Dibaca : 19699 x
KhotbahJumat, 02 April 2021 Matius 27: 32-44 PERCAYA PADA YESUS YANG TERSALIB
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi.
Percaya pada Yesus yang tersalib bukan soal sederhana sebab bukankah salib adalah lambang penderitaan? Bukankah salib adalah lambang terkulainya kebenaran dalam cengkeraman kuasa yang menistakan? Maka seringkali percaya pada Yesus mendadak redup dan lemas ketika salib menjadi kenyataan yang tidak mudah. Sebagai lambang cengkeram dan mematikan dari kekuasaan maka salib menghadirkan pemisahan antara yang dikuasai dan berkuasa. Percaya pada Yesus yang tersalib memang bukan hal sederhana sebab ketika tubuh yang berdarah dan tertatih harus melangkah dalam kelelahan maka seluruh argumentasi tentang kasih dan penyertaan Allah menjadi pertanyaan mendasar, inikah sang juruselamat?
Jika dewasa ini soal kekuasaan menjadi penting dan dewa bagi banyak orang maka percaya kepada Yesus yang tersalib adalah batu sandungan dan kebodohan (1Kor. 1: 23). Percaya kepada-Nya tidaklah suatu peristiwa yang mentransformasi kehidupan sebaliknya menjadi peristiwa yang tidak berarti. Yesus yang tersalib adalah Yesus yang dapat dengan segera diabaikan ketika ruang hati terbuka untuk segala bentuk kejahatan. Masih adakah cinta yang didasarkan pada Yesus yang tersalib?
Hari ini di Jumat Agung 2021 kita mendapat pengajaran penting namun sekaligus genting. Penting sebab terlibatnya Simon orang Kirene menunjukkan bahwa tidak seorang muridpun ada di dekat-Nya. Terlibatnya Simon orang Kirene secara eksplisit menunjukkan bahwa Ia sendiri di tengah riuhnya penghinaan dan derasnya penodaan (Mat. 27: 39-40). Namun kenyataan ini berbeda tajam dengan hadirnya Simon orang Kirene sebab hanya dalam waktu singkat namun Simon mengalami transformasi dalam keluarga sehingga Paulus menyapa istri dan anaknya di Roma 16: 13 (Baca juga Markus 15: 21). Maka pengajaran penting adalah apakah percaya pada Yesus tersalib membawa perubahan dalam hidup berkeluarga? Sebab Jumat Agung bukan sekedar hari penyaliban tetapi sekaligus hari perubahan. Apa artinya Jumat Agung tanpa adanya perubahan dalam relasi di keluarga? Inilah pentingnya percaya kepada Yesus yang tersalib dan juga betapa gentingnya hal ini.
Jika dewasa ini sifat yang inklusif (memeluk) diperhadapkan pada sifat diabolis (memisahkan) maka pertanyaan mendasar adalah apakah Jumat Agung menjadi peristiwa penting untuk memeluk dan dipeluk-Nya? Hidup dalam relasi yang memeluk adalah narasi yang anti pada tindakan diabolis. Percaya pada Yesus yang tersalib adalah peristiwa yang memberi pengertian baru bahwa dalam penderitaan yang paling hebat sekalipun selalu ada pribadi yang Tuhan tentukan untuk mendampingi. Cara hidup yang memeluk dan bukan memisahkan adalah cara hidup yang diajarkan melalui kisah penyaliban.
Kisah penyaliban menjadi peristiwa Allah yang memeluk manusia dan melalui semua penerimaan terhadap kelemahan manusia. Peristiwa penyaliban menjadi bukti tentang cinta kasih yang tidak terbatas hanya pada narasi tetapi aksi yang dimulai dari keluarga. Maka ketika mujisat pertama terjadi di Kana, diakhir karya pelayanan Yesus sebuah mujisat juga terjadi di Kirene. Maka percaya pada Yesus yang tersalib adalah berdiri dalam kepastian tentang kuatnya Ia memeluk kehidupan kita dan kuatnya Ia berhadapan dengan kuasa yang hendak memisahkan (diabolis) kita dari-Nya.
Perjamuan kudus ini adalah simbol dari tekad untuk selalu hadir dalam semangat yang inklusif bukan semangat diabolis. Perjamuan kudus menunjukkan bahwa spiritualitas kita tidak ditentukan oleh siapapun tetapi dalam keputusan kita untuk menerima salib dan memikulnya sampai ujung usia kita. Maka dibalik kisah Jumat Agung yang menyedihkan tetap terlihat semangat yang kuat bahwa kesedihan itu dibungkus oleh kasih-Nya yang memungkinkan hidup menjadi hidup yang memeluk dan bukan hadir dengan semangat diabolis yang kemudian menjadi diabolos (setan) yang gemar memisahkan.
Kini hadirlah dalam kegembiraan untuk percaya kepada Yesus yang tersalib sebab hanya dengan demikian perjamuan kudus ini menjadi bermakna. Hadirlah dengan semangat yang merendah di hadapan-Nya agar seluruh kehidupan kita menukik pada pengakuan bahwa Simon orang Kirene bukan orang penting, kitapun bukan yang utama, sebab yang utama dan terutama adalah Dia yang tersalib untuk kita.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|