Dibaca : 21619 x
KhotbahMinggu, 11 Oktober 2020 (Hosea 6: 1-3) PERTOBATAN DARI DOSA DAN KEJAHATAN
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Jaman dimana Hosea hidup adalah jaman pengingkaran umat terhadap Allah yang dilakukan secara luar biasa sehingga kisah Hosea-Gomer menjadi kisah pilu tentang pengkhianatan. Ketika kejahatan dipahami sebagai hal yang biasa maka kejahatan demikian tidak membutuhkan pertobatan. Ketika kejahatan hanyalah sebuah kesimpulan yang dibangun dengan rasionalitas kejam maka pertobatan adalah sebuah fatamorgana. Kehidupan yang tidak dikuasai dengan semangat pertobatan adalah kehidupan yang tidak mengembangkan persahabatan dan sebaliknya gemar dengan permusuhan. Sebuah pertobatan pertama-tama berkaitan dengan Allah tetapi yang akibatnya segera menukik bagi diri sendiri. Mereka yang bertobat adalah mereka yang menjadi tanah subur dimana benih-benih kebajikan akan bertumbuh. Di sisi lain pertobatan sebagai sebuah pernyataan haruslah muncul dalam tindakan yang kongkrit sehingga tidak tinggal sebagai wacana dan berhenti pada pemikiran.
Pertobatan dalam konteks bacaan kita saat ini bertolak dari hal yang mendasar yakni Pengenalan Allah (ayat 3) dan pengenalan akan Allah timbul dari pengetahuan dan usaha yang sungguh untuk memahami kehendak-Nya. Pengetahuan dalam hal ini bukan saja pengetahuan secara rasional tetapi pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman iman. Maka pengetahuan itu bergerak dari "knowledge about` menjadi "knowledge of` yang kemudian memungkinkan setiap pertobatan menjadi berarti.
Maka hal pertama yang hendak dikemukakan disini adalah soal seberapa dalam pengetahuan kita tentang firman-Nya mengendap sebagai pengetahuan tentang kehendak-Nya. Pertobatan bukanlah urusan sederhana dalam sebuah pengakuan tetapi sebagai menukik pada pengetahuan tentang kasih-Nya yang besar. Dalam pertobatan seperti ini keterikatan dengan kebendaan tidak lagi menjadi utama sebab keterikatan pada-Nya menjadi yang paling utama. Seluruh gagasan tentang pertobatan yang bersifat personal lalu bergerak dalam pertobatan yang bermanfaat secara komunal. Suami atau istri yang bertobat akan membawa perubahan yang berarti bagi keluarga, orang tua yang bertobat akan berpengaruh terhadap kehidupan anak-anak dan sebaliknya anak-anak yang bertobat akan berdampak dalam kehidupan seisi rumah. Kenapa demikian sebab Tuhan menyukai Kasih setia dan bukan korban sembelihan (ayat 6), semua korban persembahan kepada Tuhan menjadi sia-sia tanpa pertobatan. Jadi hendak dikemukakan bahwa seluruh laku pertobatan jauh lebih penting daripada persembahan. Apa yang dipersembahkan kepada Tuhan bukanlah untuk kebaikan Tuhan tetapi sebenarnya untuk kebaikan diri sendiri.
Sahabat-sahabat terkasih,
Kasih setia Tuhan selalu terbuka untuk setiap pertobatan tetapi kasih setia Tuhan tidak berjalan sendiri sebab kasih setia-Nya juga nampak dalam hukuman. Hukuman kepada umat pada jaman Hosea adalah hukuman yang tidak berdiri sendiri tetapi selalu berjalan bersama pemulihan. Ketika Allah menghukum, Ia juga yang akan memulihkan sehingga pemulihan itu bukanlah karena jasa manusia tetapi semata-mata karena jawaban Allah atas sikap manusia yang bertobat (ayat 2). Maka setiap bentuk hukuman Allah adalah dalam kerangka pemulihan bagi manusia. Allah menghendaki manusia menemukan nilai kemanusiaan yang membuka masa depan baru bagi manusia.
Pernyataan Yesus bahwa setiap pertobatan membawa perubahan nampak dari perkataan-Nya di Matius 3: 8 bahwa setiap pertobatan menghasilakan buah pertobatan. Inilah hasil dari perjumpaan manusia dengan Allah yang membuka ruang pemulihan, ruang penyembuhan. Ia yang mengasihi manusia adalah Ia yang juga mengur dan menghajar (Wahyu 3:19) memungkinkan setiap pertobatan berjumpa dengan kasih-Nya yang tidak terbatas. Sebaliknya bahwa penghukuman-Nya selalu terbatas karena berada dalam serapan kasih-Nya yang tidak terbatas. Kasih-Nyayang tidak terbatas itu menjadi penegasan bahwa Ia tidak lalai memenuhi segala janji-Nya (2 Petrus 3:9).
Kasih-Nya yang besar akan memulihkan setiap orang yang bertobat masalahnya ialah siapa yang dapat bertahan di hadapan amarah-Nya (Mazmur 76:8). Jadi jika manusia tidak bertahan di hadapan amarah-Nya maka lakukakan yang baik yang tidak bersifat hitung untung rugi dengan Allah. Sebab setiap kebaikan yang dilakukan manusia adalah kebaikan yang bertolak dari kasih-Nya yang tidak berkesudahan. Perbuatan baik itu dimulai dari SIKAP karena sikap kita menjawab setiap keadaan tidaklah dikuasai oleh kejahatan tetapi menunjukkan adanya penghayatan terhadap kasih Allah. Jika sikap ini berlangsung secara terus menerus sikap ini akan menghasilkan kebiasaan (HABITUASI) yang baik. Bentuk responsif terhadap berbagai peristiwa akan memberi pengaruh yang besar bagi kehidupan (Filipi 4: 8). Seorang dengan pikiran jahat terus menerus adalah pikiran kegelapan yang menghalau terang kebenaran Firman Tuhan (Maz.119:105). Jika hal ini yang terjadi yakni memelihara kegelapan dalam pikiran itulah yang mengokohkan tembok pengabaian terhadap kasih Allah. Sebaliknya ketika kebiasaan (HABITUASI) ini terjaga dengan baik maka itulah yang akan menghasilkan SIFAT. Sifat yang baik bertolak dari sikap yang aik yang menjadi kebiasaan yang baik sebab selalu berada dalam tuntunan cahaya kebenaran yakni Firman Tuhan.
Maka marilah kita bertobat secara personal yang akan berdampak pada lingkungan dimana kita berada. Lingkungan keluarga, kerja, jemaat dan dimanapun berada sehingga dalam setiap aktifitas kehidupan kita selalu bermuara pada pernyataan yang sama Ia harus semakin besar dan aku harus semakin kecil (Yohanes 3:30).
Maka berita firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa pertobatan bukanlah sekedar sebuah pernyataan tetapi sebuah tindakan yang didasarkan pada pengenalan akan Tuhan sebagai sebuah pengetahuan yang memberi nilai bagi sikap, kebiasaan dan sifat. Tetaplah jaga kebaikan yang Tuhan anugerahkan sebab di sanalah bersemai benih-benih kebajikan yang bermanfaat bagi lingkungan dimana kita semua hadir.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin.

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|