aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 19890 x

Khotbah
Minggu, 23 Agustus 2020
Lukas 10: 1-7
RUMAH DAMAI SEJAHTERA

RUMAH DAMAI SEJAHTERA

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi


Sebuah pengutusan merupakan bagian dari kehadiran setiap orang percaya. Kehadiran kebagai pengutusan dengan segera menukik pada pemahaman yang kuat tentang tokoh yang mengutus da nisi dari pengutusan itu sendiri. Dalam konteks inilah sebuah pengutusan menjadi bermakna ketika ditempatkan dalam perspektif penyertaan dan pemeliharaan-Nya.

Tugas pengutusan sekaligus menunjukkan bahwa Dia yang mengutus bergitu kuat dan perkasa dan setiap utusan begitu rapuh dan tanpa daya. Dia yang mengutus selalu hadir dengan penyertaan-Nya yang membuka ruang kepastian bahwa siapapun yang diutus mendapat jaminan pemeliharaan-Nya. Kenapa hal ini penting untuk diperhatikan? Sebab jika kita membaca narasi pengutusan ini nampak bahwa kita berada dalam keadaan yang tidak mudah. Melaksanakan tugas pengutusan demikian berat sebab realitas yang dijumpai tidak selalu sepakat dengan berita pengutusan. Tugas pengutusan demikian menantang sebab penolakan bisa dialami oleh sang utusan bahkan kekuatan yang merusak bisa saja dialami.


Pengutusan Yesus kepada tujuh puluh murid dimulai dengan sikap terbuka Yesus mengecam setiap pribadi yang mengikutnya sebagai orang yang kurang percaya (Lukas 9: 41), orang yag tidak mengerti perkataan-Nya (Lukas 9: 45) dan menegur mereka yang menghendaki hukuman langsung kepada orang Samaria (Lukas 9: 55). Seluruh kisah di Lukas 9 ini menjadi pembuka bagi pengutusan ke-70 murid bahwa mereka adalah utusan yang tidak sempurna, rapuh dan tidak berdaya. Pengutusan itu hanya berarti ketika mereka bisa mengikuti ketetapan-Nya yang nampak melemahkan dan meruntuhkan semangat sebab aturan dan ketetapa Yesus nampak radikal dan siapakah yang sanggup mewujudkan pengutusan tersebut jika melihat persyaratan yang ditentukan Yesus?


Persyaratan itu menyatakan bahwa pengutusan ini bukanlah hal sederhana sekalipun para murid adalah orang-orang sederhana. Mereka diutus berdua sebab pengutusan tersebut membutuhkan kepastian isi pengutusan yang harus dikemukakan yakni tentang Kerajaan Allah. Apayag dikemukakan Yesus adalah persyaratan yang berkaitan dengan:


1. Tuaian banyak tetapi pekerja sedikit (ayat 2)


Pekerjaan pelayanan itu sangat banyak sedemikian banyaknya pekerjaan pelayanan sehingga tidak bisa dipenuhi oleh jumlah pekerja. Selalu ada pelayanan yang jika dihayati sangat beragam bentuknya sangat beragam jenisnya. Pelayanan yang beragam ini adalah pelayanan dilaksanakan dalam kesadaran bahwa setiap murid hadir dengan ciri khas pelayanan mereka masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan pada murid selalu perlu disyukuri sekalipun pelayanan itu adalah pelayanan yang sederhana. Itulah sebabnya dikemukakan bahwa siapa yang setia dalam perkara kecil setia juga dalam perkara besar (Lukas 16: 10)


Maka keluarga adalah salah bentuk pelayanan yang bisa diwujudkan sebagai bentuk pengutusan. Rumah sebagai ruang pengutusan menunjukkan bahwa suami-istri bukanlah manusia yang sempurna namun perlu memahami pentingnya penyertaan Allah. Keluarga bukanlah pribadi-pribadi yang tangguh dan karenanya menjadi mahal dalam karya penebusan Kristus.


Setiap suami-istri perlu memahami bahwa dalam relasi mereka di rumah diperlukan kehadiran sang Pengutus sehingga setiap bentuk pelayanan di rumah adalah ruang pengtusan yang beragam sebab dilakukan dengan setia. Setia dalam melayani pasangan, setia dalam menghormati pasangan, setia dalam sikap tunduk kepada pasangan. Sangat banyak pelayanan yang bisa dilakukan dan diperlukan murid yang bersedia untuk mewujudkan berita pengutusan yakni berita damai sejahtera (Eirene).


