aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

Dibaca : 19483 x

Khotbah
Minggu, 5 Juli 2020
Hakim-hakim 2 : 6-16
GENERASI KITA DAN GENERASI MEREKA

GENERASI KITA DAN GENERASI MEREKA


Sahabt-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,




Kesadaran tentang pentingnya memahami misi gereja merupakan kebutuhan yang tidak hanya pada satu generasi tetapi lintas generasi. Hal ini penting agar kehadiran generasi muda gereja selalu menunjukkan otensitas mereka di tengah perubahan jaman. Dalam bukunya `so the next generation will know�, Sean McDowell dari Biola University mengemukakan bahwa seringkali pandangan kita terhadap anak-anak adalah soal perilaku mereka dan tidak mempertimbangkan bahwa perialku berawal dari kebiasaan dan kebiasaan berawal dari nilai. Hal ini bukan saja tentang pentingnya perangkat digital yang dimiliki tetapi bagaimana sebuah generasi hadir dengan kemampuan beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan identitasnya sebagai pengikut Kristus.




Dalam konteks inilah kitab Hakim-hakim khususnya pada pasal 2 ini menunjukkan bahwa persekutuan dengan lingkungan mereka telah menghadirkan petaka besar karena generasi yang lahir kemudian tidak mengenal Tuhan dan perbuatan-Nya yang besar. Dikemukakan dalam kitab Hakim-hakim ini tentang sebuah ikatan perjanjian yang harus dipahami dan dihayati oleh setiap generasi bahwa tindakan Allah harus terus menerus dididik menurut jalan yang patut baginya (Amsal 22:6). Kata didik - (Point your kids di Message Bible atau Train Up a child di KJV) menunjukkan bahwa ada yang harus dilakukan oleh generasi tua.




Apa yang menjadi pengajaran bagi kita dalam perikop ini menunjukkan bahwa:




1. Ayat 6 - 9:
Generasi Yosua adalah generasi yang hidup dalam peringatan keras yakni peristiwa Bokhim sebagai petunjuk bahwa mereka sudah bersalah (ayat 6). Peristiwa Bokhim menunjukkan hal yang bertentangan dengan keberadaan generasi Yosua. Hal ini menunjukkan bahwa ketika sebuah generasi tidak mengalami pengajaran maka generasi yang taat hanyalah generasi yang ditinggalkan.


Dalam konteks ini hendak dikemukakan bahwa hgenerasi yang taat tidak hanya menjadi generasi taat tetapi diperlukan generasi yang taat dan sekaligus mewariskan nilai-nilai penting tentang hidup yang berkenan kepada Allah. Generasi yang taat kepada Allah ialah generasi yang menyerap pengajaran yang tidak diberikan secara verbal tetapi diberikan dengan kebenaran.


Di tengah dunia yang melihat kebenaran sebagai suatu yang bersifat relatif maka kebenaran dalam Tuhan harus diajarkan sebagai kebenaran yang pasti. Warga jemaat perlu memegang kebenaran dalam arti kepastian sebab jika tidak semua aturan bisa dilanggar.






Kehidupan dewasa ini sungguh memerlukan keteladanan orang tua dan karena itu peneguhan sidi haruslah dipahami sebagai sebuah warisan dari komitmen terhadap janji baptisan.




Peneguhan sidi tidak saja menjadi menjadi peristiwa gerejawi tetapi sekaligus pengajaran yang dilakukan di rumah.


Pada sisi ini sebagai generasi orang tua kita perlu terus berjaga-jaga bahwa perjuangan kita dengan janji baptisan belum usai namun memasuki babak baru yakni menjadi orang tua yang sehat secara iman dan membawa kesehatan iman itu bagi generasi anak-cucu.





2. Ayat 10-16
dengan jelas memperlihatkan adanya ketimpangan warisan yang terjadi sebab korosi secara perlahan kini mencapai puncaknya. Generasi yang telah kehilangan pengajaran itu menjadi generasi yang hidup tanpa memahami `siapa mereka�. Generasi yang tidak pernah mengenal dirinya adalah generasi yang tumpul dalam kepekaan tentang karya Allah. Generasi baru (ayat 10) adalah generasi yang tidak lagi terikat dengan karya Allah dimasa lalu namun fokus hanya pada masa kini.

Pesona allah lain telah menawan mereka sehingga Tuhan Allah mereka tidak lagi mendapat tempat yang istimewa. Hal ini menunjukan betapa pentingnya dangkalnya kehidupan sehingga masa depan yang diperjuangkan menjadi tidak berarti sebab Allah sendiri yang melawan mereka (ayat 15)




Generasi yang melupakan karya Allah adalah generasi yang menyakiti hati-Nya sehingga seluruh karya mereka adalah karya yang tidak bernilai. Generasi yang melupakan karya Allah bisa saja menjadi generasi yang sukses, tetapi keberhasilan tanpa keterlibatan Allah hanya keberhasilan yang semu. Di dunia yang mengagungkan keberhasilan material seperti sekarang diperlukan generasi yang selalu mengingat karya Allah sehingga keberhasilannya menjadi utuh dan lengkap.


Nasihat bagi generasi saat ini adalah `jangan sakiti hati Tuhan dengan cara hidup tercela� sebab saat itulah engkau mengingkari karya-Nya. Ulangan 6 : 5-7 menunjukkan bahwa kehadiran generasi saat ini adalah kehadiran yang perlu bersandar pada ajaran-Nya setiap hari. Generasi masa kini yang hidup ditengah arus `post truth� adalah generasi yang membutuhkan `more truth� sebagai vaksin yang menjernihkan seluruh pemahaman mereka tentang karya Allah.





Sahabat-sahabat terkasih


Maka sebagai generasi orang tua marilah kita memberi pengajaran yang bertumpu pada pengalaman iman kita bersama Tuhan. Pengajaran kita bertolak dari kesadaran bahwa karya Allah sungguh besar. Pengajaran yang demikian akan menghadirkan topangan bagi generasi anak cucu kita bahwa hidup bersama Tuhan selalu diliputi penyertaan yang bermanfaat dalam segala keadaan.


Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin



Pdt. Alexius Letlora D.Th
Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta




Arsip Khotbah:

Minggu, 25 Juli 2026
HIDUP DALAM TERANG

Minggu 21 Juni 2026
TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMA

Minggu, 7 Juni 2026
PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARAN

Minggu, 24 Mei 2026
ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIA

Minggu, 31 Mei 2026
KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN

Minggu, 19 April 2026
IRI HATI MEMADAMKAN KASIH

Jumat, 3 April 2026
GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA

Minggu 22 Februari 2026
UANG: KEPADA ATAU TENTANG

Minggu, 5 April 2026
PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPAN

Minggu 15 Februari 2026
SPIRITUALITAS MEMBERI

Arsip Khotbah..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th

Saya adalah Pendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” DKI Jakarta.

Telah Melayani selama 35 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 34 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


KEKUATAN KELUARGA YANG BERSYUKUR
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
SEPATU YANG BERLUBANG
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN

Last Searches:

Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518 Stack trace: #0 {main} thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518