Dibaca : 19513 x
KhotbahMinggu, 30 Agustus 2020 Markus 1:1-12 ADA YESUS DI RUMAH
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Dewasa ini kita hidup dalam dunia yang mengenal pembedaan secara tegas antara Jasamani dan Rohani. Perbedaan ini sekaligus mengarahkan pandangan manusia bahwa yang jasmani tidak dipengaruhi oleh aspek jasmani. Gaya berpikir yang demikian juga terjadi pada jaman Yesus dimana aspek jasmani dan rohani adalah dua hal yang berbeda. Sebuah konsep berpikir yang akan dirombak oleh Yesus dalam kisah penyembuhan di Kapernaum.
Perombakan gaya hidup yang substansial ini berkenaan dengan pandangan Allah kepada manusia yang berlaku secara utuh. Ia tidak membuat perbedaan yang jasmani dan rohani namun melihat manusia sebagai manusia yang utuh. Contohnya ketika pemazmur mengatakan bahwa Tuhan menyembuhkan orang-orang yang patah hati (Mazmur 147:3) tentu yang dimaksudkan adalah manusia secara utuh bukan hanya jasmani atau organ tubuh. Juga di Amsal 17: 22 dikemukakan "hati yang gembira adalah obat` tentu dimaksudkan bahwa bukan hanya hati yang mengalami kesegaran tetapi seluruh hidup manusia.
Di sisi lain filsafat hidup manusia modern saat ini menunjukkan bahwa hanya pribadi-pribadi yang tangguh dan bekerja keras yang pantas untuk mendapat ganjaran. Hidup demikian berat sehingga gaya hidup yang menghargai kerja keras adalah gaya hidup yang perlu mendapat kepantasan menerima penghargaan / reward atas semua usahanya. Pada jaman Yesus hal ini juga berlaku ketika dipahami bahwa segala kebajikan kepada Allah merupakan tindakan untuk mendapat penghargaan, untuk mendapat ganjaran. Hanya manusia yang menuruti segala aturan Taurat dan melakukannya dengan teliti yang pantas untuk mendapat ganjaran dari Allah.
Keadaan inilah yang muncul dari pengajaran tentang penyembuhan Yesus di Kapernaum yang juga tercatat dalam Lukas 5: 17-26 dan Matius 9: 1-8. Menunjukkan bahwa pengajaran yang hendak dikemukakan melalui kisah penyembuhan adalah hal yang penting. Maka melalui kisah ini kita akan belajar dua hal penting yakni:
1. ANTARA USAHA DAN PENGAMPUNAN ( Markus 2: 1-5)
Perjumpaan si lumpuh dan teman-teman yang mengusungnya merupakan usaha yang tidak mudah. Mengusung si lumpuh untuk bisa dihadirkan di hadapan Yesus berhadapan dengan situasi yang sulit yakni penuhnya rumah sehingga pintu "tertutup` untuk mereka.
Usaha mereka membuka atap di atas-Nya (ayat 4) menunjukkan bahwa secara kolektif mereka memiliki sikap yang sama untuk menolong sahabat mereka. Apa yang dikemukakan Yesus adalah pernyataan yang menyeluruh yakni iman mereka (ayat 5a). Iman mereka bukan hanya merujuk kepada si lumpuh tetapi juga kepada sahabat-sahabat si lumpuh. Iman mereka juga menunjukkan bahwa bukan pada saat itu saja iman mereka tetapi mereka mengimani Yesus sebelum perjumpaan yang terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa pengampunan Yesus tidak hanya dengan pertimbangan saat itu saja tetapi semata-mata bertumpu pada anugerah-Nya yang diimani oleh si lumpuh dan sahabat. Pernyataan Yesus bahwa dosamu sudah diampuni untuk menunjukkan bahwa setiap manusia membutuhkan pengampunan sebab setiap orang pada dasarnya berdosa (Roma 3:23). Pengampunan-Nya menunjukkan bahwa manusia tidak dapat mengatasi dosanya sendiri dan karena itu membutuhkan anugerah-Nya. Pengampunan Allah merupaka tindakan yang cuma-cuma tetapi tidak murahan artinya pengampunan itu diberikan bukan karena kehebatan manusia tetapi semata-mata kasih karunia yang besar dari-Nya (Yoh. 3:16)
