Dibaca : 19731 x
KhotbahMinggu, 02 Agustus 2020 Ulangan 20:1-7 RUMAH SEBAGAI PERSEKUTUAN
 Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Tanah perjanjian adalah ujung dari perjalanan panjang umat dalam pimpinan Allah melalui Musa. Memasuki tanah perjanjian bukanlah perkara yang mudah sekalipun umat berada dalam pimpinan Allah. Maka dalam persiapan memasuki tanah perjanjian perlu dihayati dengan sungguh-sungguh adanya penyertaan dan tuntunan Allah sehingga umat terhindar dari membanggakan diri sendiri. Di samping itu kenapa hal ini perlu dikemukakan ulang karena mereka yang keluar dari tanah perjanjian bukanlah mereka yang akan mendudukinya karena generasi pertama yang keluar dari Mesir telah meninggal dalam perjalanan di padang gurun selama 40 tahun. Musa mengingatkan umat bahwa dalam perjalanan di padang gurun Allah telah menyertai mereka dan Allah yang sama adalah Allah yang akan bersama mereka dalam peperangan.
Melalui perikop ini Musa kembali menegaskan betapa pentingnya penyertaan Allah dalam kehidupan umat. Betapa kuatnya penyertaan tersebut yang memungkinkan umat dapat tiba di tanah perjanjian. Penyertaan Allah tidak berarti umat bersikap pasif namun dalam aktifitas mereka kehadiran Allah dipusat kehidupan adalah suatu kebutuhan yang prinsipil. Maka pengajaran penting yang perlu ditanamkan dalam diri kita adalah:
1. Peperangan Iman dan Kehadiran Allah adalah kenyataan. (Ayt 1-4)
Pada bagian ini dikemukakan oleh Musa bahwa untuk memasuki medan peperangan itu diperlukan keterlibatan Allah. Peperangan ini bukan soal kekuatan senjata atau kereta perang tetapi sejauh mana umat mengandalkan Allah seperti yang dikatakan raja Daud di 1 Samuel 17: 45
"tetapi Daud berkata kepada orang filistin itu: engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang ini`
Ketika umat melihat kekuatan perlengkapan peran yang dimiliki musuh (ayat 1) apakah mereka juga melihat penyertaan Allah yang memberi kemenangan. Melihat menjadi penting sebab setiap kali kenyataan yang menegangkan orang lupa melihat karya Allah yang membawa kemenangan. Pengalaman melihat karya Allah di Mesir menjadi pengingat bahwa karya melihat karya Allah yang sama dimasa kini. Maka penglihatan tidak hanya ditujukan pada kekuatan yang merusak tetapi lihatlah juga penyertaan Allah yang membangun.
Peperangan kita saat ini bukanlah peperangan dalam konteks Ulangan 20 namun nasihatnya tetap sama yakni melibatkan Allah dalam perjuangan hidup. Peperangan iman ini membutukan kesiapan diri secara utuh sehingga hati yang penuh ketakutan dapat dihindari. Hati kecil mustahil dapat memasuki medan peperangan iman sebab hati yang kecil berarti mengabaikan Allah yang besar. Dewasa ini peperangan kita adalah peperangan rohani yang membutuhkan pemahaman kuat bahwa Yesus Kristus selalu menyertai kita. Peperangan ini tidak hanya persoalan di luar diri kita tetapi peperangan terbesar adalah dalam pikiran kita.
Pikiran adalah medan pertempuran yang luar biasa sebab ketika pikiran dibutakan oleh segala yang jahat maka peperanganpun sudah dimenangkan oleh kuasa iblis sebelum peperangan itu sendiri dimulai.
