Dibaca : 19611 x
KhotbahMinggu, 1 Juli 2018 Yesaya 50: 4-9 KETAATAN ANTARA UTOPIA DAN PROTOPIA

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Tantangan besar yang dihadapi umat percaya saat ini bukan hanya dari luar drinya sendiri tetapi yang cukup menyedihkan adalaha bangunan berpikir tentang kebenaran Allah yang utopis (khayalan). Kebenaran Allah dipikirkan oleh manusia dengan pendekatan yang mengangungkan pemahaman bahwa kebenaran-Nya adalah utopia. Jika kebenaran Allah itu dianggap khayalan (utopis) maka segala perilaku yang yang menentang kebenaran Allah hanya dianggap biasa saja. Maka dengan segera kita berjumpa dengan aktifitas `rohani� yang gegap gempita tapi tidak menukik dalam kehidupan setiap hari. Para pemangku tugas pelayanan tidak lagi memiliki kepekaan kesadaran yang holistik sebaliknya sebaliknya menganggap kesatuan rohani-jasmani sebagai suatu khayalan.
Tidak mengherankan jika para `murid� dengan mental begini akan membangun pemahaman bahwa kebenaran Ilahi adalah sebuah utopia. Bertindak bebas dalam dosa lalu dianggap biasa sebab akibatnya tidak dirasakan secara langsung. Peribadahan yang meliputi seluruh aspek kehidupan lalu direduksi hanya urusan diwaktu dan tempat tertentu. Spritualitas yang utopis ini menjadi gejala umum sebab manusia tidak berpikir panjang tetapi hanya temporer dan dangkal.
Yesaya menyatakan bahwa seorang yang disebut sebagai hamba Tuhan adalah orang yang memandang dirinya secara utuh. Keutuhan yang didapat dari sebuah ketaatan lebih bermutu dari sikap reaktif yang diperlihatkan umat. Allah memberi LIDAH seorang murid (ayat 4) hendak memberi penjelasan bahwa KATA dan AKTA merupakan kesatuan. Kata hanya berarti ketika muncul dalam akta yang bermutu. Kata dan akta bukanlah sebuah khayalan, maka kata dan akta mengendap dalam diri dan muncul dalam untaian keindahan yang hidup. Jika KATA dan AKTA bersifat utopis maka dengan segera kita mengalami kegersangan hidup sebab semua hanyalah khayalan.
Allah membuka telinga (ayat 5) yang menuntut sang nabi untuk memiliki kepekaan dari beragam suara yang perlu dipilah. Telinga yang tidak peka terhadap kebenaran adalah telinga yang senang dengan khayalan. Telinga yang mengalami distorsi berita sedemikian rupa memerlukan penyaring yang akan menghasilkan butir-butir kebenaran yang indah. Semua ini penting sebab lidah dan telinga bukanlah sebuah khayalan tetapi kenyataan yang harus kita rawat.
Dengan begitu maka kita diundang memasuki kebenaran yang hakiki dan bukan keadaan yang utopis. Kebenaran utopis akan membuat kita menjadi pribadi yang merendahkan apa KATA TUHAN dan meruntuhkan apa KEHENDAK TUHAN. Maka yang terjadi adalah hidup beribadah tapi kelakuan tidak BERIBADAH (bandk. Roma 12:2)
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi
Ketaatan seorang hamba adalah ketaatan yang harus dibangun pelan tapi pasti untuk menyatakan bahwa kebenaran Allah pasti terwujud. Protopia adalah kemajuan kecil yang berkelanjutan dan tidak terpesona dengan ide kesempurnaan (RF). Jika utopia bersifat khayalan maka sebaliknya protopia menyatakan realita. Realitas tidak dipahami sebagai sesuatu yang final tetapi terus mengalami perubahan. Dalam perspektif demikian maka perubahan yang berlangsung pelan tetapi pasti adalah kepastian yang Alkitabiah.
Yesaya menunjukkan realitas umat melalui narasi tentang penderitaan (ayat 6) tetapi juga melihat penyertaan Allah sebagai realitas (ayat 7). Jadi pertolongan Tuhan bukanlah utopis namun terjadi setahap demi setahap dalam sebuah proses protopia. Setiap kita memasuki hari baru kita sedang memasuki kebaikan Allah yang baru sehinga kita mengalami pembaruan untuk lebih baik dari hari kemarin.
Kita perlu memahami dengan sungguh-sungguh bahwa tindakan Allah tidaklah utopia tetapi protopia. Kita bisa saja mengalami berbagai pergumulan dan tantangan dan ini adalah kenyataan tetapi jangan lupakan bahwa pertolongan Tuhan adalah kenyataan juga. Seluruh pemahaman kita tentang tindakan Allah yang demikian akan membuka ruang karya kita selaku hamba yang terasah telingan dan lidahnya.
Sahabat-sahabat terkasih
Memang kita harus terus berjuang di dunia `virtual reality� - nyata tapi maya namun KATA dan AKTA serta KEPEKAAN MENDENGAR adalah sebuah kepastian bahwa hidup kita sungguh dikasihi-Nya. Maka kita perlu bertobat dan sekaligus mengalami pembaruan. Kita patut memahami karya-Nya yang nyata dan tanggapan kitapun harus dinyatakan dalam kehidupan setiap hari. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|