Dibaca : 19400 x
KhotbahMinggu, 10 Juni 2018 Lukas 7: 36-40 BIJAK MENGENAL DIRI

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Bijak adalah frasa yang semakin tidak populer dewasa ini sebab berkonotasi lemah dan tidak bertenaga. Bijak menjadi diksi yang rendah makna sebab dibangun berdasarkan kemampuan intelektual pengetahuan. Sampai di sini persoalan mulai muncul sebab bijak yang abstrak tentu beda dengan bijak dalam tataran implementasi. Ketika bijak tidak menemukan jati diri yang menukik pada peradaban maka bijak hanyalah istilah di dunia imajinasi dan kehilangan makna di dunia nyata.
Kisah dari bacaan ini menunjukkan bahwa ketika kebijakan dimanipulasi dengan keinginan sempit maka yang terjadi adalah pikiran kerdil yang tidak berkualitas. Ketika yang bijak diselimuti oleh arogansi maka hadirlah kebajikan semu yang dipoles kemunafikan. Ketika tutur kata tidak lagi memberi petunjuk tentang perjalanan hidup tetapi menjadi ungkapan hati yang membara dan penuh kebencian. Ketika airmata tidak lagi mampu mengubah sudut pandang penuh hukuman dan kesombongan rohani. Disana berdiri Yesus yang dengan lantang mengubah struktur berpikir yang umum berlaku.
1. Perempuan itu berdiri di belakang Yesus dan tanpa sungkan memberi airmata, rambut yang ada pada dirinya sebagai bentuk hormat kepada sang Rabbi. Ia tidak segan mendemonstrasikan tindakan yang dipicu oleh kesadaran bahwa ia seorang pendosa. Di sisi lain sang farisi dengan mata tajam menghujam peristiwa yang dilihat banyak pihak. Sang farisi menunjukkan bahwa ia sejajar dengan sang Rabbi sementara perempuan ini menundukkan diri di bawah sang Rabbi. Di sinilah garis pembeda segera muncul sebab sang Rabbi menunjukkan penerimaan sementara sang farisi menunjukkan penolakan. Simon orang farisi memperlihatkan identitasnya yang dibangun dengan arogansi sementara sang perempuan tampil bersahaja dengan identitas sebagai pendosa.
Sikap Yesus yang menerima pelayanan sang perempuan berdosa menunjukkan bahwa ada penolakan dari sang farisi. Ketik Yesus membangun kultur baru yakni kultur Kerajaan Allah yang mengampuni, farisi membangun teologi penolakan dengan argumentasi menghakimi.
inilah kabar baik bahwa didalam tindakan Yesus selalu hadir kesempatan untuk memperbaharui termasuk sang farisi. Kita semua mendapat pemahaman yang melampaui pikiran kita sendiri bahwa Ia sudi membangun relasi berkualitas yang tidak memberi ruang pada relasi penghakiman.
Di tangah krisis kemanusiaan yang menghina dan melecehkan sesama, ketika sikap hidup tidak perduli menjadi tema pokok manusia modern dan ketika relasi manusia dengan sang pencipta diarahkan pada relasi transaksi, pada titik inilah kita diingatkan bahwa mengenal diri sendiri merupakan pintu masuk menuju terbentuknya kultur kepeduliaan. Gereja tidak hadir untuk dirinya sendiri tetapi hadir untuk mewartakan kabar baik bahwa airmata yang kecil bermakna besar bagi Tuhan. Bahwa kesediaan untuk memberi yang terbaik melalui tindak kecil merupakan sebuah tanggapan atas kasih karunia-Nya yang besar.
2. Yesus yang berpaling adalah Yesus yang berpihak pada pembaruan diri seseorang (ayat 44). simon yang cerdas ternyata dangkal dalam memahami karya Allah. Maka ketika Yesus berpaling kepada perempuan berdosa itu, Ia menunjukkan tindakan yang bijak yang tidak diterima oleh Simon.
Maka jelaslah bahwa motivasi Simon untuk makan dengan Yesus bukanlah supaya ia menemukan ide dan gagasan baru tetapi memperkokoh penolakan pada perempuan tersebut. Dengan kata lain adalah penolakan terhadap maksud Allah (ayat 30) sehingga kabar damai sejahtera mengalami penolakan. Penolakan terhadap kasih karunia merupakan penolakan yang menjerumuskan seseorang pada tingkatan yang paling rendah sekalipun pengetahuan tentang kitab suci adalah yang terbaik.
Pada bagian ini hendak ditegaskan bahwa pengetahuan saja tidak cukup tetapi diperlukan kemauan untuk mewujudkan oengetahuan tersebut dalam aksi (band. Roma 5: 8)
Maka jangan sia-siakan waktu kehidupan yang Tuhan anugerahkan, agar kita semua tetap mengandalkan Tuhan dan berlaku bijak dalam respon kepada kasih karunia-Nya. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|