2. Pengutusan itu akan berhadapan dengan kuasa yang jahat (ayat 3)


Para murid yang hadir mewujudkan pengutusan mereka akan bertemu dengan kuasa-kuasa yang merusak bahkan membinasakan. Sebagai murid yang hadir di tengah-tengah serigala maka para murid perlu menyadari bahwa mereka tidak memiliki kekuatan merusak yang sama dengan kekuatan serigala. Para murid akan berada di tengah kenyataan yang luar biasa dan tidak mungkin mampu mengalahkan kuasa "serigala`. Para murid bukanlah serigala dank arena itu perangai serigala harus dihindari sehingga tidak menjadi serigala berbulu domba. Kehadiran para murid dengan keadaan demikian hendak diingatkan betapa pentingnya peran Sang Gembala. Pengutus itu selalu hadir menyertai utusan-Nya agar rmemahami betapa pentingnya kehadiran sang Gembala.


Demikianlah dengan keluarga yag diutus adalah keluarga yang juga akan berjumpa dengan kuasa-kuasa yang merusak. Suami-istri yang diutus adalah suami-istri yang tidak berperangai serigala dengan kuasa merusak. Suami-istri pelru memahami bahwa kuasa-kuas "serigala` selalu hadir dan suami-istri memerlukan pertolongan sang Gembala.


3. Pengutusan itu akan dijamin oleh Sang Pengutus (ayat 4-5)


Para murid yang diutus adalah mereka yang tidak menggantungkan diri mereka pada hal-hal yang paling sederhana. Bekal maupun kasut adalah benda-benda biasa dan tidak istimewa namun pada benda - benda seperti itulah Yesus memperingatkan para murid. Apa yang menjadi kebutuhan yang tidak mewah namun perlu ditempatkan di bawah pentingnya tugas pengutusan itu sendiri. Pengutusan itu haruslah menjadi tujuan utama para murid sehingga kebutuhan mereka adalah kebutuhan yang ditepatkan pada kebutuhan yang utama yakni memberitakan damai sejahtera.


Demikian jugalah dengan setiap keluarga agar supaya memahami bahwa kebutuhan kehidupan mereka selalu terjamin pada-Nya. Bahwa kenyataan tidaklah mudah bukan menjadi alasan untuk mengabaikan pengutusan sebagai murid-Nya. Bahwa situasi yang dihadapi sangat sulit bukan berarti merendahkan pemeliharaan-Nya. Maka sebagai keluarga yang selalu hadir dengan tujuan utama, tujuan yang besar yakni memberitakan damai sejahtera maka soal kasut dan bekal bukanlah alat pengganti. Memberi salam kepada oran lain yang dianggap sebagai tindakan biasa harus diabaikan. Semuanya menunjukkan betapa pentignya tugas pengutusan tersebut. Sebuah pengutusan yang lebih bernilai dari hal-hal yang terjadi sehari-hari.


Setelah itu dimulailah sebuah pernyataan yang penting dan mendasar bahwa setiap rumah memerlukan damai sejahtera. Bagi para murid, damai sejahtera itu akan memberi ruang bagi mereka membangun relasi yang bersifat kekeluargaan. Sebuah relasi yang memungkinkan keterbukaan antara para murid dan tuan rumah. Pengenalan yang demikianlah yang akan membuka pemahaman bahwa baik para murid maupun tuan rumah yang menerima adalah manusia yang saling melengkapi (ayat 5-7)


Rumah damai sejahtera adalah rumah dimana setiap penghuninya merasakan kerapuhan dan keterbatasn mereka sehingga mereka tidak pernah bisa sendiri. Kehadiran setiap anggota keluarga adalah kehadiran yag semakin mengasah kemampuan mereka mengenal diri sendiri. Sebagai keluarga yang mudah terluka, keluarga yang mudah mengalami penolakan, keluarga mudah tergoda mengabaikan Allah dengan kebutuhan maka rumah damai sejahtera adalah jawaban bahwa setiap doa akan terjawab walaupun untuk itu diperlukan waktu yang panjang (orang Israel yang di Mesir telah menderita tetapi Tuhan memakai 40 tahun untuk mempersiapkan Musa).


Ruamh damai sejahtera adalah rumah yang didalamnya setiap anggota keluarga memahami bahwa mereka diutus memberitakan damai sejahtera. Setiap anggota keluarga yang menghayati bahwa kebersamaan adalah hal utama. Suami-istri yang memahami bahwa mereka saling melengkapi. Itulah rumah damai sejahtera.


Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah pengutusan tidak pernah sia-sia. Amin


















Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518