Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Dosa menghadirkan kekuasaan yang merusak relasi antar manusia, manusia dengan Allah dan manusia serta lingkungannya. Keberdosaan manusia menukik pada tindakan yang berujung pada kegagalan manusia mewujudkan perannya yang paling hakiki yakni menyembah Allah (band. Kel. 9:1, Hak. 10:10 dsb).
Penyembahan kepada Allah merupakan tindakan responsif manusia atas segala karya Allah yang telah direncanakan dan ditetapkan-Nya. Dosa bukanlah sekedar perbuatan yang menentang Allah sebab dosa hadir dengan kuasanya yang hendak menggeser kedaulatan Allah. Dosa meruntuhkan tatanan yang baik dan menggantikannya dengan tatanan baru yang destruktif/merusak. Pada gilirannya dosa kemudian menyebar bagai virus yang mematikan dan menguasai perilaku manusia yang membuka tangan menyambutnya.
Maka dosa dengan segala implikasinya merupakan racun yang mendangkalkan pengetahuan tentang kebenaran dan menggantikannya dengan rumus kehidupan yang baru yang mematikan. Cara paling ampuh untuk terus hidup dalam dosa adalah dengan berpikir bahwa manusia tidak berdosa sehingga sikap permisif terhadap dosa membumbung tinggi.
Sahabat-sahabat yang terkasih,
Sikap hipokrit dari dosa adalah selubung yang menutupi jiwa-raga manusia dalam upaya pembenaran diri - yang celakanya- dikemas dengan ayat-ayat suci. Ulangan 10:12 memberi penegasan bahwa beribadah kepada-Nya berarti bersikap jujur dan tulus di hadapan-Nya sehingga setiap lekukan kehidupan tidak tersembunyi.
Berdasarkan pemahaman demikian maka bagian yang kita baca saat ini merupakan gambaran betapa destruktif, hipokrit dan permisif merupakan kenyataan dosa. Manusia melakukan dosa sebab sejak dari hatinya kecenderungan itu sangat kuat (ayat 5). Jika kecenderungan yang adalah olah pikir sudah dirasuki dosa maka yang muncul adalah perilaku kejahatan terhadap Allah. Batasan antara Allah dan manusia telah mencair sehingga manusia merasa tidak berdosa ketika berbuat dosa. Inilah kejahatan luar biasa yang sistematis dan menyentuh semua lekuk kehidupan manusia.
a. Dosa dalam perkawinan
Ketika seluruh kecenderungan manusia adalah kejahatan maka lembaga yang dirasukinya adalah keluarga (band ayat 2). Ralasi laki-laki dan perempuan yang mestinya penuh hormat dan murni kini dirasuki oleh kesewenangan laki-laki. Otoritas yang dimiliki adalah otoritas merendahkan perempuan. Perempuan hanyalah pribadi pemuas keinginan manusia untuk mendapatkan kepuasan. Perkawinan tidak lagi menjadi ruang perayaan tentang kehidupan namun direndahkan oleh manusia yang dikuasai dosa. Keluarga sebagai wilayah dimana laki-laki dan perempuan dijunjung tinggi martabatnya telah berubah menjadi rendah kualitasnya sebagai wilayah dominasi atas segala sesuatu.
Keluarga tidak lagi hadir sebagai perwujudan rencana dan karya Allah tetapi digelapkan oleh kecenderungan jahat manusia yang memuja penyelewengan. Kenyataan bahwa keindahan keluarga telah dimanipulasi oleh dosa dapat kita jumpai hingga masa kini ketika manusia tidak merasa berdosa untuk meruntuhkan nilai keluarga yang murni dan mempesona.
Berbagai kejahatan manusia dalam keluarga telah terbukti menimbulkan efek destruktif terhadap tujuan mulia pembentukan keluarga. Tidak mengherankan bahwa keluarga menjadi fokus dari iblis untuk terus dihancurkan. Ketika ukuran kesejahteraan hanya didasarkan pada mamon telah menggerus waktu ideal yang diperlukan oleh suami-istri maupun orangtua-anak. Ketika ukuran sukses keluarga hanya dipahami dalam perspektif ‘aku’ dan bukan ‘kita’ telah membawa kesengsaraan bagi banyak pihak (pasangan maupun anak).
Maka pertobatan merupakan satu-satunya jalan pemulihan sehingga kematian keluarga dapat terhindar. Pertobatan diperlukan oleh kembali mempertajam kepekaan tentang kehadiran Allah sehingga hubungan dengan Allah dibalut dengan cinta yang kuat. Kata memang penting namun dalam diam hati berbicara tentang berjuta kalimat pemujaan terhadap-Nya.
b. Benci dan Cinta Allah
Hukuman Allah bagi manusia (ayat 7) tetap tidak dapat menghapus cinta-Nya pada manusia (ayat 8). Nuh merepresentasikan generasi baru - generasi kasih karunia Allah. Ia mencintai manusia dengan memelihara Nuh namun sekaligus Ia menunjukkan kedekatan-Nya dengan manusia melalui frasa "menyesal" (ayat 6). Hati-Nya terluka oleh perilaku manusia dan dari hati yang sama Ia menyatakan kasih-karunia-Nya.
Penyataan rasa sedih dan sakitnya hati Allah sekaligus dikokohkan oleh kerinduan-Nya melihat manusia mengalami damai sejahtera. Sekalipun tsunami kegeraman-Nya meruntuhkan kepongahan manusia namun teduhnya kasih Allah melahirkan pengharapan yang kokoh.
Seluruh narasi tentang kasih-Nya yang terwujud dalam Kristus Yesus hendak memberi peringatan yang mendasar bahwa Ia hadir di tengah manusia dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dalam nilai kasih. Ia bertindak dalam keluarga agar setiap suami-istri menemukan kembali keindahan dan keagungan cinta kasih yang saling menghargai dan melengkapi. Ia mendemonstrasikan kegelisahan hati-Nya terhadap pengaruh dosa dan sekaligus mewujudkan cinta kasih-Nya yang tidak tergoyahkan. Ia menyatakan kepada manusia bahwa sampai selamanya Ia tidak kompromi terhadap dosa yang memutuskan ikatan persekutuan seba kasih karunia-Nya selalu mengikat manusia dalam hubungan yang mempesona.
Maka bagi kita sekarang, tidak ada alternatif lain dalam merawat keindahan kasih Allah kecuali pertobatan yang sungguh-sungguh. Sehingga setiap kehidupan manusia menemukan damai sejahtera-Nya yang membangun, yang inklusif dan memadamkan kobaran api kejahatan. Semua itu dimulai dari rumah sebab pada akhirnya kita akan kembali ke rumah-Nya. Amin.