Dibaca : 18057 x
KhotbahRabu, 14 Juli 2021 Daniel 3: 1-27 KETIKA KITA MENCIPTAKAN PATUNG EMAS
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Kehidupan setiap orang percaya merupakan sarana kesaksian yang ditampilkan melalui sikap konsisten tatkala diperhadapan dengan tekanan. Perapian yang menyala bisa hadir dalam berbagai bentuk pada masa kini yang memang sengaja diciptakan untuk menundukkan ketaatan kepada Allah. Kekuasaan yang mengagungkan sikap tunduk yang total kepada sang penguasa sekaligus ditundukkan oleh kuasa yang menjawab totalitas Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Kuasa itu adalah kuasa Allah yang hidup dan bukan kuasa Nebukadnezar apalagi kuasa patung emas (60 hasta at 27 meter, lb 6 hasta at 2,7 meter). Patung sebesar itu nampak perkasa tetapi hanya patung yang tidak berdaya sebab hanya Allah yang berdaya besar melakukan tindakan besar dengan gagasan besar.
Apa yang dikemukakan dalam bacaan kita saat ini hendak mempertegas pemahaman bahwa dalam kehidupan sebagai orang percaya pergumulan adalah peristiwa yang tidak terhindarkan. Kontradiksinya kehidupan sebagai orang percaya menuntut kita untuk selalu berada dalam hubungan yang akrab dengan-Nya dan mengalami ketegangan dengan dunia. Bukan sebuah hubungan yang dibangun seperti hubungan dengan Nebukadnezar yang berkuasa namun sekaligus tidak berkuasa. Secara tajam hal ini diperlihatkan oleh ketiga orang muda yang meyakini bahwa jika Allah tidak menolong mereka maka mereka tetap percaya kepada-Nya (ayat 17-18). Hubungan dengan raja dapat saja tergelincir pada pemahaman dangkal tentang kuasa, namun hubungan dengan Allah selalu dibangun dalam perjanjian yang berorientasi pada masa depan.
Sahabat terkasih
Maka peristiwa patung emas bukanlah sebuah peristiwa sederhana tetapi didalamnya terkandung perubahan signifikan setelah perubahan nama Daniel menjadi Beltsazar, Hananya menjadi Sadrakh, Misael menjadi Mesakh dan Azarya menjadi Abednego (Dan. 1:7). Penyembahan patung emas sekaligus bentuk kompromi yang akan menghasilkan keuntungan dan menguntungkan namun yang tidak menggoyahkan trio Sadrakh, Mesaksh maupun Abednego. Peristiwa penyembahan kepada ilah lain merupakan penyesuaian terhadap keadaan yang berdosa dan menjerumuskan orang percaya ke tempat yang rendah. Maka kesetiaan Sadrakh, Mesakh dan Abednego kepada Allah tidak didasarkan pada intimidasi namun dibangun dalam keyakinan tentang kuasa-Nya.
Bagi kita dewasa ini banyak hal bisa menjadi patung emas yang menggoda untuk kita sembah. Patung emas itu dibangun dalam diri kita sendiri sehingga pemujaan diri yang tidak relevan menjadi sesuatu yang sering terjadi. Patung emas yang mengingatkan kita bahwa hidup persekutuan yang heterogen namun dalam pondasi yang monogen yakni Allah sendiri merupakan persekutuan yang berkualitas. Berbagai konflik sebagai pergumulan dewasa ini seringkali dimulai dengan adanya pembangunan patung emas. Pergumulan kadang hadir dengan kuasa yang destruktif ketika kita memberi ruang terhadap patung emas yang tidak berkuasa dibandingkan dengan memberi diri kepada Allah yang berkuasa. Mereka yang tidak tunduk pada perpaduan konspirasi yang jahat adalah pemberontakan yang harus ditundukkan.
Maka iklim ketakutan yang dikembangkan melalui ancaman adalah sarana untuk mendapatkan kesetiaan total. Bukankah pola seperti ini sering kita jumpai ketika sikap tunduk kepada Allah didistorsi dengan tunduk kepada patung emas yang kita ciptakan.
Di sisi lain perapian adalah akibat konsistensi untuk hanya menyembah Allah dipertahankan. Trio Sadrakh, Mesakh dan Abednego memang menyebabkan kegeraman Nebukadnezar (ayat 19) yang berimplikasi pada peningkatan suhu pemusnahan (ayat 22). Namun kesetiaan pada Allah merupakan pokok perlindungan-Nya kepada setiap orang percaya. Perapian memang memang mengancam dan mematikan namun penyertaan Allah adalah kekuatan yang menumpulkan kuasa yang mematikan.
Sahabat terkasih Maka melalui pengajaran ini hendak ditegaskan kembali bahwa kasih Allah yang menyertai kita semua patut kita tanggapi dengan ketaatan yang menghidupkan. Kasih Allah tidak akan pernah disaingi dengan patung emas siapapun sebab patung emas bisa saja menawan tapi tidak menghidupkan. Prestasi, kedudukan, harta dan tingkat sosial bisa saja menawan tetapi tidak menyelamatkan. Semua itu bisa saja lenyap tanpa bekas, tetapi kasih Allah tinggal tetap.
Sekaligus kepada kita semua diingatkan bahwa api yang bersumber dari kegeraman akibat taat kepada Allah adalah konsekuensi mengikut Yesus. Paulus memberi kepastian tentang hal ini dalam Roma 8:31 untuk menjelaskan bahwa persoalan memang hadir dalam ketaatan kita kepada-Nya tetapi jangan pernah sedikitpun melupakan Dia yang selalu menyertai kita.
Hiduplah dalam takut akan Tuhan dan hindarilah pembangun patung emas di sekitar kita. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|