarah kepada yang dicintainya. Sehingga dalam cinta terwujud kualitas relasi yang tidak didasarkan pada kewajiban atau kebutuhan.
Bagaimana hal ini berkaitan dengan teks bacaan kita saat ini? Pengajaran apakah yang kena mengena dengan kondisi saat ini? Pengajaran Yakobus kepada jemaat kristen di Yerusalem yang mengalami pergumulan yang berat dan menantang adalah dengan mengingatkan jemaat agar selalu memperhatikan hal ini:
1. Pencobaan dan Kebahagiaan (ayat 12)
Yakobus mengingatkan bahwa di tengah situasi sulit yang sedang dialami maka orang percaya pencobaan yang dialami. Pencobaan yang dialami adalah pencobaan yang tidak berasal dari Allah (ayat 13). Allah tidak akan mencobai manusia agar manusia menjadi berdosa dan Allah yang sama akan megampuni. Allah tidak akan mencobai manusia sebab Ia sendiri tidak merancang kejahatan. Pribadi Allah yang suci tidak dapat disandingkan apalagi dicampur dengan dosa (band. Yesaya 59:2, 1 Yohanes 1: 5) Maka ketika pencobaan menjadi peristiwa yang dialami orang percaya dan mendatangkan penderitaan maka setiap orang percaya harus menelisik dirinya sendiri. Bagaimanakah hubungan saya dengan Allah, apakah masih dalam tataran kewajiban? Jika demikian maka setiap penderitaan yang dialami dapat menjadi alasan yang kuat untuk merendahkan-Nya. Penderitaan menjadi pendorong utama untuk bisa meninggalkan Allah dan berpaling dari-nya. Di sisi lain jika relasi itu adalah relasi untung-rugi maka dihadapkan dengan penderitaan akibat pencobaan, kita dapat dengan segera berpaling dari-Nya. Namun jika relasi antara Allah dan manusia adalah relasi cinta maka penderitaan memang tidak menyenangkan namun karena cinta yang dimiliki maka penderitaan membuat kita semakin dewasa dalam iman. Pencobaan tidak lagi dipahami sebagai akhir kehidupan tetapi dalam relasi cinta kita menghayatinya bahwa penderitaan akibat pencobaan dihadapi bersama-Nya. Ia yang terus menerus menyertai kita adalah Allah yang setia dan di sinilah letak kebahagiaan (ayat 12).
Kebahagiaan tidak disebabkan oleh penderitaan tetapi kebahagiaan yang muncul karena mampu bertahan dalam penderitaan. Kebahagiaan sebab di tengah penderitaan yang dialami kita semakin bertumbuh dalam ketekunan (Yak. 1:3). Dengan begitu maka relasi cinta memungkinkan setiap orang percaya dapat bertahan. Cinta yang suci antara Allah dan orang percaya membuat penderitaan tidak menjadi alasan untuk mengabaikan-Nya. Pencobaan yang dialami kemudian menjadi ujian iman sehingga dapat berujung bahagia yakni bertumbuh dalam iman. Relasi cinta dengan Allah menghadirkan pemahaman yang selalu diterangi oleh Firman-Nya sehingga kebahagiaan sebagai puncak dari relasi cinta dikarenakan kita menghindar dari pengaruh buruk akibat dari penderitaaN (bandk. Mazmur 1: 1-3 - tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berdiri dijalan orang berdosa, tidak duduk dalam kumpulan pencemooh). Cinta kepada Allah membuat hidup ditengah penderitaan menjadi kesaksian yang luas bahwa Ia tidak pernah mencobai karena pada diri-Nya selalu terkandung rencana damai sejahtera dan masa depan penuh harapan (Yer. 29:11).
Pencobaan telah menghadirkan tahan uji dan berujung pada mahkota kehidupan - itulah mahkota yang didapatkan setelah menang atas sebuah pertandingan, dirayakan di depan banyak orang. maka setiap kali penderitaan kita alami di saat yang sama kita bisa sekaligus memberi kesaksian bagaimana kita tahan uji karena ketekunan akan menjadi buah yang matang dan sempurna (Yak. 1: 4 bandingkan dengan Ayat 14: setiap orang yang dicobai oleh keinginannya sendiri dan ketika keinginan itu sudah dibuahi maka akan berujung pada maut).
Jadi pencobaan yang kita alami bisa hadir karena tindakan dari luar atau dari dalam diri sendiri. Penderitaan bisa dialami oleh akibat kedua hal tersebut, tetapi penderitaan yang memungkinkan untuk bertumbuh semakin matang beda dengan penderitaan yang berujung pada maut.
2. Bagaimana berurusan dengan pencobaan? (Ayat 14-15)
Dalam proses pertumbuhan kualitas orang percaya maka pencobaan atau ujian sangat berperan membuat kebahagiaan atau sebaliknya maut. Maka hal utama ketika berhadapan dengan penderitaan adalah tidak menyatakan bahwa Dialah yang menjadi sumber penderitaan. Dalam relasi cinta maka setiap persoalan tidak merusak relasi yang ada dengan mengabaikan yang dicintai. Ketika kita berada di jalur cinta dengan Allah maka kita semakin diarahkan untuk melihat bahwa kehidupan kita sangat bermakna.
Untuk itu yang perlu terus dijaga dalam merawat relasi dengan Allah ialah:
1. memahami bahwa kehidupan kita hanya dapat tangguh dalam relasi yang terus terpelihara dengan-Nya dan selalu mengaku bahwa kita memerlukan-Nya bukan dalam kapasitas kewajiban, kebutuhan tetapi dalam kapasitas cinta. Itulah yang akan mengarahkan kita pada mahkota kehidupan. Dalam Mazmur 91: 3 dikemukakan bahwa Dialah yang akan melepaskan kita dari segala jerat yang mematikan.
2. Memahami bahwa kehidupan hanya berarti dalam pandangan yang tertuju kepada-Nya. Ketika pergumulan berkecamuk dan penderitaan menjadi beban yang berat maka arahkan pandangan kepada Tuhan sebab dengan menbgarahkan pnadangn pada-Nya kita dapat menemukan kembali kekuatan untuk terus memberi kesaksian bahwa Dialah yang menyertai kita (Maz. 16:8).
Dengan demikian maka kita tidak lagi membangun relasi yang berkewajiban, berkebutuhan, tetapirelasinya adalah relasi Cinta. Selamat merayakan valentine daya. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita di tengah pencobaan tidak pernah sia-sia. Amin.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|