Dibaca : 27122 x
KhotbahMinggu 5 Maret 2017 Ayub 6: 1-13 PILIH UNTUK PULIH
Secara umum manusia senantiasa mencari jawaban atas semua peristiwa yang dialami. Jawaban atas pertanyaan yang diajukan akan menjadi pengalaman untuk peristiwa berikut. Posisi manusia yang demikian akan menolak setiap kekosongan jawaban bahkan manusia membenci tiadanya jawaban atas pertanyaan yang diajukannya. Misalnya ketika manusia mengalami sakit, maka selain berusaha mengatasi penyakit yang dialami, manusia juga bertanya apakah perbuatan, apakah tanda, apakan pesan dan berderet pertanyaan yang sama.
Kitab Ayub termasuk salah satu kitab hikmat selain Amsal yang berusaha untuk bisa memahami realitas dengan perspektif iman. Kenyataan yang dinilai normal dan berlangsung secara teratur merupakan sesuatu yang baik namun ketika jawaban atas kebajikan adalah sebaliknya maka di titik ini terjadilah pergulatan iman.
Ayub yang digambarkan sebagai seorang yang taat pada aturan keagamaan (1:4-5) yang kemudian menjadi subyek diskusi antara Allah dan iblis (ayat 8). Kehadiran Ayub sebagai seorang yang setia pada Allah kini diperhadapkan dengan ajakan kuat dari iblis melalui berbagai pergumulan untuk mengutukinya. Kontstruksi berpikir yang logis kini diperhadapkan dengan realiatas yang tidak logis. Inilah inti perdebatan Ayub dengan sahabatnya dan sekaligus menjadi pertanyaan mendasar dari Ayub bagi Allah.
Pada pasal 6 ini terlihat bagaimana gagasan Ayub dan sahabat-sahabatnya yang logis, normatif kini berhadapan dengan kenyataan yang luar biasa. Sifat luar biasa dari keadaan ini tergambar dalam narasi:
1. Ayat 1-7, inilah jawaban Ayub terhadap Elifas sahabatnya. Elifas memberi gambaran tentang seorang yang jahat (Ayub 4:8) akan menuai kebinasaan. Alasan Elifas bahwa kesusahan dan bencana tidak berasal dari luar diri Ayub tetapi dari dalam diri Ayub sendiri (Ayub 5: 6-7). Semua ini memberi gambaran betapa gentingnya hidup dan betapa rentan kehidupan yang dijalani oleh Ayub. Maka jawaban Ayub dalam ayat 1-7 hendak memperlihatkan bahwa Ayub tetap menggambarkan dirinya sebagai yang seorang yang taat. Namun ketaatan yang dinyatakan olehnya kini mendapat jawaban yang memilukan dari Allah.
Di ayat 2 dikemukakan bahwa penderitaan dan kekesalan Ayub setara dalam timbangan. Artinya penderitaan Ayub dan pertanyaan Ayub tentang penderitaannya seimbang. Ayub bertanya tanpa jawaban dan penderitaan hadir tanpa alasan. Maka seluruh eksistensi Ayub diserapnya dalam pikiran yang kuat bahwa ia tidak melakukan apa yang bertentangan dengan kehedak Allah. Hukum sebab akibat yang selama ini diyakini mendapat kritik tajam dari peristiwa Ayub. Hukum sebab akibat atau tabur tuai memang masuk akal dan disenangi namun dalam kehidupan ini hukum sebab akibat atau tabur tuai tidak selalu pararel dengan rencana dan kehendak Allah.
Refleksi
Kadangkala dalam kehidupan yang dijalani umat, pengalaman Ayub menjadi relevan. Bukan soal penderitaan saja namun soal yang lebih mendasar yakni relasi manusia dengan Allah dipahami manusia dengan konsep transaksional. Artinya setiap perbuatan baik manusia selalu dijawab Allah dengan perbuatan yang baik (perhatikan alasan iblis dalam dialog dengan Allah dipasal sebelumnya).
Maka setiap penderitaan selalu dilogikan sebagai bagian dari hukum sebab-akibat. Penderitaan hendak dipahami dalam perspektif transasksional. Inilah model penderitaan yang akan membuat manusia semakin tenggelam dalam keputusasaan ketika tidak mampu memahami penderitaan yang dialami.
Maka setiap penderitaan seharusnya disikapi dengan kesetiaan kepada Allah dalam pemahaman yang benar. Allah tidak merancang penderitaan tetapi penderitaan bisa hadir tanpa permisi. Logika berpikir iblis memang memuaskan untuk sementara namun tidak menjawab masalah secara fundamental.