Dalam peperangan iman saat ini sungguh diperlukan kejernihan pikiran untuk memahami kehendak-Nya melalui Injil sehingga peperangan iman selalu dapat dimenangkan (band 2 Kor. 4: 4). Dalam peperangan iman harus dihayati bahwa penyertaan Allah mendapat tempat utama sehingga ketika memasuki medan peperangan dikehidupan ini kita selalu mengucap syukur. Bersyukur bahwa Allah selalu menyertai kita dalam keadaan apapun dan dimanapun kita berada dalam peperangan iman. Medan peperangan iman kita bisa saja di rumah, bisa saja di pekerjaan dan bisa saja dalam relasi dengan pasangan kita. Milikilah kejernihan pandangan serta pikiran dalam kuasa Roh Kudus agar umat saat ini selalu menghayati kuatnya penyertaan Tuhan.
2. Rumah, Karya dan Relasi (ayat 5-7)
Sahabat-sahabat terkasih,
Ketika peperangan akan dilaksanakan maka dikemukakan bahwa ada tiga kelompok orang yang tidak perlu memasuki peperangan. Ketiga kelompok orang itu adalah mereka yang baru membangun rumah, mereka yang membuka kebun anggur dan mereka yang baru bertunangan. Ketiga kelompok ini diminta pulang dan tidak mengikuti peperangan karena ada hal lain yang perlu mereka lakukan.
Bagi mereka semua dikemukakan bahwa Allah menghendaki mereka bersukacita dengan apa yang mereka lakukan. Peperangan memerlukan terlibatnya pasukan tetapi kemenangan umat tidak ditentrukan oleh ukuran banyak atau sedikit. Kemenagan umat dalam peperangan sangat ditentukan oleh ketaatan mereka kepada Allah yang memerintah dan menyertai.
Jadi bagi mereka yang baru membangun rumah biarlah mereka menempatinya sebagai hasil dari usaha mereka. Rumah bukan sekedar bangunan tetapi menjadi ruang pembelajaran bahwa kasih setia-Nya tidak berubah. Rumah sekaligus juga adalah medan peperangan sebab bukankah rumah juga bisa menghadirkan situasi peperangan.
Peperangan rohani memang harus dihadapi oleh setiap orang percaya dan hal itu bermula dari rumah. Rumah tidak saja sebagai bangunan tetapi sebagai tempat dimana persekutuan yang berkemenangan disambut dengan pujian syukur. Ketika rumah tidak menghadirkan persekutuan yang kokoh maka peperangan iman sejatinya sudah kalah sebelum dimulai. Maka diperlukan kesediaan untuk melihat dan menghayati rumah sebagai anugerah Tuhan. Sia-sialah segala keberhasilan di luar rumah ketika di rumah peperangan tidak selesai. Sia-sialah semua keberhasilan dalam karya dan bisnis jika rumah tidak menghadirkan damai sejahtera. Ketiga kelompok ini dapat dipahami secara utuh dan tidak terpisah.
Kebun anggur sebagai ruang untuk bekerja dapat menjadi medan peperangan yang hebat ketika tidak menghadirkan damai sejahtera. Harta warisan dapat menjadi persoalan pelik ketik tidak dilihat dengan jernih dengan kacamata rohani dan penyertaan Allah. Relasi dengan pasangan dapat menjadi peperangan iman ketika tidak dipahami dengan kejernihan pandagan dan pikiran.
Peperangan iman membutuhkan pondasi yang kuat dan kokoh dan itu bermula dari rumah sebagai persekutuan. Apakah relasimu dengan pasangan sedang berada di medan peperangan? Atau sikap yang merusak pasangan sedang berlangsung dari waktu ke waktu? Apakah arti semua kegiatan di luar rumah yang nampak berhasil namun rumah menjadi miniatur peperangan?
Sahabat-sahabat terkasih
Firman Tuhan hari ini mau mengajar setiap orang percaya untuk tidak mengabaikan kehadiran rumah sebagai persekutuan. Lihatlah dan hadirlah dalam peperangan iman dengan kejernihan pikiran bahwa Allah yang sudah menyertai dimasa lalu adalah Allah yang sama yang terus menyertai selamanya. Melalui pengajaran ini kepada kita semua dsampaikan bahwa jika kita melihat pergumulan begitu hebat, jangan pernah butakan mata iman dari perbuatan Allah yang luar biasa.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|