Maka ketika Yesus hadir di rumah dan melakukan karya pengampunan-Nya hal itu tidak didasarkan pada kehebatan kita. Pengampunan-Nya tidak boleh kita pahami sebagai suatu penghargaan atas kehebatan kita. Pengampunan-Nya hendak menunjukkan bahwa setiap anggota keluarga di rumah tidak memiliki keistimewaan untuk menerima anugerah-Nya sebab manusia yang menerima pengampunan adalah manusia yang hidup dalam keadaan yang baru. Yesus ada di rumah adalah pembelajaran yang penting bahwa suami-istri sejajar dan sama-sama membutuhkan anugerah-Nya. Suami-istri yang berbuat baik karena direncanakan adalah suami-istri yang membuat rumah menjadi rumah yang berbeda yakni rumah yang saling mengampuni. Suami-istri yang saling mengampuni adalah jawaban mereka atas anugerah-Nya yang mengampuni. Setiap usaha suami-istri untuk mengatasi krisis dalam keluarga perlu melibatkan Tuhan sebab adakah keluarga yang tanpa masalah? Semangat mengampuni merupakan jawaban atas setiap masalah sehingga kelumpuhan ekonomi, kelumpuhan dalam relasi, kelumpuhan dalam menjalani kehidupan semuanya dihadapi dalam kebersamaan. Sebuah keistimewaan yang dikemukakan Yesus seperti di Markus 3: 35)
2. ANTARA PANTAS DAN LAYAK( Markus 2: 7-12)
Pertanyaan ahli Taurat adalah pertanyaan yang menunjukkan bahwa merekalah yang sedang mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan mereka terlihat dari cara pandang mereka terhadap sikap Yesus (ayat 7). Cara pandang demikian menunjukkan bahwa mereka punya otoritas istimewa bahwa apa yang menjadi kehendak Allah sangat mereka pahami. Keistimewaan inilah yang melumpuhkan hati mereka dalam memandang orang lain yang berubah kearah yang baik. Yesus mengecam sikap demikian sebab sikap para ahli Taurat memperlihatkan sikap mereka terhadap si lumpuh dan sahabat-sahabatnya. Pada titik inilah Yesus menunjukkan bahwa Ia punya otoritas yang lebih besar dari para ahli Taurat sehingga pernyataan sebagai Anak Manusia yang dikemukakan Yesus sebagaimana Daniel 7: 13-14 menunukkan adanya kekuasaan yang kekal.
Bagi ahli Taurat, Yesus tidak pantas berkata dengan tetapi bagi Yesus, Anak Manusia melayakkan si lumpuh untuk berdiri dan pulang ke rumahnya (ayat 10-11). Kepantasan dalam perspektif ahli taurat adalah kepantasan yang terbatas dan inilah kelumpuhan mereka. Kelayakan yang diperlihatkan Yesus untuk menunjukkan bahw setiap manusia dilayakan Allah termasuk sang ahli Taurat yang juga membutuhkan penyembuhan. Jadi antara dosamu diampuni dan penyembuhan terkandung suatu kesatuan manusia yang hendak diperlihatkan Yesus.
Ketika Yesus hadir di rumah maka diperlihatkann-Nya kepada kita bahwa kita dilayakan oleh-Nya mengalami perubahan yang tidak terbelah antara "body and soul` antara "tubuh dan rohani` tetapi secara utuh. Maka hadirlah sebagai manusia yang utuh dan tidak terbelah, jika Yesus hadir di rumah maka kehadiran-Nya juga nyata dalam seluruh kehidupan kita. Berbuat baik bukan sebagai peristiwa yang terjadi spontan tetapi berbuat baik sevagai peristiwa yang direncanakan.
Sahabat yang terkasih
Yesus yang hadir di rumah adalah Yesus membuka sebuah pengajaran bagi kita agar tidak lagi mengalami kelumpuhan. Jangan berpikir bahwa kareena tidak lumpuh lalu kita bisa melumpuhkan kebajikan orang lain. Jauhkanlah diri kita dari kelumpuhan cara pandang kita terhadap sesama dengan bersikap seperti mesias yang sedang menyelamatkan keluarga. Berilah diri kita mengalami perombakan kehidupan agar tidak lagi lumpuh tetapi berdiri dan berjalan. Itulah makna kehadiran Yesus di rumah.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|