Dibaca : 17970 x
KhotbahMinggu, 05 September 2021 Yohanes 1: 19-28 JATI DIRI HAMBA TUHAN
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Dari sebuah dialog yang terjadi antara Yohanes dan para imam serta orang Lewi tercetus pengajaran penting yang dapat menjadi panduan dalam menjalani kehidupan. Pengajaran penting itu berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan yang perlu terus dirawat dan dijaga agar kehidupan menjadi semakin bermutu. Dialog ini telah memperlihatkan pentingnya pengenalan akan diri sendiri yang semakin mempertajam perilaku dalam mewujudkan panggilan dan pengutusan sebagai seorang hamba Tuhan. Di tahun 2016 lalu, kata masyarakat pasca fakta (postfaktische Gesellschaft) menjadi kata tahun ini di Jerman. Di tahun 2017 ini, yang mengalami keadaan "pasca fakta" bukan hanya masyarakat Jerman, tetapi juga dunia (Reza W). Dalam masyarakat pasca-fakta kebenaran tidak lagi yang utama tetapi yang dikedepankan hanyalah kehebohan sesaat, sehingga makna kehadiran sebagai hamba tidak lagi berkualitas tetapi hadir dengan kepentingan sesaat yang menyesatkan. Kebenaran hanyalah teori yang tidak mengendap dalam kehidupan sehingga kehadiran kebenaran semkain direndahkan.
Dalam pembacaan saat ini dikemukakan oleh Yohanes beberapa hal mendasar yakni:
1. Seorang hamba bukanlah seorang pembohong (ayat 20)
Yohanes bukanlah Yesus dan karena itu ia menyatakannya dengan tegas bahwa ia tidak berdusta. Dusta adalah virus yang merusak sebab dalam dusta kebenaran menyakitkan dan dihindari. Manusia yang mengandalkan dusta dalam kehidupannya akan terlihat berhasil diawal tetapi merana dalam tahap yang berikut. Dengan mengaku bahwa ia bukan Mesias maka Yohanes menunjukkan dirinya yang lebih rendah dari sang Mesias. Mesias itu hadir dengan karya keselamatan yang tidak dapat dilakukan Yohanes. Mesias itu terlalu agung sehingga Yohanes menyatakan bahwa membuka tali kasut-Nya aku tidak layak (ayat 27). Dengan pernyataan ini maka Yohanes memperlihatkan kejujuran bahwa Ia bukan Mesias.
Dimasa kini ketika kesombongan merajalela dengan luar biasa maka kerendahan hati hanyalah bentuk kelemahan. Kesombongan dan dusta (pembohong) adalah sahabat yang saling melengkapi serta bermuara kepada rusaknya kehidupan. Dusta dan kesombongan adalah virus yang mematikan nilai kemanusiaan sebab hanya tampil dengan gelora sesaat yang mendatangkan malapetaka diujung.
Pelajaran penting untuk terus kita hayati ialah kerendahan hati menjadi obat yang manjur di tengah pergulatan masalah kehidupan. Orang yang rendah hati adalah orang yang tidak berdusta sebab kejujuran tampil sebagai pengkiat yang mempersatukan. Keluarga dengan atmosfir kerendahan hati adalah keluarga yang senantiasa menjaga kejujuran sebagai hal penting. Virus yang perlu terus dijaga dan dihindari adalah virus dusta dan kesombongan.
Yohanes memberitakan bahwa dirinya hanya suara yang berseru-seru di padang gurun (ayat 23 band. Yes 40:3). Berseru-seru di padang gurun adalah sebuah pekerjaan yang tidak efektif. Berseru-seru di padang gurun adalah sia-sia. Yohanes menunjukkan bahwa sekalipun nampak tidak berarti tetapi suara tentang mempersiapkan jalan bagi Tuhan harus terus dikumandangkan.
Maka seorang hamba perlu terus mengingat bahwa kehadirannya sebagai suara di padang gurun memang tidak berarti tetapi isi dari suara itu perlu terus dikumandangkan.
2. Seorang hamba mengenal dirinya sendiri ( ayat 26 )
Karya seorang hamba tidak dapat dibanding dengan karya sang Mesias Sang Tuan, sehingga hamba yang mengenal dirinya akan terus berkarya untuk Mesias yang hadir dalam diam di tengah-tengah mereka (band. Ayat 26-..ditengah-tengah). Mesias yang hadir dalam diam adalah Mesias yang "ramai` dalam karya. Mesias yang menunjukkan bahwa kebenaran menjadi jalan kehidupan sehingga mati dan hidup bersama dengan sang Mesias adalah memasuki kehidupan baru yang bermutu.
Dalam dunia yang ramai dengan kata-kata kadang diperlukan sikap diam sikap teduh dan menarik diri dari keramaian. Hanya dalam keadaan demikian maka seorang hamba dimungkinkan semakin mengenal dirinya sendiri yang rapuh sehingga pantang untuk menilai orang lain. Dengan memperlihatkan sikap-Nya yang diam di tengah keramaian dialog itu, Yesus memeprlihatkan pengajaran penting bahwa kata-kata saja tidak berarti. Apa artinya seorang hamba berbicara tentang pelayanan jika dia tidak pernah mengenal dirinya di hadapan sang Mesias?
Maka pertanyaan penting yang bisa diajukan adalah siapakah hamba Tuhan itu? Hamba Tuhan adalah kita semua yang telah dipanggil dari gelap memasuki terang-Nya yang ajaib. Hamba Tuhan adalah kita maka rendahkan diri di hadapan sang Mesias yang diam adalah pengajaran yang penting. Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|