Dibaca : 30510 x
KhotbahMinggu, 18 Juni 2017 1 Korintus 7: 1-11 MENIKAH ATAU LAJANG ADALAH KARUNIA

Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus Kasihi,
Salah satu pokok perhatian Paulus kepada jemaat di Korintus (di samping pokok-pokok lainnya) ialah masalah keluarga. Pada pokok masalah soal perkawinan ini Paulus menyatakan bahwa menikah bukanlah soal sederhana. Soal hanya soal rasa cinta tetapi ada banyak hal yang perlu menjadi perhatian. Berkeluarga adalah persoalan yang tidak sederhana sebab memerlukan pemahaman yang mendasar dan visioner. Artinya dalam pernikahan Kristen ada tujuan jelas yang memengaruhi keputusan untuk hidup bersama. Hal ini bukan perkara sederhana sehingga Paulus perlu mengemukakan di ayat 28 demikian:
Tetapi kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa.
Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa.
TETAPI ORANG DEMIKIAN AKAN DITIMPA KESUSAHAN BADANI
DAN AKU MAU MENGHINDARKAN KAMU DARI KESUSAHAN ITU.
Pernyataan Paulus ini merupakan jawaban bahwa soal perkawinan bukan hanya sekedar menghindari percabulan tetapi kesediaan untuk memasuki keadaan yang penuh tantangan. Maka ketika suami-istri mengalami konflik, itulah yang diingatkan Firman Tuhan ini bahwa persekutuan sebagai suami-istri harus dimaknai sebagai persekutuan yang melampaui kebutuhan daging semata. Maka beberapa hal yang perlu menjadi perhatian kita saat ini ialah:
1. Suami-istri perlu memenuhi kewajiban mereka (ayat 3). Terbentuknya persekutuan suami-istri tidak lagi mengedepankan HAK. Jika hanya memperhatian HAK maka kelenturan relasi yang memerlukan banyak penyesuaian merupakan keadaan yang sulit terpenuhi. Kewajiban menempatkan suami-istri untuk lebih dahulu memperhatikan pasangan. Kewajiban akan memberi pengertian kepada suami-istri untuk selalu mendorong pasangan semakin lebih baik. Kewajiban lalu membuka ruang penghargaan kepada perempuan bahwa perempuan bukan obyek kebutuhan seksual sebagaimana yang terjadi di Korintus. Hak perempuan tidak lagi didominasi atau ditentukan oleh perempuan tetapi didasarkan pada kewajiban pasangannya yakni suami (ayat 4). Melalui pengakuan yang demikian maka suami-istri dengan segala kewajiban mereka menemukan keindahan persekutuan yang berbasis pada kerinduan memenuhi kewajiban.
Faktor utama dalam memenuhi kewajiban adalah Komitmen suami-istri. Komitmen yang berpengaruh terhadap cara pandangan masing-masing pasangan (band. Amsal 23: 7). Apa yang menjadi pikiran seseorang akan berpengaruh terhadap caranya memperlakukan pasangan. Ketika pikiran terhadap pasangan adalah pikiran yang dikuasai oleh pikiran mengasihi Allah maka pasangan adalah mulia. Pasangan menjadi bagian dari diri sendiri sehingga setiap perlakuan yang menghormati pasangan adalah sikap yang tidak memberi celah bagi iblis (band. Ayat 5). Kebutuhan biologis tidak lagi dikendalikan oleh kemauan iblis yang merendahkan, memanipulasi, dan bersifat destruktif tetapi terkendali dalam pikiran yang kuat tentang mengasihi Allah.
2. Tidak kawin adalah karunia (ayat 7). Nasihat Paulus tentang tidak menikah merupakan nasihat yang tidak merendahkan perkawinan. Nasihat Paulus lebih disebabkan oleh pandangan waktu itu tentang keharusan untuk menikah. Jika seseorang memutuskan untuk tidak menikah sebagai keharusan sebagaiman keharusan untuk menikah maka yang terjadi adalah hilangnya nilai mulia dari menikah atau tidak menikah. Jika menikah bukan sebuah keharusan maka tidak menikahpun bukanlah keharusan sebab Paulus meningatkan adanya bahaya percabulan (ayat 9). Dengan demikian maka peringatan Paulus lebih diarahkan kepada sebuah keputusan yang mendasar yang pondasinya adalah kemuliaan Allah yang terwujud melalui salib Yesus (bacalah 1:18). Salib Kristus menjadi padanan yang hendak ditanam sebagai tolok ukur perilaku umat Tuhan. Jika salib kristus demikian posisinya maka kehidupan tidak menikahpun harus dilihat dari sudut yang demikian.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Melalui pemberitaan ini hendak dikemukakan bahwa baik menikah atau melajang keduanya harus dipahami sebagai karunia Allah yang kudus. Artinya baik menikah atau lajang tidak melihat kebutuhan biologis sebagai yang utama tetapi salib Kristus. Maka cara pandang terhadap sikap yang diambil setiap orang haruslah dalam perspektif kemuliaan Allah. Artinya milikilah pikiran yang sehat terhadap pasangan dan milikilah pikiran yang sehat juga bagi mereka yang melajang. Dengan demikian kehidupan sebagai umat Tuhan lalu di tentukan oleh bagaimana kita mengasihi Allah dan mengasihi sesama.
Maju terus bersama Tuhan Yesus, sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih lelah kita tidak sia-sia. Amin

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|