Dibaca : 20306 x
KhotbahMinggu, 10 Februari 2019 Lukas 10: 25-37 HIDUP BUKAN SEKEDAR MELEWATI TETAPI JUGA MENGAKUI

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Kebermaknaan hidup ditemukan dalam penemuan arti yang hakiki dari kehidupan itu sendiri dalam perjumpaan dengan realitas. Jika hidup dimaknai demikian maka kehidupan yang manusia jalani tidaklah perlu menjadi obyek pertanyaan, sebaliknya manusia dapat berjumpa dengan kebermaknaan kehidupan dalam tanggapan terhadap hidup itu sendiri. Manusia tidak memilih untuk hidup sebab hidup dianugerahkan kepada manusia, manusia bisa memilih mati sebelum waktu kematian dan itu berarti manusia mengerdilkan makna kehidupan yang dialaminya.
Hidup bukanlah sekeda menjalaninya tetapi mengakui bahwa hidup yang dianugerahkan Allah merupakan karya Allah yang disambut manusia. Dalam perspektif demikian maka hidup perlu terus mengalami peningkatan dalam nilai dan bukan sekedar penambahan angka. Dalam terang karya Yesus Kristus, maka hidup menjadi bernilai ketika hidup kita menghidupkan, menambah, menumbuhkan makna atau nilai hidup pada sesama.
Jika kita perhatikan teks bacaan ini diperlihatkan bahwa Yesus perlu meluruskan alur berpikir ahli Taurat yang memandang dirinya sebagai puncak pemaknaan hidup. Tanpa ragu ia berdiri untuk menguji sejauh manakah pemahaman Yesus tentang kehidupan. Dan jawaban Yesus adalah jawaban yang `out of the box� bagi kalangan Yahudi yang memandang rendah orang Samaria. Yesus menunjukkan bahwa kebermaknaan hidup yang terjadi dalam pengenalan akan Tuhan akan mengantar seseorang untuk bisa melihat hidup sebagai ruang bertumbuh bersama, ruang perjumpaan dengan sesama yang berbeda.
Sahabat-sahabat yang terkasih,
Pertanyaan Yesus tentang apa yang kau baca di hukum Taurat (ayat 25) memberi pemahaman bahwa soal membaca kitab suci itu penting tetapi membaca dengan sudut pandang yang sempit akan mempersempit makna yang terkandung di dalamnya. Hal itu nampak dari cara Ahli Taurat menterjemahkan Imamat 19:18 dan Ulangan 6:5. Sebab itu Yesus mendorong sang ahli Taurat untuk melakukan apa yang dibacanya. Yesus memberi pemaknaan baru tentang hidup yang bernilai ketika ajaran Allah diwujudkan dalam tindakan yang menjawab anugerah-Nya.
Bukankah ini penting bagi kita pada masa kini, ketika membaca karya Allah yang begitu luas tanpa pemahaman yang luas maka cara pandang tentang kehidupan akan merana. Kita bisa mencapai puncak karir dengan segala keistimewaan, namun hidup tetap tidak bernilai. Dewasa ini kita diundang untuk terus memberitakan bahwa segala kemampuan yang kita miliki akan menjadi bernilai ketika hidup tidak sekedar dilewati (ayat 31-32). Kehidupan kita mejadi semakin bernilai ketika kemampuan untuk membaca persoalan jaman dapat ditanggapi dengan benar sebagai hasil dari perenungan yang dalam.
Keluarga bukanlah sebuah ruang dan waktu yang dilewati begitu saja, tetapi menjadi ruang dan waktu untuk menemukan karya Allah yang luar biasa.
Sahabat-sahabat terkasih,
Di pihak lain melalui tokoh orang Samaria, Yesus memberi pelajaran yang berharga bahwa nilai pada seseorang tidak ditentukan oleh apa yang menjadi pandangan dan tafsir kita. Nilai pada seseorang terletak pada tindakannya yang mengangkat derajat sesama dari hampir mati pada kehidupan. Nilai pada diri kitapun tidak ditentukan oleh cara pandang orang lain pada kita, tetapi pada cara kita peduli dan merawat karya Allah. Dengan demikian Yesus hendak menunjukkan bahwa perseteruan adalah alat yang merendahkan nilai kehidupan. Perseteruan tidak pernah berujung pada pemulihan tetapi kebinasaan. Kehadiran kita sebagai orang percaya hendaknya mendemonstrasikan adanya pemulihan yang dilakukan oleh Allah. Allah yang tidak melewati manusia begitu saja sebab dalam Yesus, Allah itu menemui dan memulihkan keberadaan manusia.
Demikianlah kita memandangnya bahwa dalam relasi keluarga, perseteruan adalah cara jahat yang memungkiri nilai kehidupan, Jika konflik terjadi maka cara kita mengatasinya bertolak dari pikiran bahwa kehidupan kita sangat bernilai dan menghidupkan. Kehidupan yang bernilai adalah kehidupan yang senantisa memahami bahwa tanggapan kita bertolak dari kesediaan untuk diubah oleh Firman Tuhan dan cara pandang kitapun akan berubah tentang kehidupan ini.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|