Penderitaan Yesus tidaklah mudah dipahami manusia dalam perspektif hukum tabur tuai. Sebab apakah yang telah dilakukan-Nya sehingga Ia pantas menderita? Dalam konteks minggu sengsara, umat diajak untuk memahami bahwa Yesus memasuki jalan penderitaan sebagai inisiatif untuk menyelamatkan manusia. Jalan penderitaan dipilih-Nya dalam kesadaran yang utuh sebagai Juruselamat. Bukanlah bagian kita untuk mempertanyakan hal ini sebab yang utama adalah menghayati bahwa dalam penderitaan-Nya penderitaan manusia tidak menghempaskan pengharapan.
2. Ayat 8-13.
Pada bagian ini diperlihatkan situasi Ayub yang lemah, baik secara fisik maupun secara spiritual. Dalam diri Ayub ada dua kekuatan yang saling tarik menarik antara kesetiaan pada Allah dan penderitaan yang dialami. Dua hal ini membuat Ayub berada dalam kegamangan untuk mencapai ujung pergumulannya. Ayub tetap berusaha taat kepada Allah namun di sisi lain kenyataan yang dialaminya seolah mematahkan ketaatannya.
Doa Ayub pada bagian ini dianggap sebagai satu jalan keluar yang paling baik untuk mengatasi semua pergumulannya. Doa Ayub menunjukkan bahwa ia bergulat dengan kebenaran yang diyakininya dan pergumulan yang dialami. Maka dalam doa ini Ayub mencari pembenaran melalui kematian sebab dengan demikian Allah berada pada posisi yang salah. Inilah keadaan yang disukai oleh iblis, yakni Ayub akan kehilangan pondasi imannya kepada Allah dan mempersalahkan Allah atas semua peristiwa yang dialaminya.
Refleksi
Jika pengenalan akan Allah menjadi jawaban atas setiap persoalan, maka penderitaan bisa menjadi pergumulan hebat bagi manusia. Manusia merasa bahwa pengenalan akan Allah menjadi pintu masuk untuk dapat mengalami kesejahteraan, damai sejahtera, sukacita dan semua yang baik. Maka kepahitan dan penderitaan hanya pantas bagi mereka yang tidak mengenal Allah.
Logika berpikir seperti inilah yang hendak diruntuhkan, sebab pengenalan akan Allah tidak selalu berujung sejahtera. Pengenalan akan Allah seharusnya berujung pada kekuatan dalam loyalitas ketaatan. Maka pengenalan akan Allah tidak mengalami turbulensi sekalipun mengalami penderitaan. Dalam Kolose 1:9-10 dikemukakan bahwa pengenalan akan Allah menjadi sangat berarti untuk terus mengemukakan jati diri sebagai pengikut Yesus.
Maka secara keseluruhan hendak dikemukakan bahwa hidup manusia tidak bertumpu pada ketaatannya terhadap Allah tetapi terhadap Allah yang memasuki penderitaan bagi manusia. Artinya hidup manusia yang taat kepada Allah merupakan jawaban/tanggapan (good responder) terhadap seluruh karya Allah. Sehingga percaya kepada-Nya selalu berujung pada pengharapan yang tidak sia-sia (Roma 5:5)

Pdt. Alexius Letlora D.ThPendeta di GPIB Jemaat “Sumber Kasih” Jakarta Arsip Khotbah:Minggu, 25 Juli 2026 HIDUP DALAM TERANGMinggu 21 Juni 2026 TELADAN KRISTUS DALAM HIDUP BERSAMAMinggu, 7 Juni 2026 PELAYAN KEBAJIKAN DAN KEBENARANMinggu, 24 Mei 2026 ROH KUDUS MENGANGKAT MARTABAT MANUSIAMinggu, 31 Mei 2026 KETAATAN MENDATANGKAN KEBAHAGIAANMinggu, 19 April 2026 IRI HATI MEMADAMKAN KASIHJumat, 3 April 2026 GEMBALA BAIK MEMBERIKAN NYAWANYAMinggu 22 Februari 2026 UANG: KEPADA ATAU TENTANGMinggu, 5 April 2026 PASKAH: ALLAH YANG BERPIHAK PADA KEHIDUPANMinggu 15 Februari 2026 SPIRITUALITAS MEMBERIArsip Khotbah..
Last Searches:
Fatal error: Uncaught Error: Call to undefined function mysql_query() in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php:518
Stack trace:
#0 {main}
thrown in /var/www/vhosts/ratingtop.com/aletlora.com/index.php on line 518
|