aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 19339 x

Khotbah
Sabtu, 08 Agustus 2020
Amsal 24: 1-6
RUMAH: DIOBONG ORA KOBONG, DISIRAM ORA TELES

RUMAH: DIOBONG ORA KOBONG, DISIRAM ORA TELES

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi


Rumah adalah ruang dimana waktu untuk bersekutu dengan anggota keluarga dapat diwujudkan dan menemukan kembali kekuatan menjalani kehidupan. Setiap keluarga mendambakan kehidupan yang selalu mampu mengatasi berbagai peristiwa dan peristiwa di rumah semakin menegaskan pentingnya relasi yang saling menopang dan menguatkan bukan saja pada masa sulit tetapi juga pada masa menyenangkan.

Rumah menghadirkan keteduhan dan rasa aman sebab di rumah setiap orang hadir apa adanya dengan semua pikiran dan perasaan. Keberagaman pikiran dan perasaan itulah yang memperkaya makna kehadiran rumah. Di rumah setiap pribadi yang berbeda dapat bertemu dan mempercakapkan kepelbagian tersebut tanpa rasa cemas terhadap penolakan bahkan kritik. Di rumah semua kecemasan dapat diolah menjadi kekuatan yang menghadirkan makna nilai sebagai anggota keluarga dan semua kritik dapat diteduhkan dalam semangat kebersamaan. Di rumah kekurangan dan kelebihan anggota keluarga tidak untuk mendominasi yang lain tetapi semakin memperkaya dan memperluas cakrawala kehidupan.


Rumah lalu hadir tidak saja sebagai tembok tetapi sebagai tangan yang merangkul berbagai perasaan cemas maupun perasaan gembira. Kecemasan tidak melumpuhkan dan kegembiraan tidak melupakan sifat dasar dari rumah yang bernilai. Dengan begitu rumah sungguh menjadi ruang pengajaran bagi setiap penghuninya agar mampu menampilkan semangat untuk menjawab setiap pertanyaan yang menggelisahkan seperti "apakah aku dikasihi?`, "apakah aku diterima` dan "apakah aku akan mendapat apa yang aku butuhkan?


Dalam pengajaran kitab Amsal 24: 1-6 yang menjadi bacaan saat ini hendak dikemukakan bahwa syarat utama dalam memahami kehidupan sebagai anggota keluarga dalam rumah adalah dengan menghayati:


1. Pentingnya memahami bahwa iri hati adalah kejahatan (ayat 1-2)


Rumah dimana kita tinggal adalah rumah dengan keluarga yang tidak dapat dibandingkan dengan rumah lain. Setiap usaha membandingkan rumah dengan rumah lain adalah kesalahan yang fatal sebab itu berarti menghadirkan apa yang jahat kedalam rumah. Hal ini karena Tuhan menentang setiap iri hati sebab iri hati dapat membunuh reputasi orang lain dan lebih dari itu membusukkan tulang (Amsal 14:30). Iri hati akan menunrunkan derajat pemahaman kita tentang rumah sendiri sebab dengan iri hati kepada orang yang melakukan kejahatan akan menempatkan kita pada kejahatan yang sama. Iri hati kepada yang melakukan kejahatan adalah membawa virus kejahatan dalam diri sendiri.


Iri hati kepada yang jahat akan membuat diri kita jatuh pada sikap tidak menghargai kebenaran sehingga membuat hidup diwarnai dengan pandangan jahat pada setiap anggota keluarga.


Kita perlu mewaspadai diri sendiri dan keluarga agar tidak terjerumus dalam pikiran yang dangkal terhadap keluarga kita. Sekalipun di tengah keluarga dapat dijumpai permasalahan tetapi di tengah keluarga juga setiap masalah dapat diselesaikan dan penyelesainnya bukan dengan iri hati kepada orang lain.


2. Hikmat, Kepandaian dan Pengertian (Ayat 3-4)


Iri hati kepada yang berlaku jahat hanya dapat dianulir dengan hikmat, kepandaian dan pengertian. Betapa pentingnya tiga hal ini yakni hikmat, kepandaian dan pengertian karena ketiganya saling melengkapi untuk dapat menghadirkan rumah yang berkualitas. Ketika rumah didirikan dengan hikmat maka pertimbangan-pertimbangan yang bijaksana membuat rumah semakin berarti. Hal ini menunjukkan bahwa dalam hikmat rumah didirikan untuk waktu yang panjang dan disanalah kecerdasan terbentuk sebagaimana menurut Robert Emmons bahwa "kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia menjadi utuh di dalam dirinya sehingga tidak terbelah oleh kekecewaan atau kecemasan dalam hubungannya dengan dunia`. Maka dalam keutuhan itulah setiap orang mampu untuk mengelola pikiran dan emosi serta keinginan. Kepandaian atau kecerdasan dapat meneduhkan berbagai gejolak dalam diri. Di sisi lain pengertian akan memberi pemahaman yang bernilai tinggi karena dengan pengertianlah maka segala yang baik dihadirkan di rumah. Dengan pilar hikmat, kepandaian dan pengertian maka hadirlah rumah yang tidak mudah diruntuhkan oleh berbagai persoalan atau rumah yang tidak mudah hanyut oleh keberhasilan.



Sahabat-sahabat yang terkasih,


Melalui pemahaman yang demikianlah maka kehadiran rumah menjadi lebih kuat dan berkualitas karena ketiga pilar penting yakni hikmat, kepandaian dan pengertian adalah kekuatan yang sesungguhnya (ayat 5-7). Melalui ketiga pilar inilah maka rumah dibekali dengan perencanaan yang matang sebagaimana dikemukakan Tuhan Yesus di Lukas 14: 28-30).


Sebagai keluarga yang kuat dan kokoh menjalani kehidupan baiklah kita selalu memperhatikan hal penting ini bahwa memperhatikan keaslian keluarga adalah penting. Bahwa keluarga kita tidak sama dengan keluarga lain maka hindarilah iri hati. Keluarga kita adalah yang berdiri dengan pilar hikmat, kepandaian dan pengertian sehingga tidak mudah tergusur oleh kegagalan dan tidak mudah hanyut oleh keberhasilan. Inilah yang disebut dengan dioobong ora kobong, disiram ora teles, dibakar tidak terbakar dan disiram tidak basah.


Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin















Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518