Dibaca : 20325 x
KhotbahMinggu, 25 Maret 2018 Matius 14: 22-26 MENGENAL DAN MENERIMA-NYA

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Peristiwa para murid yang berhadapan dengan gelombang di danau Galilea bukanlah yang pertama kali dialami. Di Matius 8: 23-27 juga mengetengahkan peristiwa angin ribut yang menyerang perahu para murid. Perbedaan yang muncul adalah jika diayat 8 para murid panik dengan gelombang dahsyat maka hal itu tidak terlihat kuat di pasal 14. Sekalipun angin sakal menyerang dan gelombang bertubi-tubi menghantam (ayat 24, battered by waves - Message Bible) reaksi para murid tidak sama dengan di pasal 8: 23-27). Mereka justru ketakutan ketika melihat Yesus berjalan di atas air dan ketakutan itu mengaburkan pandangan mereka terhadap Yesus.
Peristiwa gelombang yang dialami oleh para murid didahului dengan sikap Yesus yang mendesak para murid untuk naik ke perahu ( ayat 22 - He insisted - Message Bible) dan menyuruh orang banyak itu pergi kemudian memisahkan diri dan berdoa. Setelah kerumunan orang banyak kini Yesus berada dalam kesedirian-Nya dan berdoa. Ia selalu mengambil waktu untuk mengungkapkan isi hati-Nya dalam doa kepada Bapa. Ia berada dalam hubungan yang akrab dengan mengarahkan semua indera-Nya kepada Bapa.
Dalam konteks demikian maka kehadiran Yesus bukanlah untuk diri-Nya sendiri melainkan untuk manusia. Kekuatan dan ketahanan-Nya mengalami derita bertolak dari kekuatan besar yang keluar dari dalam diri-Nya. Kekuatan kasih yang memberi perspektif yang baru tentang kehidupan manusia. Jika sebelumnya manusia mengalami kehidupan yang tanpa pengharapan maka dalam perjumpaan dengan Yesus pengharapan itu menguat. Memandang kepada Yesus tentulah memerlukan kesediaan untuk tidak memandang ke tempat lain seperti Petrus. Memandang kepada Yesus lalu menumbuhkan keyakinan yang besar bahwa hidup seseorang sungguh amat berarti. Doa adalah elemen penting dalam kehidupan manusia yang percaya kepada-Nya sebab melaluinya (doa) setiap orang beriman memperkuat pengakuan atas kedaulatan Tuhan. Doa bukanlah alat untuk mengendalikan-Nya tetapi sebaliknya doa adalah kesediaan untuk mengakui kedaulatan-Nya.
Yesus yang berdoa mempertebal keyakinan kita bahwa doa bukanlah sebuah tindakan mekanis yang berlangsung tanpa rasa dan nalar tetapi sebuah ‘pandangan’ yang tertuju kepada-Nya dan bukan yang lain. Maka Yesus yang berjalan di atas air hendak mengetengahkan pandangan demikian:
1. Tuhan memerintahkan kita semua untuk menjadi persekutuan yang taat kepada-Nya. Ketaatan kepada Tuhan merupakan hal penting dewasa ini ketika gelombang keduniawian menghantam bertubi-tubi. Kita bertemu dengan gelombang kehidupan yang bagaikan angin sakal dapat mengaburkan pandangan kita tentang siapa Yesus sebagaimana para murid menyebut-Nya hantu. Di minggu palmarun ini, kita semua dapat mengurai satu demi satu persoalan yang kita hadapi sembari mengarahkan pandangan kepada-Nya. Gelombang jaman sungguh luar biasa sehingga diperlukan kesediaan untuk mengarahkan pandangan kita kepada-Nya secara benar.
Dalam keluarga yang bertemu dengan banyak peristiwa dan beragam maka diperlukan kesediaan kita semua untuk tetap menjadi satu. Maka persoalan dan pergumulan bukanlah alasan untuk mengabaikan Tuhan sebaliknya ketika kita mengabaikan-Nya maka tenggelamlah kita di tengah gelombang dunia ini.
2. Melalui peristiwa berjalan di atas air hendak diteguhkan keyakinan para murid bahwa mempercayakan diri kepada-Nya adalah tindakan totalitas. Kita bisa saja berkata ‘ah Tuhan, berat nian persoalan hidup-ku’ dan Ia pasti menjawab ‘tenanglah, jangan takut’. Setiap tindakan yang dimulai dengan memandang Yesus akan meneguhkan kita bahwa teriak minta tolong kepada-Nya (ayat 30) adalah sebuah pengakuan bahwa Ia pasti bersedia untuk menolong. Godaan terbesar jaman ini adalah kita berseru pada Yesus hanya ketika semua jalan sudah buntu sebab kita mengandalkan kekuatan diri. Diperlukan kemauan yang serius untuk mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah yang membebaskan (ayat 33). Diperlukan kerendahan hati agar tiba pada kesimpulan bahwa Ia mengumpulkan kita sebagai persekutuan yang mengaku kedaulatan-Nya atas segala sesuatu.
Sahabat-sahabat yang terkasih,
Maka sudah saatnya bagi kita untuk belajar bahwa dalam kehidupan yang bergelombang, Ia selalu menyertai kita. Kita perlu mempertajam pandangan kita kepada-Nya agar mampu menghadapi gelombang dunia ini sambil mengakui Yesus Kristus adalah Anak Allah. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|